Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 34



""Jadinya di sini Adinda lah yang memegang kendali. Ditambah lagi dengan Herman dan juga Pak Malik," jawab Kartolo.


"Apakah Andara tidak menempati posisi CEO saja?" tanya Tio.


"Kalau Andara menempati posisi CEO, hidupnya tidak aman sama sekali. Walau hanya sementara saja. Kamu tahu kan bagaimana agresifnya Kanaya kepada Andara? Apakah kamu masih ingat ketika Andara pernah dikejar oleh orang yang tidak dikenal?" tanya Kartolo lagi. "Dan itu melibatkan Adinda juga. Andai saja Adinda saat itu tidak bisa ilmu beladiri. Kemungkinan besar mereka terbunuh dengan konyol."


Flashback on.


Suatu malam di kota Jakarta, Andara yang mengendarai mobilnya sangat fokus sekali. Ketika belok ke kiri, Adinda melihat ada sesuatu yang tidak beres. Sebelum menancapkan gasnya, Adinda mulai bertanya.


"Kita nggak apa-apa lewat sini?" tanya Adinda.


"Bukannya kita sering lewat sini kalau malam menjelang?" tanya  Andara yang masih fokus membawa mobil. 


"Ketika kita mau pulang. Perasaanku tidak enak sama sekali," jawab Adinda.


"Please deh sista… buang perasaanmu jauh-jauh. Lagian tempat ini aman dan dekat dengan rumah. Kalau lewat jalan besar kita akan terjebak macet," jelas Andara.


Yang dikatakan Andara itu benar. Ia sengaja memotong jalan agar cepat sampai ke rumah. Tapi perasaan Adinda sudah tidak enak sebelum pulang. Entah kenapa dirinya merasakan ada yang mengikutinya.


Sudut matanya melihat kaca spion di luar. Ia sangat terkejut dan melihat dua mobil hitam yang sedang mengejarnya.


"Nda," panggil Adinda.


"Ada apa Din?" tanya Andara.


"Kamu bisa nggak bawa mobil cepat?" tanya Adinda.


"Aku nggak bisa bawa mobil dengan cepat aku takut nanti terjadi kecelakaan," jawab Andara dengan jujur.


"Kalau kayak gini Kapan nyampenya?" tanya Adinda lagi yang sengaja tidak memberitahukan apa sebenarnya yang akan terjadi.


"Sebentar lagi nyampe. Kurang lebih dua puluh menit kemudian," jawab Andara yang membuat Adinda menjadi gelisah.


"Lebih baik kamu ngegas. Di jalan sana sampai menuju ke rumah. Kamu bisa ngebut dan memperpendek waktu tempuh kita. Aku ingin cepat-cepat ke rumah dan membersihkan tubuhku yang lengket ini," ucap Adinda.


"Aku nggak berani ngegas Din. Aku masih trauma membawa mobil dengan ugal-ugalan,"sahut Andara.


Di dalam hati, Adinda sudah tidak tahan dengan Andara. Kalau berhenti pun akan tertangkap. Adinda tahu kalau orang yang berada di mobil itu adalah anak buahnya Kanaya. Sebab Adinda mendengar kalau Kanaya ingin menghabisi Andara.


Brakkkk! 


Andara terkejut karena mobilnya ada yang menabraknya dari belakang. Lalu tubuh Andara mulai bergetar. Ia tidak bisa melanjutkan perjalanan ke rumah lagi. Dengan terpaksa Andara melihat Adinda sambil ketakutan.


"Aku mau turun. Disaat aku turun kamu harus menghubungi Mas Tio atau Mas Faris. Semoga saja mereka berdua ada di rumahmu," pinta Adinda yang membuka pintu lalu tangan Andara menahannya.


Adinda menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Biar aku yang menghadapinya. Jika aku tidak menghadapinya mereka akan terus memburu."


Mau tidak mau Adinda keluar dari mobil. Ia sudah bersiap dan melihat orang-orang bertubuh kekar itu. Adinda hanya menghela nafasnya dengan kasar. Adinda tahu wajah-wajah mereka yang terkenal bengis namun hatinya hello Kitty.


"Suruh siapa kalian mengejar mobilnya Andara?" tanya Adinda sambil memandang wajah sang ketua.


"Kenapa kamu nggak bawa aku saja?" tanya Adinda dengan melontarkan pertanyaan konyol 


"Cih, membawamu sama saja Aku bunuh diri. Sekalinya makan nggak cukup sepiring," jawab sang ketua dengan kesal.


