
“Aku sedang memikirkan SM Company. Aku tidak akan mungkin memikirkan pria lain. Semoga saja Hari ini aku bisa keluar. Untuk menganalisis semua pekerjaanku di kantor.”
Jawab Adinda yang membuat Budiman tersenyum dan kegirangan.
“Ya sudah... Sebentar lagi Andara dan Netty akan ke sini menjengukmu. Katanya sih mereka sangat rindu sekali denganmu. Tapi aku bilang sama dia kemarin. Kenapa nggak rindu sama aku?”
“Ujung-ujungnya jawabannya adalah ngapain juga mikirin kamu.”
Sahut Adinda yang menahan tawanya.
“Bener juga sih. Kemungkinan aku sendiri kena karma. Seharusnya aku tidak boleh egois soal ini.”
Ucap Budiman.
“Lebih baik kamu minta maaf saja sama Andara. Aku yakin Andara pasti memaafkanmu.”
Saran Adinda.
“Semoga saja Andara akan memaafkanku.”
Tidak sengaja Adinda melihat tubuh Budiman yang terekspos dengan sempurna. Bidang dadanya sangat keras sekali jika disentuh oleh tangan. Ditambah lagi dengan perutnya Budiman yang six pack. Yang di mana tubuh Budiman bisa menggetarkan hati wanita manapun. Banyak sekali wanita-wanita di kantornya memintanya untuk dijadikan teman ranjang.
Adinda tersenyum manis sambil menunjuk perut six pack milik Budiman itu. Ia menyuruhnya ke sini dan memegang dengan jari telunjuknya. Ternyata oh ternyata tubuh Budiman sangat keras sekali. Hal ini dikarenakan Budiman memiliki hobi yaitu nge-gym.
“Apakah kamu suka?”
Tanya Budiman sambil tersenyum memandang wajah Adinda.
“Iya aku sangat menyukainya. Apakah ini akan menjadi milikku semuanya?”
Tanya Adinda balik.
“Iya. Semuanya akan menjadi milikmu. Mulai saat ini. Kamu bisa melakukannya. Meskipun kamu tidak perlu minta izin terlebih dahulu.”
Jawab Budiman yang mengizinkan Adinda untuk mengeksplor seluruh tubuhnya.
“Kamu Kok ngomongnya gitu ya. Masih pagi. Ingatlah pagi-pagi begini harus ngapain?”
Kesal Adinda yang memperingatkan Budiman.
“Dibilangin kalau aku hari ini nggak masuk kerja. Biarkanlah Andara dan Tio menghandle semuanya.”
Jawab Budiman.
“Berarti kamu masih normal ya?”
Tanya Adinda yang mulai mengerjai Budiman.
“Masih normal lah Yang. Kata siapa aku nggak normal. Apakah kamu mau mencobanya lagi?”
Tanya Budiman yang sengaja mengerjai balik istri kecilnya itu.
“Selalu saja begitu. Udahlah pakai baju sana habis itu cari sarapan. Lagian pagi-pagi membahas yang sangat aneh sekali buat aku.”
Jawab Adinda yang memutuskan untuk tidur lagi.
“Kamunya sih yang membuatku sangat aneh sekali.”
Jelas Budiman lalu pergi meninggalkan Adinda untuk berganti pakaian.
Adinda hanya bisa pasrah melihat Budiman. Ia lalu meraih ponselnya dan mengecek seluruh pekerjaan.
Di rumah Malik sedang sibuk mengurusi pekerjaannya. Sedangkan Tia sibuk mengurusi sarapan buat anak laki-lakinya itu dan adiknya. Saat menyusun makanan, Herman datang sambil membawa berkas-berkas dokumen. Ia sudah duduk sambil membaca berkas-berkas tersebut.
“Hari ini akan ada pertemuan antara Pak Kartolo dengan Kak Malik. Mereka berdua akan membahas lanjutan penggabungan kedua perusahaan tersebut.”
Ucap Herman kepada Tia.
Tanya Tia yang membuat Herman tertawa.
“Mereka sudah tidak berantem lagi. Mereka sudah menyatu bagaikan pasangan suami istri. Aku harap Budiman bisa melupakan Kanaya. Apakah kakak menyetujuinya? Jika Budiman menjadi suami Adinda?”
Tanya Herman dengan serius.
“Kenapa nggak. Yang namanya jodoh tidak bisa ditebak. Kalau sudah waktunya bersama Kenapa nggak. Sekarang kakak sudah tahu siapa Budiman sebenarnya. Jujur Budiman itu bukan anak yang memberontak. Budiman telah dicuci otaknya sama Kanaya. Jadi ketika kembali sama Adinda aku merasakan kalau Budiman bisa berubah.”
