Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 135



Tio akhirnya masuk ke dalam ruangan itu sambil menunduk. Ia tidak ingin terkena semprot hanya karena kesalahannya itu. Jujur ia sangat trauma sekali karena sering memergoki Budiman bersama Kanaya. Ketika memergokinya Tio selalu saja terkena sial ataupun hukuman yang di luar nalarnya sendiri.


"Maafkan Aku. Aku tidak seharusnya masuk ke sini," ucap Tio dengan cepat.


"Seharusnya kamu masuk ke dalam sini tanpa mengetuk pintu sama sekali," sahut Budiman.


"Masalahnya bukan begitu. Aku ini masih trauma dengan hukumanmu yang di luar nalarku sendiri. Sekarang aku nggak mau terkena hukuman itu," ujar Tio dengan jujur.


"Siapa lagi yang mau ngasih kamu hukuman?" tanya Budiman sambil menghela nafasnya.


"Sebentar lagi meeting para pemegang saham akan dimulai. Semua peserta sudah datang dan memasuki aula meeting tersebut. Kata panitia hari ini sangat spesial sekali. Karena pemegang saham terbesar di perusahaan ini datang ke sini," jelas Tio.


"Ya sudah. Nanti aku akan ke sana bersama Adinda. Tunggu aku di ruangan meeting," ucap Budiman.


"Kalau begitu saya undur diri dulu bos," Tio berpamitan kepada Budiman lalu meninggalkan ruangan itu.


Setelah kepergian Tio, Adinda masih membaca siapa saja yang menjadi peserta meeting kali ini. Jujur dirinya tidak terkejut atas kedatangan para peserta meeting tersebut. Ia tersenyum sambil memandang wajah Budiman dan berkata, "Ada serangan nanti siang. Paman Herman ternyata pemegang saham sebesar lima belas persen di perusahaan ini."


"Aku sekarang pasrah. Aku yakin ada huru-hara setelah ini. Aku akan memilih diam dan kalian bisa menganalisis pekerjaanku sendiri. Kalau begitu ayo kita ke sana," ajak Budiman yang pasrah dengan keadaan dirinya sendiri.


Mereka akhirnya keluar dari ruangan itu lalu masuk ke dalam lift. Di dalam lift mereka tidak berbicara sama sekali. Adinda lebih asik mengecek harga saham gabungan di pasar saham. Setelah itu mereka sampai di lantai delapan. Di sana sudah banyak orang-orang berlalu lalang demi menyiapkan meeting penting ini.


"Ramai sekali ya acara hari ini. Padahal acara kali ini hanya meeting biasa saja," ucap Adinda sambil melangkah di samping Budiman.


"Meetingnya kali ini sangat spesial sekali. Kamu datang dan menampakkan dirimu sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan ini," jelas Budiman. "Padahal kamu sendiri dulu tidak pernah hadir dalam meeting analisa pekerjaanku."


"Karena kamu orangnya nyebelin banget. Bisa-bisa kamu terkena mental hanya karena aku," jelas Adinda.


Adinda melangkahkan kakinya dengan sangat elegan namun angkuh. Ia memang kalau di dunia bisnis dirinya sangat angkuh. Karena ia sering sekali direndahkan sama orang-orang di sekitarnya. Banyak orang mengira Kalau Adinda tidak mampu bekerja sebagai CEO. Akan tetapi Adinda sendiri tidak memperdulikan omongan mereka. Adinda malas santai dan tersenyum sinis kepada mereka. Sebab Adinda sudah membuktikan lewat kerja kerasnya itu.


Sebelum acara dimulai Adinda sudah merasakan hawa yang tidak enak. Suasana di dalam ruangan itu sangat mencekam. Semua mata tertuju kepada Budiman. Mereka sudah menertawakan Budiman karena penjualan saat ini merosot.


Adinda dan Herman sudah memiliki firasat seperti itu. Mereka berdua saling memandang dan berbagi data melalui email. Adinda sudah tahu arahnya ke mana. Bahkan Herman juga sudah menebak Apa yang akan terjadi kali ini.


