
“Nanti dech kita bicarakan lebih lanjut lagi bersama ibu Tia dan Bapak Malik,” jawab Kamila.
“Papa sih pengennya mereka mencari ilmu terlebih dahulu. Mengingat usia mereka masih muda. Jabatan mereka di kantor tidak main-main. Yaitu CEO di perusahaan besar di dunia,” jelas Kartolo. “Papa berharap kamu bisa mengikuti jejak mereka.”
“Iya pa. Tapi dulu Adinda pernah mengatakan kepadaku. Setelah menikah Adinda ingin mengabdikan dirinya menjadi istri yang baik. Dia ingin lepas dari perusahaan. Dia lebih baik membuka usaha kecil-kecilan untuk membantu perekonomian keluarga kecilnya itu,” ucap Andara yang mengingat apa yang dikatakan oleh Adinda.
“Itu terserah Adinda. Kami tidak akan memaksa kalau Adinda berhenti dari pekerjaannya. Tapi kalau Budiman papa belum tahu,” sahut Kartolo yang sebenarnya ingin Adinda berkarya.
“Apapun yang akan dilakukan Adinda lebih baik kita dukung. Jangan sampai kita membuat masalah dengan pihak keluarga satunya. Yang namanya pro dan kotra pasti ada. Adinda memiliki banyak keluarga besar. Jadi kalau berkumpul ya mereka pasti ditanyakan bermacam-macam,” kata Kamila.
“Apa sih enaknya berkumpul dengan keluarga besar seperti itu?” tanya Andara.
“Yang pasti menyambung tali silaturahmi antara satu dengn lainnya,” jawab Kamila.
Tio yang berada di samping Andara tahu betul tentang keluarga besar milik Budiman. Rata-rata mereka memiliki tipe tidak suka dengan keberhasilan seseorang. Ditambah lagi jika dia udah mendapatkan perhatian lebih dari Jeremy sang kakek. Mereka tidak menyukainya sama sekali.
“Kapan kamu akan menikahi Andara?” tanya Kartolo sambil menatap wajah Tio.
Tio pun tercekat dan tidak ingin berbicara satu kata pun. Ingin rasanya berlari dari ruangan ini lalu menguburkan dirinya hidup-hidup di suatu tempat. Baginya ini adalah pertanyaan horor. Kenapa bisa begitu? Karena yang bertanya adalah sang bosnya sendiri.
“Apakah kamu tidak ingin mempersunting Andara?” tanya Kartolo.
“Bukannya saya tidak mau. Bagaimana dengan keluargaku yang berada di atas garis kemiskinan Tua?” tanya Tio yang sebenarnya ingin menikahi Andara.
“Kamu itu?” ucap Kartolo yang tersenyum manis.
“Jujur aku tidak keluarga ini dicibir banyak orang. Apalagi ada yang sampai menghina keluarga bapak. Bapak sendiri tahu kalau anda beserta keluarga adalah keluarga terpandang,” jelas Tio dengan jujur.
“Sekarang aku bertanya, kamu atau mereka yang akan menikahi Andara?” tanya Kartolo yang menghempaskan bokongnya di hadapan Tio.
“Saya pak,” jawab Tio dengan cepat.
“Kenapa kamu ragu dengan mereka? Apakah mereka memberikan kamu hidup?” tanya Kartolo.
“Tidak sama sekali,” jawab Tio.
“Lalu apa masalahnya sekarang?” tanya Kartolo.
“Ya pa. Lanjutkan segera. Aku sering banget diberikan harapan palsu sama dia,” kesal Andara.
Sepersekian detik, tawa Kartolo dan Kamila pecah. Betapa lucunya pasangan kekasih ini menjalin hubungan yang sangat aneh sekali. Bahkan mereka tidak menyadari atas kekonyolan sekarang.
“Nanti dech aku pikirkan selanjutnya,” ucap Tio.
“Aku akan menunggu kamu melamar Andara. Waktu kamu hanya setahun. Kamu harus mempersiapkan semuanya. Jika tidak, Andara aku jodohkan ke orang lain!” perintah Kartolo.
Tio hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Waktu setahun sangatlah berarti bagi Tio. YTio akan berusaha mencari dana untuk mempersunting Andara kekasihnya itu.
“Baiklah. Saya akan mengusahakannya untuk mendapatkan dana untuk mempersunting Andara,” ucap Tio dengan semangat.
