
"Tentunya. Salah satunya adalah dendam kematian Rizal yang sampai saat ini Gilang yang menyuruh Kanaya tidak mengakuinya. Kanaya sangat pandai sekali berkilah," jawab Kartolo sambil memegang tangan Kamila.
"Ini sangat menyeramkan untuk kami," jelas Kamila.
"Ya... mau bagaimana lagi? Mereka harus membayarnya lebih mahal dari semua ini," ujar Kartolo.
"Semua masalah ini akan terpecahkan satu persatu. Aku sendiri sudah muak dengan apa yang telah terjadi saat ini. Ketika Gina melakukan kesalahan. Akulah yang selalu menanggung semua kesalahan itu," kesal Kamila jika ingat kejadian beberapa tahun silam semenjak menjadi istri dari Kartolo.
"Sudah lupakan hal itu. Aku memang sengaja tidak membela kamu. Agar kamu bisa membuat Gina mundur beberapa langkah dari posisinya," celetuk Kartolo.
"Kamu benar juga. Ah... rasanya aku ingin melakukannya lagi," celetuk Kamila.
"Sudah enggak usah melakukannya lagi. Sebentar lagi posisi kamu akan digantikan sama Adinda. Cepat atau lambat kita seluruh masyarakat tahu. Siapa Gilang dan keluarganya kelak. Semua kesalahan akan dilucuti satu persatu," pinta Kartolo agar Kamila tidak menyerang Gina lagi.
"Kenapa kamu melarangku untuk menyerang Gina?" tanya Kamila yang tidak menyukai sang suami yang melarangnya.
"Karena Gina sendiri sangat berbahaya. Dia lebih berani melawan orang-orang yang telah menyakitinya," jawab Kartolo.
"Halah... Gina kan sukanya playing victim," celetuk Kamila.
"Iyalah. Dia memiliki kekuasaan dimana-mana," jelas Kartolo.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Kamila.
"Santai saja. Kita tunggu mama papaku datang ke Indonesia," jawab Kartolo. "Mereka memiliki banyak bukti tentang perusahaan Njawe Groups. Selama ini aku enggak pernah memegang surat-surat Njawe Groups. Aku disuruh menjalankan perusahaan itu bersama keturunanku."
"Berarti menunggu chaos lalu mereka akan datang?" tanya Kamila.
"Ya begitulah. Makanya kita harus bersabar hingga waktu itu datang," jawab Kartolo.
Kamila baru paham apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan Njawe Groups. Ia juga tidak tinggal diam dengan perusahaan ini. Namun Kartolo sendiri tidak membiarkan sang istri bertindak lebih jauh lagi. Hal ini dikarenakan keluarga Gilang menyerangnya membabi buta.
Sedangkan Adinda yang menyetir mobil membiarkan Budiman melihat pemandangan di jalanan. Budiman sangat menikmatinya dan membiarkan Adinda melakukan apa yang dia mau.
"Sepertinya kakak bahagia?" tanya Adinda.
"Aku bahagia karena diculik sama wanita cantik seperti kamu,' jawab Budiman.
"Apakah itu benar?' tanya Adinda yang sengaja menghentikan mobilnya karena di depannya tepat berada di villa milik Herman.
"Iya itu benar. Aku memang suka diculik sama kamu. Apalagi kamu sangat cantik sekali dan seksi ketika berada di ranjang," celetuk Budiman yang keluar dari mobil agar sang istri tidak mengamuk.
"Astaga... ini orang... punya suami kok omes banget sih?" tanya Adinda yang keluar dari mobil dan melihat Budiman yang melepaskan dasinya bersama jasnya lalu melemparkan kee kap mobil.
"Yang... sepertinya aku mengenal tempat ini?" tanya Budiman yang memperhatikan sebuah bangunan villa dengan megah.
"Memangnya kamu enggak pernah kesini?" tanya Adinda yang mendekati Budiman.
"Ya... aku memang sering kesini. Ketika aku sekolah dulu," jawab Budiman. "Memangnya ini villa milik Herman?"
"Ya... sekali-sekali ajak aku kesana," pinta Budiman.
"Baiklah. Aku akan mengajakmu kesana. Jika ada waktu senggang. Lagian juga aku pengen kesana dalam waktu dekat ini," ujar Adinda.
