
“Ya nggak gimana-gimana lagi. Lagian juga kita sudah memiliki surat nikah. Nanti kasusnya tidak bisa diproses begitu saja. Para polisi itu akan bilang ke kita sudah lanjutkan saja. Kan enak nikah. Apa susahnya sih untuk melakukan hubungan itu setelah resmi menjadi pasangan suami istri?” jawab Adinda yang membuat Budiman tertawa.
“Kamu benar. Ngapain juga kita repot-repot ngurusin soal ini. Aku sekarang ini sedang menunggu keputusan dari para pemegang saham. Kalau aku disuruh pergi maka aku akan pergi. Kalau aku disuruh stay aku akan tetap stay. Inilah yang dinamakan dunia kerja. Nggak semudah orang membayangkan Bagaimana enaknya kerja di kantoran. Atau aku akan mengajakmu tinggal di desa dan membuka peternakan ayam maupun bebek. Kita tidak bersusah-susah untuk bersilat lidah bersama mereka. Yang dipikirkan adalah bagaimana harga makanan yang akan dikonsumsi oleh para ayam dan juga bebek,” jelas Budiman.
“Terus bagaimana dengan restoranmu yang berada di Inggris itu? Apakah kamu akan melepaskannya begitu saja?” tanya Adinda sambil memandang wajah Budiman.
“Bener juga sih. Lebih baik aku akan mendirikan peternakan di negara Eropa. Aku akan mengurus restoran itu bersama para ayam dan juga bebek secara bersamaan. Aku harap kamu tidak akan malu mengakuiku sebagai suami peternak,” jawab Budiman yang memiliki rencana cadangan ketika Sudah dipecat dari perusahaannya itu.
“Ngapain harus malu? Memangnya kamu mencuri? Memangnya kamu berbuat curang? Bukan kah Seorang peternak ataupun petani bisa menyelamatkan banyak nyawa orang di dunia ini? Coba kamu pikirkan kembali tentang omonganmu itu,” jelas Adinda yang memberikan pertanyaan buat Budiman.
“Bener juga ya. Menjadi seorang petani ataupun peternak bisa menyelamatkan banyak orang. Contohnya saja kalau di Indonesia kita membutuhkan beras atau nasi. Jika tidak ada orang yang menjadi petani. Kita makan apa coba. Kalau di Inggris semuanya orang makan gandum. Kalau nggak ada yang menanam gandum dan menjadi peternak. Mereka makan apa? Inilah yang menjadi pertanyaanku. Aku yang menjadi petani kamu yang mengolah duitnya. Siapa tahu nanti kita berdua bisa menjadi pasangan suami istri sukses dalam menjalani kehidupan,” ucap Budiman yang memberikan solusi kepada Adinda.
Adinda menganggukkan kepalanya tanda setuju. Apapun yang akan dikerjakan oleh Budiman, Adinda tidak menjadi keberatan. Seharusnya manusia itu hidup harus banyak-banyak bersyukur. Adinda sudah melihat dan pernah menjadi seperti mereka. Alhasil jika Budiman mengajaknya hidup menderita itu tidak menjadi masalah buatnya.
“Aku tidak menjadi masalah hidup sederhana. Aku ingin membuatmu bahagia dan tidak akan membuat kamu sedih. Karena aku bukanlah dia yang selalu menghabiskan uangmu untuk belanja yang tidak penting. Jujur hari ini aku ingin belanja. Aku akan berbelanja baju di tempat online. Please jangan ganggu aku dulu ya?” pinta Adinda sambil meraih ponselnya dan serius mencari baju.
Budiman hanya mengusap wajahnya berkali-kali. Terkejut! Memang dirinya sangat terkejut sekali. Bagaimana tidak? Budiman melihat sang istri sedang mencari model pakaian. Namun harganya juga tidak semahal yang di dalam pikirannya itu. Sepertinya Budiman harus memberikan uang agar sang istri tetap berbelanja dengan aman dan damai.
