Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 56



"Aku tidak nyaman saja. Jika aku harus menjalin hubungan dengan romantis," jelas Adinda. "Aku enggak mau jika pernikahanku ini tidak sehat. Lalu kita memberitahukan kepada dunia. Kalau kita ini baik-baik saja. Itu tidak mungkin. Biarkan pernikahan kita berjalan dengan apa adanya. Tanpa harus ditutupi."


Budiman mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Adinda. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Kenapa juga mengkalim pernikahan ini sebagai pernikahan romantis sepanjang sejarah.


Budiman menatap wajah Adinda sambil memiringkan tubuhnya. Ia tersenyum memandang wajah Adinda lalu memegang tangan Adinda.


"Aku ingin menikah lagi," ucap Budiman.


"Kenapa kamu ingin menikah lagi?" tanya Adinda.


"Akad nikah yang kita lakukan tidak sah. Aku ingin mengulanginya lagi sebelum pergi ke Amerika," jelas Budiman yang membuat Adinda kebingungan.


"Ya... cukuplah. Pernikahan yang diadakan kemarin sudah sah di mata agama maupun negara. Ngapain juga harus diulang lagi?' tanya Adinda.


"benarkah itu?" tanya Budiman.


"Untuk sekarang bagaimana caranya kita menjalaninya saja," jawab Adinda. "Kalau enggak suka ya... terserah kamu."


"Maksudnya?" tanya Budiman. "Cerai maksud kamu?"


Adinda menganggukan kepalanya, "Memang pernikahan ini banyak sekali menentangnya."


"Bukan begitu kali Adinda sayangku. Kata cerai itu memang gampang untuk diucapkan. Tapi bisakah kita mengurangi kata-kata itu? Kata itu memang tidak baik."


"Aku tahu itu. Kalau aku ya saja. Tapi apakah kamu mau berkomitmen dengan tegas. Berani melupakan mantan kamu yang itu? Aku hanya bertanya itu saja. Aku takutnya jika seperempat perjalanan, kamunya langsung bertemu dengan Kanaya dan minta cerai. Habis itu kamu mintanya balikan ke Kanaya?"


Budiman akhirnya paham dengan apa yang dikatakan dengan Adinda. Memang godaan pernikahan itu sangat besar. Terutama yang namanya pelakor. Buat Adinda jika sudah hadirnya orang ketiga sangat berat. Ia memang sudah meneliti teman-teman kantornya yang memiliki pernikahan tidak sehat. Faktor utamanya adalah adanya orang ketiga. sungguh miris bagi Adinda. Adinda tidak ingin pernikahannya berakhir sama orang ketiga.


"Aku paham soal itu. Maafkanlah aku," ucap Budiman. "Jika kamu mengira aku balikan lagi sama Kananya. Itu salah besar. Aku tahu saat itu kondisinya tidak baik. Kalau berusaha memperingatkan aku dengan Kanaya. Tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali. Setelah tahu siapa Kanaya sebenarnya. Aku sadar tidak akan mengingatnya lagi. Dia hanya ingin uangku dan tidak pernah memperdulikan aku."


"Aku tidak perduli soal penjelasan itu. Yang aku maksud adalah apakah kamu kuat jika mempertahankan pernikahan ini hingga akhir hayatmu? KIta masih baru untuk menjalaninya. Beberapa tahun lagi akan ada badai yang cukup besar. Yang dimana badai itu bisa menghantam pernikahan kita. Apakah kamu kuat untuk menjalaninya?" tanya Adinda. "Itulah filosofinya orang menikah."


"Ya... aku paham akan itu. Terima kasih atas penjelasannya. Sekarang aku tanya, bagaimana kamu tahu jika ada badai dalam pernikahan?" tanya Budiman yang tersenyum manis.


"Aku memang seorang CEO yang memproduksi makanan kaleng. Aku juga sering mengadakan riset tentang pernikahan. Lalu disini aku menyimpulkan bahwa mereka bercerai bukan masalah ekonomi. Melainkan masalah orang ketiga."


"Cerdik sekali. baiklah. Kamu memiliki otak jenius sekali. Kamu membuat riset yang membuat aku tercengang."


"Tapi nggak semuanya sih. Aku hanya mengambil sepuluh orang. Yang dimana aku mengambilnya secara acak."


"Apakah kamu tidak menanyakan kalau ada sesuatu hal lainnya? Misalnya ibu mertua yang tidak cocok?"


Adinda malah tertawa keras mendengar apa yang dikatakan oleh Budiman. Bisa-bisanya Budiman mengucapkan ibu mertua yang tidak cocok dengannya. Justru itu Kamila sangat menyayangi Adinda sedari dulu. Jika beberapa hari saja, Kamila langsung menghubunginya dan memintanya datang.


"Augh," ucap Adinda yang meringis sambil memegangi perutnya.


