
"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Adinda.
"Apa itu?" tanya Budiman balik sambil menatap wajah Adinda.
"Bagaimana kalau kita tidak usah berkuliah lagi? Sebab kita bisa mengolah kecerdasan di dalam diri," tanya Adinda dengan serius.
"Yang kamu katakan itu benar. Kamu bisa saja belajar lebih giat untuk mendapatkan ilmu. Sebab ilmu itu nggak usah dicari dalam materi kuliah. Di ruangan kerja milik ayahmu itu banyak sekali buku-buku yang menganggur. Terutama pada bisnis dan manajemen. Penulisnya juga sudah sangat terkenal sekali. Kamu bisa membacanya dan memilah ilmunya. Lalu kamu terapkan di dalam diri kamu untuk menangani bisnis. Itu hanya ide dariku saja," jawab Budiman.
"Bagaimana kalau kita rembukan lagi sama keluarga besar? Jika sudah menikah, aku tidak akan tinggal di perusahaan itu selamanya. Kamu dan anak-anakku membutuhkan diriku ini. Jadi aku memilih untuk mengalah demi kepentingan kita masing-masing," kata Adinda.
"Kalau aku sih begitu rencananya. Aku sudah mencapai S3. kamu sudah mencapai S2. Lalu apa yang kamu cari? Kamu adalah seorang wanita. Kamu sudah berkarir di dunia bisnis sejak lama. Seorang wanita itu tidak boleh egois dan mengejar karirnya. Suatu hari nanti dia akan menjadi seorang ibu yang baik. Itulah impianku untuk mendapatkan seorang istri dan keluarga," jelas Budiman.
"Jadi kamu nggak marah kalau aku nggak kuliah S3?" tanya Adinda.
"Ngapain aku marah sama kamu. Justru kamu nggak boleh egois untuk dirimu sendiri. Lebih baik kamu pikirkan saja. Efeknya jika kamu tidak memiliki keluarga yang utuh. Siapa yang akan mau merawatmu nanti? Jadi salah satu ada yang harus mengalah," jawab Budiman.
"Kakak bener sih. Ayah sering banget protes sama aku. Jangan terlalu mandiri jika yang menjadi seorang wanita. Soalnya aku sudah memiliki apa-apa. Aku nggak perlu minta lagi ke kamu. Tapi kalau dipikir-pikir, aku merasa bersalah sama kamu. Aku sudah membuat kamu berdosa. Karena sudah waktunya kamu memberikan jatah bulanan buatku," ucap Adinda.
"Kamu bener. Aku sudah merinci semuanya. Tapi kamunya nggak mau tahu. Aku selalu bersabar hingga kamu sadar akan hal ini. Jangan terlalu egois menjadi seorang wanita. Meskipun gajiku nggak sebesar gajimu. aku tidak akan malu memberikan uang bulanan yang cukup buatmu. Kalau tidak cukup Kamu protes. Soalnya aku sendiri tidak paham dengan apa yang dipakai oleh wanita dalam hal berdandan," sambung Budiman.
"Memangnya perlu ya? Seorang pria memberikan banyak alat make up untuk wanita?" tanya Adinda.
"Ya perlu banget. Aku kan menikahimu dalam keadaan cantik dan seksi. Terus kamu melahirkan anak-anakku. Tubuhmu nanti bisa berubah. Seharusnya aku memberikan uang cukup banyak agar kamu merawat dirimu kembali. Aku tidak akan berpaling dari wanita lain. Lagian itu prinsip pria yang benar-benar ingin membangun rumah tangga. Mana ada seorang pria yang membiarkan tubuh istrinya rusak. Lalu memilih untuk berselingkuh dengan wanita seksi? Itu nggak masuk di akal. Sejahat-jahatnya aku, aku tidak pernah melakukannya kepadamu. Karena kamu adalah wanita yang ingin dimengerti," beber Budiman.
"Apakah kamu menyesal dengan pernikahan ini?" tanya Adinda lagi.
"Hari pertama kita menikah adalah hal yang buruk buat aku. Tapi untuk sekarang ini hingga selamanya tidak sama sekali. Tuhan menentukan jodoh umatnya sangat unik sekali. Bahkan Tuhan pun memberikan jodoh tersebut dengan aneh. Seperti contohku ini. Aku memang disuruh nikah sama kamu. Jika aku tidak menikah maka seluruh fasilitas yang kumiliki hilang. Bisa-bisa Papa melemparkanku ke jalanan. Lalu aku memang sengaja memanfaatkanmu. Agar aku bisa mendapatkan fasilitas tersebut. Namun akhirnya aku jatuh cinta sama kamu," ungkap Budiman sambil tersenyum dan mencium mulut Adinda.
