
"Kamu itu apa-apaan sih? Sudah tahu mereka sudah besar. Kenapa tambah lagi?" tanya Tia.
"Ya haruslah. Satu lagi ya. Biar Rumah Kita ramai," jawab Malik.
"Satu kata buat kamu tidak. Aku tidak akan memberikan anak lagi ke kamu. Cepat atau lambat Adinda akan memberikan cucu kepada kita. Tunggu saja mereka sedang melakukan olahraga ranjangnya bersama bocah tengil itu," ucap Tia yang sengaja menyebut Budiman tengil.
"Ah iya... Aku melupakan begitu saja. Kalau begitu ya sudahlah. Kita tunggu saja perkembangan dari Singapura. Apakah kita akan diberikan seorang cucu?" tanya Malik sambil tersenyum manis dan membayangkan menggendong seorang cucu.
"Mereka bukan bulan madu ayah. Mereka memang sedang menghadiri pesta Albert," jawab Faris yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Malik.
Malik hampir saja melompat karena ulah Faris. Bagaimana bisa dirinya di kejutan oleh anak sendiri. Memang mereka berdua suka sekali mengerjai satu sama lain. Bagaimana dengan Herman? Herman memilih untuk diam dan tidak ikut campur. Namun Herman ketawa-ketawa sendiri melihat kelakuan ayah dan anak itu.
"Apakah Adinda sudah sampai ke Singapura?" tanya Malik.
"Ya mereka sudah sampai di Singapura. Baru ada setengah jam yang lalu," jawab Herman.
"Lalu bagaimana dengan Gilang? Apakah Gilang akan mengincar Adinda?" tanya Tia.
"Menurut informasi yang aku dengar. Temannya Budiman yang berasal dari luar negeri itu udah stand by di hotel. Kakak tahu kan soal kasus yang lagi viral kemarin? Yang di mana Gilang dideportasi agar tidak bisa kembali ke Inggris. Penyebabnya adalah Gilang menuliskan sesuatu yang tidak mengenakkan buat negara tersebut. Makanya dia langsung dideportase. Selain itu juga bilang dikejar-kejar banyak interpol. Irwan dan Roni juga berkoordinasi dengan aparat setempat. Mereka sudah mengetahui kasus sebenarnya. Mau tidak mau Roni dan Irwan memberikan Gilang kepada pihak interpol Amerika. Mungkin ini yang dinamakan karma secepat jet pribadi milikku," jelas Herman.
Mereka berharap Adinda dan Budiman baik-baik saja di sana. Herman sudah meminta mata-mata untuk menyelidiki keberadaan hilang di Singapura. Hampir beberapa jam Harman selalu mendapatkan sebuah laporan. Yang lebih parahnya lagi, keluarga Gilang pergi dari kamar satu ke kamar lainnya. Mereka mempengaruhi banyak keluarga demi mencapai ambisinya. Herman tidak habis pikir dengan mereka semuanya. Kok bisa orang seperti itu mengejar ambisi dengan menghancurkan orang lain? Kali ini Herman tidak berbicara kepada siapapun. Sebab masalah ini adalah masalah rahasia.
"Kamu kapan berangkat ke Singapura?" Tanya Malik yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Paling nanti malam kami ke sana. Aku sudah menghubungi pihak pengurus pesawatku untuk mengeluarkan jet pribadiku. Tapi untuk saat ini aku belum mengkonfirmasi kapan keberangkatannya," jawab Faris.
"Ya sudah kamu harus berhati-hati," pesan Malik.
Singapura, Singapura.
Adinda, Budiman, Andara dan Tio Baru saja sampai di hotel. Mereka menempati kamar masing-masing. Rio dan Andara sengaja tinggal di kamar yang berbeda kecuali Adinda bersama Budiman.
Baru saja satu langkah masuk ke dalam kamar, Adinda mendapatkan sebuah pesan dari Gilang. Pesan itu adalah pesan yang mengejek. Yang di mana pesan itu sengaja dibuat mental Adinda lemah.
Namun siapa sangka Adinda balik menyerang Gilang. Adinda malah tertawa melihat pesan terkirim tersebut. Budiman yang melihat Adinda tertawa penasaran sekali. Budiman langsung mendekatinya dan membaca pesan tersebut.