“Sebenarnya kami tidak perlu mewah-mewah. Lebih baik kamu melamar kami dengan cara sederhana. Yang penting kamu memiliki niat yang tulus. Insya allah niat tulus kamu akan mendapatkan pertolongan dari-Nya. Bilang sama ayah dan ibu kamu. Kalau kamu siap menikah dan menjadikan Andara sebagai istri kamu,” pinta Kartolo.
“Baik pak. Saya akan mengatakan langsung dengan kedua orang tua saya,” balas Tio.
Tio akhirnya memutuskan untuk berpamitan. Tio akan mengajak Andara untuk pergi ke suatu tempat. Yang dimana tempat itu sangat rahasia sekali.
“Apakah kamu mau ikut dengan aku?” tanya Tio.
“Kamu mau kemana?” tanya Andara balik.
“Ke suatu tempat. Tapi sebelumnya kita lebih baik sarapan terlebih dahulu,” jawab Tio yang memegang tangan Andara.
Selama ini orang-orang menganggap kalau keluraga Gilang adalah orang yang bersahaja. Nyatanya mereka adalah seorang penipu ulung. Terkejut, pastinya. Mau berlari pun mereka sangat susaj. Karena kamar yang ditempati sudah dikepung oleh kepolisian.
“Kami kalian tangkap! Kalian sudah sering menipu banyak orang dalam berbisnis,” jelas salah petugas kepolisian tersebut.
Dengan hati yang dongkol mereka akhirnya menyerahkan dirinya. Keluarga besar Budiman akhirnya mengetahui semuanya siapa Gina dan Gandi sebenarnya. Mereka baru sadar kalau Gina dan Gandi yang memporak-porandakan keluarga besar Budiman.
Kamila dan Kartolo tersenyum bahagia. Badai yang sudah dihadapinya sudah selesai. Inilah buah kesabaran yang mereka tunggu. Sedari dulu keluarga besar Budiman menjadi sangat harmonis. Meskipun tinggal di luar negeri, mereka saling bantu membantu. Mereka tidak memandang bulu jika ada kesusahan.
Adinda sekarang diajak oleh Budiman ke tempat rahasia. Akhir-akhir ini Budiman ingin bersikap romantis kepada Adinda. ia ingin sekali melamar Adinda dari lubuk hatinya.
“Kamu mau mengajak aku kemana?’ tanya Adinda yang masih memainkan ponselnya.
“Aku akan mengajak kamu pergi ke suatu tempat. Yang dimana tempat itu adalah tempat yang sangat indah sekali,” jawab Budiman.
“Kamu hapal ya dengan negara Singapura?’ tanya Adinda.
“Selesai lulus kuliah aku sengaja ditugaskan disini beberap bulan. Kurang lebih setahun saja. Aku sengaja menyukai petualangan untuk menjelajahi jalanan di Singapura,” jawab Budiman.
“Hehehe... kamu itu memang sangat cerdas sekali,” puji Adinda.
“Aku memang cerdas dari sananya,” ungkap Budiman yang sengaja menghentikan mobilnya.
“Kenapa kamu berhenti disini?” tanya Adinda yang menatap wajah Budiman.
“Aku sengaja berhenti karena kamu memujiku,” jawab Budiman.
“Apa hubungannya?” tanya Adinda.
“Tidak ada hubungannya. Aku ingin terbang ke angkasa siang ini juga,” jawab Budiman.
“Bagaimana kamu terbang ke angkasa?” tanya Adinda. “Lalu kenapa kamu terbang kesana?”
“Dengan sayap kamu berikan padaku,” jawab Budiman yang memiringkan tubuhnya ke arah Budiman.
“Lalu?” tanya Adinda.
“Aku terbang ke angkasa. Karena aku mendapatkan pujian dari akmu,” jelas Budiman.
“Hmmmp... lalu?’ tanya Adinda.
“Lalu aku jatuh ke dalam ke pelukan kamu,” jawab Budiman yang menatap mata Adinda yang penuh dengan cinta.
“Kenapa kamu bisa jatuh?” tanya Adinda yang semakin gemas terhadap Budiman.
“Karena aku jahat banget sama kamu. Jujur aku tidak mengajakmu pergi ke angkasa,” jawab Budiman.
“Kamu itu ada-ada saja. Selamanya aku bersamamu,” ucap Adinda sambil memegang tangan Budiman.
Budiman sengaja mendekatkan dirinya untuk mencium Adinda. Namun saat Adinda membalas ciuman Budiman,
Tok... Tok... Tok...
“Bisa buka kaca mobilnya!”