"Makanya jangan tertawa keras seperti itu. Masih basah lukamu itu," jelas Budiman yang berdiri dan turun dari brangkar.


"Kamu mau kemana?" tanya Adinda,


"Aku mau memanggil dokter," jawab Budiman.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lebih baik kamu disini," pinta Adinda.


Budiman akhirnya naik ke tepi ranjang dan duduk di samping Adinda. Jujur saat ini dirinya sangat khawatir sekali dengan keadaan Adinda. Ia tidak ingin melihat Adinda kesakitan seperti ini.


"Aku khawatir sama kamu. Makanya aku ingin memanggil dokter untuk memeriksa kamu," ucap Budiman.


"Aku baik-baik saja. Masih jam enam pagi. Para suster masih belum bersiap-siap tugas," tambah Adinda.


"kan ada suster jaga sayang," ujar Budiman yang mulai meyakinkan Adinda.


"Hmmp... enggak perlu juga. Santai saja kali bang. Nanti jam tujuh para suster kesini," sahut Adinda dengan serius.


"Ngapain kesini?" tanya Budiman.


"Mandiin aku," jawab Adinda.


"Mereka tidak perlu mandiin kamu," kesal Budiman.


"Kamu kenapa?" tanya Adinda. "Memang tugas para suster jika pasien itu mandi."


"Aku enggak mau para suster itu mandiin kamu."


"Lalu, siapa yang mandiin aku?"


"Ya... akulah. Aku adalah suami kamu. Aku ingin menjadi pria serba bisa."


"Terus... setelah itu?"


"Jangan pernah berpikiran ngeres dulu. Aku memang sengaja mandiin kamu. Karena semuanya adalah milikku."


"Ingatlah aku adalah suamimu yang sah."


"Memang benar. Tapi jangan kayak gini."


"Memangnya tidak boleh ya... kalau seorang suami mandikan istri?"


"Terserah apa katamu."


"Dinda."


"Ada apa?"


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Apa itu?"


"Menyambung yang tadi. Apakah ibu mertuamu sangat baik sekali?"


"Mama Kamila orangnya sangat baik sekali. Saking baiknya aku sering dicariin jika tidak datang. Tapi anaknya yang berjenis kelamin pria ngeselin banget jadi orang."


Budiman tertawa sambil menahan perutnya. Ia memang sengaja mendengar perkataan jujur dari Adinda. Ia tidak marah sama sekali. Lalu Budiman menghentikan tawanya sambil bertanya, "Kok kamu jujur sekali sih?"


"Aku memang jujur apa adanya. Kalau marah silakan. AKu memang pantas mendapatkannya."


"Ya... sudahlah. Aku akan mandi terlebih dahulu."


"Kamu mau kemana?"


"Kerja."


"Kerja dimana?'"


"Kerja di perusahaan Njawe Group."


"Oh... bolehkah kamu kirimkan satu kontainer kaleng kosong buatku?"


"Buat apa?"


"Buat ngalengin makanan. Aku sekarang lagi kekurangan kaleng."


"Biasanya kamu mengambil di Banyumas?"


"Lagi kehabisan bang."


"Produksi makanan aku meningkat."


"Nanti malam kita bicarakan ini. Aku disuruh kembali ke kantor hari ini."


"Ceritanya enggak kabur lagi nich?"


"Enggaklah. Aku ingin mencari uang untuk minggat bersamamu."


"Itu mah bukan namanya minggat. Tapi tinggal beda negara."


"Iya. Makanya aku harus bekerja keras untuk mendapatkan gelar S3. Biar aku bisa menjadi bos yang memiliki gelar tinggi."


"Benar juga sih. Ya udah mandi sana."


"Apakah kamu mau ikut?"


"Terima kasih."


"Hmmp... kenapa harus mengucapkan terima kasih?"


"Serba salah aku ngomong sama kamu."


"Ya... enggaklah. Kamu memang enggak salah."


Budiman segera turun lalu melangkahkan kakinya menuju ke toilet. Ia membuka bajunya kemudian mengguyur tubuhnya memakai shower.


Disaat ia mengguyur tubuhnya. hatinya terasa sakit ketika ingat Kanaya. Ia benar-benar tersakiti sekali. Baru kali ini ia menangis dalam guyuran air tersebut. Hanya dalam waktu sekejap kenangan indah berubah menjadi malapetaka.


Sekarang Budiman akan memutuskan dengan siapa dirinya tinggal? Ia ingin merajut kebahagiaan bersama istri kecilnya itu. Ia tidak perduli lagi dengan amukan Kanaya.


Sementara itu hati Adinda merasakan kesedihan yang mendalam. Ia mulai terdiam dan mencari sumber masalahnya. Akan tetapi dirinya tidak menemukan apa yang telah terjadi.


"Kenapa perasaanku menjadi aneh seperti ini?" tanya Adinda.