Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 155



Dino menelan salivanya dengan susah payah. Ia bingung setengah mati. Bagaimana bisa Dino yang dulunya bekas perawat hanya membiarkannya. Seharusnya ia memeriksa detak jantungnya. Malah mereka berteriak meminta menolong Gilang.


Dino yang masih tenang pun hanya bisa menghela nafasnya. Ia terpaksa melaksanakan perintah dari mereka. Dengan begitu Dino langsung mengangkat Gilang dan memapahnya ke sofa panjang.


Dino sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan Gilang. Dino berharap kalau Gilang baik-baik saja. Ia tidak mengerti dengan keluarga Gilang sampai detik ini.


"Sepertinya aku harus mengundurkan diri dari perusahaan ini!" ucap Dino dalam hati.


Beberapa menit kemudian, datanglah seorang pria paruh baya dengan memakai baju putih. Pria itu langsung memeriksa keadaan Gilang. Alhasil dokter itu terkejut. Gilang ternyata terkena serangan mendadak. Ia langsung memberikan pertolongan. Namun si dokter berteriak menyuruh mereka memanggil ambulans. Otomatis Gina meminta Dino untuk memanggilkan ambulans. Dino pun langsung memanggil ambulans untuk segera ke kantor.


Budiman yang sudah sampai ke restoran tersebut bergegas memarkir mobilnya. Ia bersama Adinda melepaskan seatbelt lalu membuka pintu secara bersamaan.


Adinda sangat terkejut sekali dengan restoran itu. Ternyata restoran itu adalah milik sang ibundanya. Adinda hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Ternyata kakak sangat menyukai tempat ini."


"Memang ini adalah favorit aku dikala sedang sendirian ketika tidak memiliki pasangan," ujar Budiman dengan jujur.


Adinda hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia baru tahu kalau sang suami sering nongkrong disini. Bahkan kalau ada meeting dengan klien, Budiman menyuruh Tio untuk mereservasi tempat ini.


"Kalau begitu kamu berhak mendapatkan privilage," celetuk Adinda.


"Aku sudah mendapatkan hak istimewaku dari ibu mertuaku sendiri,' sahut Budiman.


"Terserah kamu saja," ujar Adinda. "Ayo kita masuk."


Mereka akhirnya masuk ke dalam lalu mendapatkan sambutan dari karyawannya. Ia meminta jus alpukat untuk makan siangnya. Seorang karyawan disana langsung menganggukkan kepalanya dan pergi ke dapur.


Adinda bergegas mengajak Budiman ke tempat dimana yang akan dibuat meeting. Disana sudah ada seorang pria berdarah Inggris langsung menyambutnya. Adinda langsung mempersilakan pria itu masuk ke dalam sana.


"Dimana Tuan Budiman?" tanya pria itu.


"Aku disini," jawab Budiman yang masuk dan terkejut melihat pria itu.


"Hello Budiman," sapa pria itu dengan ramah.


"Goerge!" pekik Budiman.


"Iya ini aku," sahut Goerge sambil tersenyum meledek Budiman.


Adinda menatap Goerge dengan penuh kecurigaan. Seharusnya siang ini akan sedang membicarakan bisnis. Bukan reuni seperti ini. Jujur pertemuan antara Budiman dan Goerge sangat aneh sekali.


"Ada apa kamu ingin menemuiku?Apakah kamu ingin menanamkan uangmu di perusahaanku?" tanya Budiman yang membuat Goerge melepaskan dirinya.


"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu. Tapi aku tidak mau berbicara melalui telepon,"jawab Goerge.


"Oh... sebelum berbicara lebih lanjut. Aku akan memperkenalkan seorang wanita yang telah membuatku sadar dari Kanaya. Aku sadar kalau selama ini salah," ucap Budiman yang menyesali perbuatannya.


"Syukurlah kamu sendiri sudah sadar. Aku selalu memperingatkan kamu dari wanita ular itu. Tapi kamunya tidak pernah sadar sama sekali," jelas Goerge yang tidak sengaja melihat perubahan dari sahabatnya itu.


"Din," panggil Budiman.


Adinda sedari tadi mematung sangat terkejut ketika dipanggil oleh Budiman. Ia sendiri langsung menatap Budiman dan mendekatinya.


"Ah... iya... ada apa?" tanya Adinda sambil tersenyum manis.


"Perkenalkan ini adalah tetanggaku yang berada di London. Namanya adalah Goerge Wilson," jawab Budiman yang membuat Adinda tersenyum manis. "Dan Goerge... wanita ini yang dipaksa mamaku untuk menikahiku. Dia sangat sabar menghadapiku ketika aku belum sadar dari semuanya ini."


Goerge tersenyum melihat Adinda lalu tersenyum ramah. Ia lebih dulu mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Adinda.


"Namaku Goerge," sapa Goerge dengan ramah.


"Adinda," sahut Adinda sambil membalas senyumannya.


Setelah berkenalan Budiman mengajak Goerge duduk. Ia juga menyuruh Adinda duduk bersamanya. Lalu Budiman menceritakan siapa Goerge sebenarnya. Sontak saja Adinda terkejut mendengarnya. Ia menemukan seorang yang tepat untuk menemukan banyak informasi tentang dengan Kanaya maupun Gilang.


"Kedatangan aku kesini ingin mengatakan kalau ponselmu itu terkena hack sama hackernya milik Gilang," ucap Goerge.


"Apakah itu bena?" tanya Adinda yang mengerutkan keningnya.


"Ya itu benar. Sang penyadap itu berasal di Amerika. Aku baru mengetahuinya seminggu ini. Aku tidak tahu kapan orang itu menyadap nomor telepon kamu," jawab Goerge.


"ini gila. Bisa-bisanya Gilang menyadap nomorku!" bentak Budiman yang mengepalkan tangannya.


"Apa motifnya Gilang menyadap nomor telepon dari suamiku?" tanya Adinda yang juga geram.