Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 54



"Sudah aku katakan. Semuanya terserah kamu. Kamu mau lanjutkan hubungan ini tidak apa-apa. Kalau kamu ingin berpisah ya sudah. Aku orangnya nggak ambil pusing. Yang buat aku pusing itu pekerjaan di kantor sudah numpuk seperti ini. Semoga saja Ayah bisa memegang semua pekerjaanku," jelas Adinda.


Budiman memang sengaja memancing amarah Adinda. Namun Adinda sendiri tidak marah sama sekali. Dari pembicaraan yang Budiman tarik, Budiman sadar kalau istri kecilnya itu sangat berharga. Mulai dari perhatian kecilnya, menanyakan sudah makan apa belum? Atau sebagainya. Hal itu membuat Budiman menjadi tersanjung.


Hal itu menandakan Kalau Adinda memang sangat pantas menjadi pendamping hidupnya. Lalu bagaimana dengan hatinya? Jujur Budiman sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Budiman memilih untuk hidup bersama Adinda. Ia tidak akan mengusik lagi pertanyaan-pertanyaan konyol itu kepada sang istri. Ia juga ingin membuktikan kalau dirinya bisa hidup mandiri bersama istrinya.


"Pergilah tidur sana. Biarkanlah aku yang menjagamu. Lagian juga kamu harus benar-benar sembuh," pinta Budiman.


"Kalau kamu ingin bersamaku. Lupakanlah Kanaya. dan jangan mencerca aku dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu. Kalau kamu serius maka lakukanlah. Aku juga akan serius denganmu. Jika kamu main-main. Maka aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal dan jangan pernah ganggu hidupku lagi. Sekarang sudah malam. Tidurlah... Dan jangan terlalu memikirkan masalah ini," ucap Adinda yang meminta Budiman agar bisa menjalani hidup bersamanya lebih baik lagi.


Budiman tersenyum sambil memegang tangan Adinda. Ia membungkukkan badannya sambil memandang wajah Adinda. Namun dirinya sedang menahan gemuruh di dalam dada. Jujur hatinya lebih memilih Adinda ketimbang Kanaya.


"Aku janji sama kamu. Tidak akan pernah bertanya dengan pertanyaan yang sama. Aku akan percaya sama kamu. mulai sekarang kamulah wanita satu-satunya di dalam hatiku. Sekarang tidurlah," ucap Budiman yang mencium kening Adinda.


"Aku belum ingin tidur. Tadi pagi sampai sore. Aku selalu tidur. Berikan ponselmu untukku," pinta Adinda.


"Buat apa?" tanya Budiman yang memberikan ponselnya kepada Adinda.


"Buat main game. Aku boring kalau berada di rumah sakit. Rasanya aku ingin kabur dari sini. Tapi nggak ada yang mengajakku," jawab Adinda yang menerima ponsel itu.


"Janganlah kabur. Mending kamu istirahat saja. Itu tubuh harus dirawat dengan baik. Agar bisa menampung benih superku," jelas Budiman yang sedikit tertawa.


"Kamu itu ada-ada saja. Memangnya harus begitu ya?" tanya Adinda.


"Iyalah. Kamu sekarang sudah menjadi istri Budiman. Seharusnya kamulah yang menampungnya," jawab Budiman.


"Nunggu kuliah aku udah selesai. Aku ingin berkonsentrasi untuk mendapatkan semuanya," ucap Adinda.


"Padahal aku berharap banget bisa memiliki Adinda mini," sahut Budiman.


"Terserah apa katamu. Kalau mau dikasihnya sekarang kenapa aku tolak? Kalau dikasihnya beberapa tahun kemudian. Kita diwajibkan untuk saling mengenal secara mendalam dan belajar untuk menjadi dewasa," ujar Adinda.


"Kalimatmu sangat bagus sekali. Dari mana kamu belajar seperti itu?" tanya Budiman.


"Aku sering sekali mendapatkan wejangan dari kedua orang tuaku. Ditambah lagi aku juga sering mendengar wejangan dari kedua orang tuamu. Mereka sering memberikan ku nasihat untuk menjalani hidup ini. Dan aku sekarang sedang memakainya. Aku sangat bersyukur sekali bisa berkenalan dengan kedua orang tuamu. Mereka orangnya sangat baik sekali. Saking baiknya mereka sering menginspirasi orang. Termasuk aku. Rasanya aku sudah lama tidak main ke sana. Semenjak Andara tinggal bersamaku," tambah Adinda.