Jawab Tia yang diiringi oleh kedatangan Malik bersama Faris.
“Bagaimana menurutmu jika perusahaan Budiman dan Adinda digabung menjadi satu?”
Tanya Malik kepada Herman.
“Aku sih nggak ada masalah sama sekali. Selama ini perusahaan Njawe Group tidak pernah ada masalah sama sekali. Jadi kenapa tidak? Adinda sudah tidak pusing-pusing lagi mencari kaleng makanan. Dia dengan mudahnya bisa mengambil kaleng itu lalu memproduksi makanan kaleng sebanyak-banyaknya.”
Jelas Herman.
“Bagaimana menurutmu Faris?”
Tanya Malik yang memandang wajah sang putra.
“Sebenarnya sih aku menyesal. Kenapa Budiman nggak tanya-tanya sama aku tentang adikku? Itu untuk masalah pribadiku. Kalau masalah perusahaan nggak jadi masalah. Mau digabung Terserah mau nggak ya udah.”
Jawab Faris yang kesal terhadap Budiman.
“Maafkanlah ayahmu ini. Sebenarnya pendidikan itu adalah pernikahan kontrak. Pak Kartolo sudah mengatakannya kepadaku.”
Ucap Faris dengan jujur.
“Ayah tahu. Pernikahan Adinda itu adalah polemik untukmu. Tapi seenggaknya, biarkanlah Budiman berubah sikapnya dengan dibimbing Adinda. Kalau mereka saling mencintai Kenapa tidak. Surat itu akan dihapuskan untuk selamanya. Aku tahu Adinda bisa membuat Budiman berubah secara drastis. Karena adikmu adalah wanita yang sangat spesial.”
Sahut Malik yang memberitahukan sifat Adinda sebenarnya.
“Jika Budiman berbuat macam-macam kepada adikku. Akulah orang pertama yang akan mengajar Budiman.”
Kesal Faris.
“Kamu nggak boleh memakai kekerasan Faris. Sepertinya Budiman sudah takluk di tangan Adinda.
“Doakan saja yang terbaik buat adikmu. Adikmu itu sudah memiliki prinsip. yang di mana prinsip itu tidak akan pernah bisa ditindas oleh seorang pria. Istilahnya adikmu itu tidak mau tunduk. Jika pria tersebut adalah pria brengsek di matanya. Adinda akan memberontak habis-habisan. Ia akan menyuarakan isi hatinya. Sebab Adinda sendiri adalah wanita modern untuk saat ini. Adinda paling benci jika melihat seorang wanita diinjak-injak martabatnya oleh pria tidak ada guna.”
Jelas Tia yang mengerti sifat Adinda itu.
“Jadi aku harus bagaimana?”
Tanya Faris.
“Sudah kamu tenang saja. Nggak usah terlalu dipikir soal Adinda. Kamu harus mengakui kalau adikmu itu hebat. Bahkan sama Gilang pun, Adinda itu jauh. Adinda lebih sering menyuarakan kebenaran. Sedangkan Gilang sendiri sering sekali membuat masalah dan melemparkannya ke orang yang tidak bersalah sama sekali.”
Malik menjelaskan siapa Adinda yang sebenarnya di matanya.
“Oh iya Kak Malik. Irwan dan Roni semalam ke sini. Roni memberikan sebuah dokumen yang isinya musuh-musuh dari SM company dan Njawe Groups. Mereka sengaja bersatu untuk meruntuhkan kedua perusahaan ini. Tapi pelopornya adalah Gilang.”
Sahut Herman yang meminum air mineralnya.
Malik hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sekarang benar-benar bingung. Jika saja Adinda mengetahuinya, maka mereka tidak akan selamat sama sekali. Adinda akan mengejar mereka lalu dijebloskan ke dalam penjara. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya berkali-kali. Bagaimana bisa jika Adinda mengetahui akan hal itu? Ia juga sadar kalau Adinda sendiri memiliki ilmu hacker yang mumpuni. Meski Adinda Tidak diberitahu, bisa jadi Adinda akan mencari sendiri. Malik hanya bisa pasrah dan membiarkan kasus ini berjalan apa adanya.
“Aku harap Adinda tidak akan mengetahui sebelum dirinya menempuh pendidikan S3 terlebih dahulu.”
Pinta Malik.
“Lalu, Apakah aku harus merahasiakannya terlebih dahulu?”
Tanya Herman yang menatap wajah Faris.