Di sebuah rumah mewah, Gina masih saja ngomel tentang kejadian tadi siang. Gina tidak ikhlas jika Budiman masih duduk di kursi jabatan itu. Hingga membuat sang suami kepalanya menjadi pusing. Gina harus mencari cara agar Budiman lengser dari jabatannya itu. Ia sudah mendapatkan calon CEO baru untuk perusahaan Njawe Groups. Apakah seluruh peserta akan mau Budiman digeser dari kursinya itu? Inilah yang membuat Gina harus berbuat sesuatu.
“Bagaimana mah hasilnya tadi?” tanya Gilang yang baru saja datang sambil menaruh jaketnya itu di sofa.
“Mama belum bisa menghancurkan Budiman. Ada seorang perempuan bisa dikatakan masih muda sekali. Perempuan itu membela habis-habisan Budiman. Aku tidak akan membiarkan perempuan itu terus-terusan saja membela Budiman. Katanya sih dia memiliki saham perusahaan itu sebesar tiga puluh persen. Dan kamu tahu sendiri Mama memiliki saham sebesar lima persen. Mama kalah telak dari perempuan itu. Dia seperti ngegas ketika berbicara sama mama,” jelas Gina yang tidak menyukai Adinda.
“Memangnya siapa ma orangnya itu?” tanya Gilang yang sangat penasaran sekali dengan wanita tersebut.
“Sepertinya dia itu orang yang sangat spesial sekali buat Budiman. Dari awal masuk hingga pulang selalu bersama Budiman,” jawab Gina yang tidak tahu nama Adinda.
“oh dia adalah Adinda Susanto. Putri dari Malik Susanto dan Tia Anjasmoro. Dia adalah musuh bebuyutanku. Dia sangat berani sekali mendapatkan tender tujuh triliun itu. Seharusnya tender itu buat aku bukan buat dia. Sampai saat ini aku berusaha untuk merebut dokumen tender itu dari asistennya,” jawab Gilang.
“Lebih baik Kamu rebut saja. Dia memang tidak pantas untuk mendapatkan tender sebesar itu. Mama yakin wanita itu telah berbuat curang agar bisa mendapatkan tender tersebut. Kamu tahu kan apa yang Mama maksud sebenarnya?” tanya Gina yang sengaja membuat teka-teki.
“Pokoknya kamu harus menduduki jabatan itu. Kamu nggak boleh menyerah dan menumbangkan Budiman agar bisa lengser dari kedudukannya. Mama juga akan mencari cara agar mereka tunduk,” tambah Gina.
“Semuanya bisa diatur ma. Aku akan mencari cara agar tidak ketahuan oleh Adinda maupun Herman. Aku sangat membenci kedua orang itu yang selalu ikut campur dalam urusanku,” ucap Gilang yang sedang mencari cara menyingkirkan kedua orang itu.
Mereka bertiga menganggukkan kepalanya dan berdiskusi lebih lanjut. Akan tetapi mereka tidak menyadari kalau kejahatan mereka sudah ketahuan oleh Adinda. Mereka menganggap Kalau Adinda itu adalah wanita lemah dan pandai di atas ranjang. Namun mereka tidak menyadarinya karena Adinda sendiri adalah wanita sangat berbahaya sekali.
Tepat pukul 10.00 malam, Adinda mengajak Budiman masuk ke dalam. Adinda ingin sekali merawat Budiman dengan tulus. Ia tidak akan membiarkan suaminya menderita begitu saja. Ketika masuk Budiman sudah berbaring di atas ranjang. Sedangkan Adinda meraih tabnya dan membaca ada sebuah email yang masuk ke dalam.
“Kenapa kamu tidak tidur sayangku? Bukankah tadi kamu mengajakku tidur?” tanya Budiman yang membetulkan bantal Adinda.
“Aku memang sengaja menyuruhmu masuk ke dalam agar terhindar dari angin Malam. Aku tidak mau kamu sakit hanya diterpa oleh angin malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan tubuhmu. Kamu harus menjaga tubuhmu agar tetap sehat di waktu usia tua nanti,” jawab Adinda yang masih membaca email tersebut.
“Terima kasih kamu telah menyadarkan aku tentang kesehatan tubuh. Kamu sedang baca apa sih kok sepertinya asyik dan membiarkan aku begini?” tanya Budiman yang sengaja memeluk Adinda dari belakang.