"Kalau kamu main ke sana. Apakah kamu akan mengajakku?"


"Sepertinya tidak. Aku tidak akan leluasa untuk berbicara kepada mereka."


"Waduh!"


"Kenapa?"


"Tidurlah. Aku Masih ingin bermain game terlebih dahulu. Kurang lebih satu jam saja. Setelah itu aku akan tidur."


"Selamat malam istriku," ucap Budiman.


"Malam juga," sahut Adinda.


Malam itu juga, Budiman untuk pergi tidur terlebih dahulu. Jujur semalaman dirinya tidak tidur. Sungguh lelah tubuh kekarnya itu. Ia sekarang harus menjaga kualitas tidurnya. Sebab dirinya bertugas untuk menjaga dan melindungi Adinda untuk selamanya.


Sedangkan Adinda, masih asik bermain game. Memang hobinya Adinda yang satu ini adalah bermain game online. Tanpa disadari ada satu pesan masuk ke dalam ponsel Budiman. Pesan itu berasal dari Kanaya. Ia membacanya lalu menertawakan Kanaya. Kemudian Adinda membalasnya dengan satu kalimat yang menohok buat Kanaya.


Beginilah pesan Kanaya untuk Budiman.


"Sayang, Aku sudah menunggumu di tempat biasanya. Jujur aku hari ini sangat merindukanmu. Tapi Apakah kamu baik-baik saja? Temui aku sekarang juga."


Balasan dari Adinda.


"Kamu sudah berani merebut suamiku. Dan kamu sudah berani menusuk Budiman. Sekarang kamu tanya Bagaimana keadaannya? Ayolah Kanaya yang playing victim secara terus-menerus. Andai saja kalau aku tidak menghalanginya. Maka orang suruhanmu sudah membunuh Budiman. Dan kamu sekarang berani mengirimkan pesan untuk bertemu. Nyalimu ternyata besar juga. Cepat atau lambat aku akan menyuruh orang-orangmu berkata jujur di hadapan para aparat penegak hukum. Jika dia berkata bukan kamu. Aku akan memberikan bukti-bukti kuat kepada aparat penegak hukum. Satu lagi.. aku melupakan sesuatu. Ketika kamu transaksi dan menyuruh para preman itu. Ada saksi yang melihatnya. Aku tidak akan memberitahukan siapa saksi yang sebenarnya. Satu lagi deh. Kamu bisa melaporkan pesan ini ke Gilang. Aku sangat bersemangat sekali untuk menghajar kalian berdua. Salam dari Adinda seorang wanita tangguh yang tidak bisa dihalau oleh siapapun."


Begitulah pesan dari Adinda. Memang Adinda sengaja menyuruh Kanaya untuk melaporkan pesan itu ke Gilang. Apakah Adinda takut? Adinda tidak ada takutnya. Adinda malah mengejar bilang untuk mempertanggungjawabkan surat kaleng itu.


Kemudian Adinda memutuskan untuk tidur. Ia sudah tidak mempedulikan pesan-pesan dari Kanaya.


***


Malik yang Selesai mengerjakan tugas Adinda menatap wajah sang putra. Ia lalu memberikan beberapa dokumen kepada Faris. Lalu Malik bercerita, Kalau Adinda berhasil mendapatkan tender sebanyak tujuh miliar.


Faris pun sangat terkejut dan bahagia. Akan tetapi Faris menatap wajah Malik yang aneh. Lalu Faris bertanya, "Ada apa ayah?"


"Tidak ada apa-apa," jawab Malik.


"Sepertinya Ayah sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Faris.


"Oke. Ayah akan bercerita tentang masalah proyek ini," jawab Malik dengan jujur.


"Apakah ini proyek bermasalah?"


"Sebenarnya tidak ada masalah sama sekali dengan proyek ini. Tapi Gilang sedang membuat Adinda menyerahkan proyek itu kepadanya."


"Jadinya?"


"Gilang sangat menginginkan proyek ini. Tapi Adinda tidak mau memberikannya. Jadinya beberapa hari ini Gilang meneror Adinda memakai surat kaleng melalui email. Untung saja adikmu bisa melacaknya."


"Oh, sedari dulu Gilang selalu saja begitu. Aku paham wataknya bagaimana. Dia sering sekali kalah proyek sama yang lainnya. Jika sudah kalah maka Gilang akan berbuat sesuatu. Agar proyek itu jatuh ke tangannya."


"Apakah Adinda sudah tahu?"