Adinda terpaku dan membiarkan Budiman menciumnya habis-habisan. Ia tidak pernah menyangka, kalau kulkas berjalan itu ternyata sangat romantis sekali. Meskipun hanya ciuman saja, Adinda tidak akan menyia-nyiakan Budiman begitu saja. Adinda berharap kalau pernikahan ini bisa berjalan hingga kakek dan nenek.
"Kamu menantangku ya? Kalau kamu menantangku seperti itu. Jangan sampai kamu menangis darah meminta bantuan kepada mereka," jawab Budiman yang siap dengan tantangannya Adinda.
"Sepertinya aku salah sasaran deh. Seharusnya kita melakukannya dengan slow dan bisa menikmati permainan demi permainan yang sangat indah sekali," ledek Adinda.
Bukannya marah Budiman hanya tertawa ketika diledek oleh Adinda. Sampai detik ini mereka belum berganti baju sama sekali. Mereka masih mengobrol yang tidak ada putusnya itu. Memang cara inilah yang sangat asyik sekali untuk menyambung tali suami istri. Mereka sering-sering diwajibkan untuk berkomunikasi. Meskipun yang dibicarakannya itu tidak penting sama sekali. Justru ini yang diminta oleh Budiman. Budiman malah senang sekali mendengar sang istri tertawa dan bercanda. Ia tidak akan ada bosannya mendengar pembicaraan Adinda. Budiman sengaja membangun piramid keromantisannya. Jujur sampai sekarang ini Budiman sudah melupakan mantan kekasihnya itu. Hatinya sangat damai sekali dan tidak memperdulikan siapapun yang berada di sekitarnya. Di kantor pun Budiman sudah tidak pernah emosi lagi. Bahkan Budiman sendiri sering mengumbar senyum manisnya itu kepada seluruh karyawannya.
"Bagaimana kalau kita temui Papa dan Mama terlebih dahulu?" tanya Budiman. "Setelah itu kita mencari makan di luar hotel ini. Banyak lho di sekitaran Jalan hotel ini orang-orang berjualan."
"Ah Itu ide yang sangat bagus sekali. Kita harus mencobanya satu persatu. Aku harap kamu tidak keberatan. Sebab aku sendiri memiliki hobi kuliner," jawab Adinda dengan semangat.
"Kalau begitu kita mandi bersama yuk? Kita akan melakukannya selama sejam kemudian," ajak Budiman sambil menautkan alisnya untuk memberikan sebuah kode.
"Bagaimana kalau kita melakukannya di atas ranjang saja? Sepertinya aku tidak ingin berlama-lama di toilet. Perutku sangat lapar sekali. Nanti kalau aku kurus kamu yang disalahkan sama keluarga besarku itu," tolak Adinda yang benar-benar merasa kelaparan.
"Kalau begitu ya sudahlah. Lebih baik kita mandi lalu berburu kuliner," balas Budiman yang tidak tega melihat sang istri kelaparan.
Mereka akhirnya masuk ke dalam toilet bersama. Mereka membersihkan tubuhnya masing-masing.
Sedangkan Andara langsung menemui Kamila dan Kartolo. Gadis manis itu pun bercerita tentang penculikan dia kepada mereka. Mereka sangat terkejut sekali dan hanya bisa menghela nafasnya pelan-pelan.
"Netty lagi Netty lagi. Bisa-bisanya itu anak selalu membuat masalah," kesal Kamila.
"Demi menyelamatkan keluarganya. Netty menculik Ibu Tia dan membawanya ke sebuah gedung bangunan. Lalu menyekapnya dan gedung itu dikelilingi banyak preman. Yang lebih parahnya lagi, Netty membawa dua buah karung yang berisikan ular. Untung saja aku tidak ikut masuk ke dalam. Kalau aku masuk ke dalam. Kemungkinan besar aku akan pingsan di sana," ujar Andara dengan jujur.
"Siapa saja yang tidak masuk ke dalam sana?" tanya Kartolo.