Setelah itu moderator membuka meeting ini dengan tepuk tangan meriah. Mata Adinda tidak pernah lepas dari orang tua Gilang. Mereka berdua mengangkat wajahnya dan memicingkan matanya sambil mengejek dirinya begitu juga dengan Budiman. Namun Adinda melihat Budiman hanya santai dan tidak terlalu memikirkannya.


Meeting sangat alot sekali. Di dalam ruangan itu banyak sekali penyerangan terhadap Budiman. Untung saja Adinda dan Herman memilih untuk diam. Mereka tidak memperdulikan apa pendapat para peserta meeting tersebut. Ini sangat aneh sekali. Namun Adinda bisa menarik kesimpulan. Yang di mana kesimpulan itu bisa membuat Budiman lengser dari kursi CEO.


Perdebatan semakin sangat panas. Sang pemilik saham terbesar tidak memperdulikannya. Adinda memilih untuk diam dan berbalas pesan ke orang tuanya. Adinda juga curhat kalau meeting kali ini sangat menjenuhkan. Adinda sendiri ingin keluar dari ruangan meeting tersebut.


"Bisakah kalian diam sebentar. Dari tadi kalian semua memojokkan Pak Budiman. Saya juga ingin berbicara kepada kalian. Karena dari tadi kalian tidak mengizinkan saya berbicara sedikitpun!" sela Adinda yang berbicara dengan lantang dan tidak memperdulikan mereka.


Mereka tercengang karena Adinda mulai berbicara dengan lantang. Orang-orang yang berada di sana masih menganggap Adinda sebagai bocah kecil. Namun Adinda tersenyum sinis kepada mereka. Bahkan tatapannya bisa mengintimidasi setiap para anggota.


Sang moderator mengizinkan Adinda untuk berbicara. Adinda mulai membuka tab-nya. Di sana dirinya sudah memiliki banyak data-data tentang Budiman. Soal penghasilan dalam beberapa bulan terakhir tidak naik maupun tidak turun. Budiman sudah sebaik mungkin bekerja untuk mengurus perusahaan ini.


Meskipun membenci Budiman, Adinda sendiri sering memantau Budiman. Bahkan dirinya sendiri sering mencuri data-data Budiman dalam waktu beberapa menit. Adinda tidak perlu meminta bantuan kepada Andara. Dengan senang hati Adinda diijinkan oleh Kartolo untuk mengecek semua pekerjaan Budiman. Alhasil Adinda sendiri sudah mendapatkan data-data konkrit. Adinda menceritakan bagaimana penghasilan beberapa bulan terakhir jalan di tempat. Dengan gamblangnya Adinda sangat santai dan satu persatu memberitahukan.


Baru dapat seperempat perjalanan, seorang wanita paruh baya menghentikan penjelasan Adinda tanpa memberitahukan kepada moderator. jujur bagi Adinda hal ini kurang sopan sekali. Adinda paham dengan siapa dia bicara kali ini. Ia berbicara dengan Ibunda Gilang.


Wanita paruh baya itu langsung menampik penjelasan Adinda. Ia tidak terima apa yang dikatakan oleh Adinda. Ia meminta para peserta di sana untuk membuat polling. Yang di mana paling itu untuk melengserkan Budiman dari jabatannya. Indah malah tertawa. Bukannya merendahkan Adinda tertawa terbahak-bahak bersama Herman. Memang kedua orang itu sangat kocak sekali.


Mereka sangat berani menertawakan wanita paruh baya itu. Karena mereka memperhatikan wanita paruh baya itu sangat asyik dengan ponselnya dan bermain game Candy Crush Saga. Mereka juga tahu kalau wanita paruh baya itu tidak menyimak Apa yang sedang dibicarakan? Namun intinya ia ingin melihat Budiman lengser saat ini juga.


"Perasaan ini meeting sangat aneh sekali deh. Dari tadi aku memperhatikan ibu bermain game di ponselnya itu. Apakah ibu menyimak apa yang kami bicarakan? Apakah ibu bisa menyimpulkan tentang analisis pekerjaan bapak Budiman?" tanya Adinda yang mulai menampakkan jati dirinya di hadapan orang banyak.