"Lu dibayar berapa sih sama dia?" tanya Adinda. "Kalau bayaran lu murah dan nggak ada apa-apanya. Mending lo ke tempat gue untuk meminta pekerjaan. Ketimbang gini lu bakalan kena penjara? Apa lu ingat di rumah masih punya istri dan anak? Mereka butuh uluran tangan lo. Mereka butuh kasih sayang dari seorang suami dan papa. Kalau lu sampai di penjara, siapa yang mau ngasih makan? Apakah dia? Nggak mungkin lah. Dia mah orangnya lepas tangan kalau lu sudah masuk penjara. Gue nggak kasihan sama dia apalagi sama lo. Yang gue kasihani adalah anak istri lo. Jujur saja lu nggak akan bisa melihatnya lagi."


Mereka saling memandang dan menatap wajahnya masing-masing. Apa yang dikatakan oleh Adinda itu benar? Adinda sebenarnya tidak ingin bertarung. Karena besok ia akan pergi ke Manila.


"Kalau lu nggak percaya ya sudah. Lu pasti kenal Herman Susanto kan? Seorang pengacara yang ditakuti oleh semua pihak. Kalau gue minta Herman yang jadi pengacara. Kalian tidak akan bisa keluar seenaknya. Apa lo paham semuanya?" tanya Adinda lagi.


Mendengar nama Herman Susanto, tubuh mereka bergetar hebat. mereka tidak bisa membayangkan jika berhadapan dengan Herman. Jika sampai berhadapan dengan Herman, maka mereka tidak akan keluar dalam waktu yang lama. Inilah yang ditakutkan oleh mereka.


"Apakah kamu mau bertarung atau menyerahkan diri begitu saja?" tanya Adinda yang memberikan penawaran khusus buat mereka.


"Kalau kamu masih ingin mendapatkan Andara. Maka hidupmu nggak akan selamat. Kalian telah membantu Kanaya untuk melakukan perencanaan pembunuhan. Itu terserah kalian. Aku mau pulang dah capek tahu," tambah Adinda yang membalikkan tubuhnya untuk menuju ke mobil.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Dalam situasi seperti ini mereka harus memilih. Antara hidup atau mati buat hidup mereka. Jika mereka membawa Andara. Mereka bisa dikenakan pasal membantu perencanaan pembunuhan. Cepat atau lambat mereka akan diciduk oleh aparat.


"Tunggu!" seru sang ketua.


Adinda membalikkan badannya dan melihat sang ketua itu. Adinda mulai mendekat lalu menatap wajah sang ketua.


"Kalau begitu Jangan laporkan kami ke aparat. Anak dan istriku masih butuh makan. Aku sangat mencintai mereka," jelas sang ketua.


"Pulanglah! Besok pagi kalian temui aku di kantor. Aku ada pekerjaan khusus buat kalian. Soal gaji nanti kita bicarakan saja di sana," jawab Adinda dengan tulus.


Mereka menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Sebelum pergi mereka meminta tolong untuk dipesankan mobil online.


"Bolehkah aku memintamu kembali?" tanya sang ketua.


"Boleh saja. Asalkan kamu nggak boleh meminta Andara," jawab Adinda.


"Nona, tolong pesankan kami mobil online. Jika kami membawa mobil ini. Kanaya akan memburu kami," pinta sang ketua.


"Baiklah. Sebentar aku akan mengambil ponselku untuk memesankan kalian kendaraan online," ucap Adinda yang segera berlalu dari mereka.


Mereka tersenyum sambil memandang Adinda. Mereka akan mencari pekerjaan yang halal setelah ini. Mereka tidak akan mau lagi menuruti keinginan Kanaya. Sebab mereka pernah masuk ke dalam penjara. Mereka akhirnya tidak bisa bertemu dengan anak istrinya itu.


Flashback off.


"Tapi Pak, saat itu Adinda tidak bertarung," ucap Tio yang mengetahui kronologi kejadian itu.


"Banyak kok sumber yang mengatakan kalau mereka sedang bertarung," ujar Kartolo sambil tersenyum.


"Tidak Pak. Itu hanya akal-akalannya Adinda saja. Biar Kanaya percaya," sahut . Tio.


"Apa maksud kamu?" tanya Kartolo.