"Bolehkah aku berbicara sesuatu sama kamu?" tanya Budiman yang menghadap ke arah Adinda sambil memegang tangan Adinda.
"Tanyakan saja apa yang kamu ingin tanyakan. Aku juga tidak keberatan sama kamu," jawab Adinda dengan senang hati agar Budiman bertanya.
"Apakah kamu keberatan jika kau menunda pergi ke London pada bulan ini?" tanya Budiman.
"Ada apa sebenarnya? Apakah ada Kanaya di kota London?' tanya Adinda yang memperhatikan ada beban di mata sang suami.
"Kamu tahu, aku tadi mendapatkan email dari kakekku. Aku tidak boleh meninggalkan Njawe Group. Sebelum Kakek dan nenekku datang," jawab Budiman yang menatap sendu.
"Lalu apa masalahnya sekarang? Kenapa enggak jadi kita berangkat kesana?" tanya Adinda yang ingin tahu tentang alasan Budiman.
"Karena Kakek tahu sepak terjang kejahatan Keluarga Gilang. Inilah yang membuatku tidak jadi pergi ke London. Jika kau pergi ke London, bisa dipastikan Gilang dan keluarganya menyerang keluargaku habis-habisan. Terutama pada Andara. Aku tahu Andara tidak akan mampu mendapat tekanan demi tekanan dari keluarga Gilang. Mereka akan melakukan banyak cara agar Andara menyerahkan perusahaan ini ke tangan mereka," jawab Budiman sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi.
"Sudah aku duga. Aku sendiri juga berpikiran seperti itu. Jangankan perusahaan kamu, perusahaanku sedang diserang hanya karena tender tujuh triliun," ucap Adinda.
"Jadi aku harus stay disini mencari waktu yang tepat agar mereka menyerang lebih dulu," ujar Budiman.
"Kita bisa bekerja sama untuk menyerang balik keluarga Gilang. Aku sendiri masih memikirkan masalah ini dengan matang. Aku belum menemukan cara yang tepat untuk menyerang mereka. Kita bisa mengajak kerjasama Paman Herman dan Kak Faris. Bagaimana menurut kakak?" tanya Adinda.
"Semuanya tidak menjadi masalah. Kita bisa mengajak mereka bekerja sama. Jika mereka mau," jawab Budiman.
"Ya udah yuk. Enggak usah membahas semua ini. Aku ingin mengajak kakak untuk melepas stres untuk melupakan sejenak pekerjaan tadi," ajak Adinda yang melepaskan sepatu high heelsnya.
"Ayo," ucap Budiman yang meraih ponselnya di kantong lalu mematikannya dan menaruhnya di dalam mobil.
"Ponselnya enggak dibawa?" tanya Adinda yang menaruh curiga kepada Budiman.
"Lagi malas jika ada Tio yang mengganggu quality time bersama kamu,' jawab Budiman yang sengaja ingin berduaan bersama Adinda.
Adinda hanya menganggukan kepalanya. Ia membiarkan sang suami merasakan liburan bersamanya. Rencana siang ini Adinda sengaja menculik sang suami agar melepaskan stres ketika meeting tadi. Ia juga sedang mencari cara agar kedua orang tua Gilang tunduk dan mau mengikuti keinginannya.
Di kantor Njawe Group, Tio sangat stres mendengar ancaman dari Gina. Jika Budiman tidak melepaskan jabatannya, maka sang bosnya itu akan mendapatkan akibatnya.
Namun saat itu ada Herman lewat dihadapan mereka. Herman sebenarnya tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Akan tetapi Herman merasa geram dengan ancaman Gina.
Herman yang mengerti hukum itupun terpaksa mendekati Tio. Herman pun menegur Gina yang tidak etis mengancam orang di jalanan. Apalagi saat itu berada di lorong perusahaan. Herman tidak mau masalah seperti ini didengarkan banyak pegawai dan membuat isu tidak baik. Hal ini bisa berdampak tidak baik untuk perusahaannya.
"Tolong ya peringatkan sama Budiman agar melepaskan kursi jabatannya," ancam Gina.
"Maaf ada apa ini?" tanya Herman yang sengaja mendekati Tio.