"Kamu itu kebiasaan banget sih perang lewat pesan-pesan yang tidak berguna ini," kesal Budiman.
"Justru itu aku malah senang sekali menyerang hilang dengan pesan seperti ini. Semakin lama hilang semakin ngelunjak kalau nggak dibalesin satu persatu. Kamu tahu sendiri kan Gilang itu bagaimana orangnya," ucap Adinda yang menaruh tas kecilnya di meja kecil.
"Aku nggak pandai bersilat lidah. Aku sendiri nggak tahu bisa begini. Itu semuanya gara-gara kamu yang ngajari aku," ujar Adinda.
"Ya sudah taruh itu HP. Jangan dibuat mainan terus. Apa kamu nggak bosan melihatnya hampir setiap detik ketimbang lihat aku?" tanya Budiman.
"Aku nggak bosan sama sekali. Apalagi sama Kak Budiman yang sok tampan itu. Memang sih tubuh kekar, seksi banget, kulit putih dan bermata sipit. Eh ujung-ujungnya takut ular. Gimana sih nih orang," ledek Adinda yang menahan tawanya.
"Puas ya kamu meledekku habis-habisan seperti ini? Sepertinya aku akan membuatmu tidak bisa bangun dalam satu hari," ancam Budiman yang membuat Adinda menantangnya.
"Kalau kamu bisa melakukannya?" tentang Adinda.
"Bener-bener nih orang. Bisa-bisanya kamu menantangku saat ini juga. Berhubung perutku lapar. Jadi kamu selamat dari cengkramanku ini," sahut Budiman yang pura-pura kesal.
"Aku kan hanya menantangmu saja. Bukan menantang orang lain. Kalau menantang orang lain kamu akan menjadikanku sebagai sop daging nanti," kata Adinda yang cemberut kepada Budiman.
"Kamu itu ada-ada saja. Aku sudah tahu isi pesanmu itu. Bahkan isi ponselmu sudah kubaca semuanya. Isinya membuat aku pusing tujuh keliling. Ujung-ujungnya semuanya tentang bisnis, bisnis dan bisnis lagi. Apakah kamu nggak bosan membahas bisnis dengan kolega-kolegamu?" tanya Budiman yang duduk di samping Adinda.
"Mau bagaimana lagi. Ini semua adalah pekerjaan. Jika aku tidak membahas bisnis. Lalu aku membalas apa? Apakah kau harus membahas makanan?" tanya Adinda yang sengaja memegang tangan kekar Budiman.
"Bagus itu. Sekali-sekali kamu membahas banyak makanan. Lagian juga Kamu sangat pandai memasak. Aku dulu sering memakan masakanmu itu. Aku selalu menambah porsi makan," jawab Budiman yang memberikan solusi.
"Apakah kamu nggak takut memiliki seorang istri yang tangannya rusak gara-gara memasak?" tanya Adinda yang sengaja mendekati Budiman.
"Ngapain juga harus takut? Mau tangan kamu halus atau rusak. Itu kan namanya perjuangan seorang istri yang telah merawat suami, anak-anaknya dan juga rumah. Wanita seperti itu harus mendapatkan gelar yang baik dari suaminya. Aku malah suka dengan kamu seperti itu," jawab Budiman. "Apalagi kamu adalah seorang pemimpin yang sangat hebat sekali. Jadi kamu memang pantas mendapatkannya."
"Masa sih? Aku sendiri nggak terlalu percaya soal itu. Aku juga tidak ingin mendapatkan medali apapun darimu. Biarkanlah medali itu kamu simpan dengan baik," ucap Adinda.
"Medali yang aku simpan adalah medali untukmu. Aku sangat mengagumimu ketika mengurusku. Apa yang harus kita lakukan sekarang ini? Di sini kita nggak ngapa-ngapain loh," tanya Budiman sambil menggenggam erat tangan Adinda.
"Kalau nggak ngapa-ngapain? Apakah kamu nggak pengen mengajakku belanja?" pinta Adinda.
"Percuma saja mengajakmu belanja. Ujung-ujungnya kamu protes setengah mati buat aku," jawab Budiman yang mengerti sifat Adinda.
"Hehehe... Kamu tahu saja. Nanti deh kalau sudah pulang. Aku akan belanja banyak pakaian di pasar tradisional," sahut Adinda.
"Apa?" pekik Budiman.