
"Semakin hari semakin lama Budiman semakin gila. Hampir setiap hari para karyawan di amuk karena tidak bertemu dengan Kanaya," jawab Kartolo.
"Lebih baik kita membuat rencana baru," ucap Adinda.
"Rencana apa? Apakah kamu ingin menghancurkan Abang Budiman?" tanya Andara yang menatap wajah sang kakak iparnya itu.
"Ya nggaklah... mana mungkin seorang istri yang berani menghancurkan suaminya seperti itu? Tapi aku akan melakukannya," jawab Adinda sambil melihat wajah Andara sambil tersenyum yang tidak bisa diartikan.
"Sebentar... Aku mendukungmu kakak iparku," seru Andara.
"Ketimbang kamu menghancurkan Budiman. Lebih baik kamu pergi ke Amerika terlebih dahulu. Papa sudah mendaftarkan kamu S3 ekonomi ditambah bisnis dan manajemen," ucap Malik.
"Kalau aku pergi ke sana. Bagaimana dengan Budiman? Sementara dirinya tidak aman dari Kanaya. Aku merasakan ada yang aneh. Makanya aku sendiri sedang bingung. Di saat ingin menyelamatkan Budiman, Kanaya akan membuat rencana yang besar dan menghancurkan aku. Jika aku tidak menyelamatkannya, Budiman yang akan hancur di tangan Kanaya. Itulah kenapa aku sendiri masih tanda tanya. Jujur aku sekarang berada di ujung tanduk. Meskipun Budiman tidak memperhatikanku, seenggaknya aku bisa menyelamatkannya dari wanita ular itu," jelas Adinda yang memiliki hati yang baik.
Kedua pria paruh baya itu pun langsung tertegun. Mereka tidak akan mungkin menjegal keinginan Adinda untuk menyelamatkan Budiman. Memang sedari dulu Adinda sudah berbuat banyak pada keluarga Budiman.
"Gini aja deh. Kamu tetap berangkat ke Amerika untuk kuliah. Kalau kamu nggak kuliah dan mengambil S3. nanti akan banyak orang yang tidak mempercayaimu sebagai CEO di perusahaan ini. Sepertinya kakakmu sudah selesai kuliah S3. Jadi untuk sementara kakakmu akan pulang ke sini dan wakil CEO masih tetap dipegang oleh Herman. Jika kamu selesai kuliah, kakakmu akan kembali lagi ke perusahaan cabang di bagian Eropa," sahut Malik yang memberikan solusi.
"Lalu bagaimana dengan Budiman? Jika Budiman dihancurkan oleh Kanaya?" tanya Adinda yang masih memikirkan tentang Budiman.
"Aku sebagai Papa mertuamu sangat menyetujui pendapat ayahmu. Papa juga sudah angkat tangan mengurus Budiman. Lebih baik kamu korbankan saja Budiman. Biarkanlah Budiman hancur terlebih dahulu. Papa mau lihat seberapa hebatkah Kanaya di depan mata Budiman sendiri. Sebagai gantinya papa diam-diam akan menggabungkan perusahaan keluargaku ke perusahaanmu. Bukan berarti kamu dan Budiman menikah dengan cara politik perusahaan. Agar perusahaan keluargaku aman. Bukan seperti itu ya Adinda dan juga Andara. Papa mengantisipasi akan datangnya badai hebat. Badai hebat ini datang dari Kanaya. Itulah kenapa papa ingin menyelamatkan terlebih dahulu perusahaan keluarga ini," jelas Kartolo yang membuat Adinda tersenyum manis.
"Aku nggak jadi masalah. Mau digabung mau tidak terserah papa. Kalau digabung kemungkinan besar akulah orang yang pertama kali melindungi perusahaan keluarga papa. Sebab aku sendiri sudah mengetahui siapa itu Kanaya. Jika aku berada di Amerika sana. Aku akan meminta temanku untuk melindungi Budiman. Anggap saja sebagai pengawal bayangan. Dia hanya sebagai pemantau saja," ungkap Adinda yang memiliki rencana besar.
"Siapa teman kamu itu?" tanya Malik.
Andara hanya bisa memuji kehebatan Adinda. Memang sedari dulu Adinda sudah memiliki jiwa pemimpin yang baik. Bahkan Adinda sendiri pernah menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya maupun di kampus. Tidak lupa juga namanya sangat terkenal sekali di Harvard university. Jika tidak ada Adinda di tempat itu, seluruh mahasiswa atau temannya akan mencarinya.
"Lebih baik kamu pikirkan aja terlebih dahulu. Kamu nggak boleh menyerah seperti itu. Jika ini demi kebaikan maka lakukanlah. Papa dan Mama selalu mendukungmu hingga cita-citamu sukses. Papa berharap masalah ini cepat selesai," ucap Kartolo sambil memohon kepada Adinda.
"Nanti kita pikirkan terlebih dahulu. Ayah juga nggak suka yang namanya Kanaya. Gara-gara Kanaya calon suami Adinda meninggal dunia. Dia melakukan playing victim. Padahal korbannya tidak bersalah sama sekali. Sampai sekarang aku mendapatkan bukti aslinya. Aku masih belum bisa mengungkap semuanya. Bukan karena aku diam saja. Tapi belum waktunya aku mengajar Kanaya. Papa dan ayah tenang saja. Kita akan lepas dari masalah ini satu persatu," ucap Adinda yang memberikan solusi.
"Papa aku ingin bekerja di sini," ucap Andara secara blak-blakan.
"Kamu itu. Kamu adalah seorang manajer marketing. Harusnya kamu stay di perusahaan keluarga kita," pinta Kartolo agar Andara mau stay di perusahaannya itu.
"Tapi Pa, aku tidak ingin hidup di dalam neraka. Hampir setiap hari aku mendengar keluh kesah anak-anak. Jika Abang begitu terus, kemungkinan besar kita banyak kehilangan karyawan yang berprestasi. Banyak sekali orang-orang yang mengalami depresi hanya karena ulah Abang. Inilah yang aku bingungkan sekarang," kata Andara dengan jujur.
"Dengan begitu lebih baik kita mulai penggabungan perusahaan itu. Agar seluruh karyawan yang kita miliki tidak pergi menjauh. Nanti papa akan membiarkan lebih lanjut lagi dengan mama. Jika seandainya mamamu mau, kenapa kita tidak melakukannya. Jadi tunggu saja keputusan mamamu untuk beberapa hari ke depan," ucapkan tolo yang pasrah dengan keputusan Sang Putri.
Malik dan Adinda merasa kasihan dengan Kartolo. Jujur mereka tidak menyangka kalau Budiman sudah bertindak dengan kasar. Diam-diam Budiman selalu mengambil keputusan yang tidak dimengerti oleh Kartolo. Ditambah lagi Budiman sekarang menjadi temperamental.
"Bagaimana dengan Mas Tio?" tanya Adinda.
"Biarkan saja. Mas Tio akan tetap di perusahaan. Mau tidak mau aku akan memberikan kendali perusahaan pada Mas Tio," jawab Kartolo.
Mereka hanya saling memandang dan bingung. Adinda langsung merasakan kepalanya pusing. Kenapa dirinya memiliki suami yang hidupnya sangat rumit seperti ini? Prinsip Adinda adalah menikah demi menjalankan misi dan visi kehidupan. Yang di mana misi dan visi itu harus di tanggung bersama.
Sekarang hati Adinda sedang bertanya. Apakah menikah akan membuat dirinya sengsara? Apakah menikah akan membuat dirinya menderita? Mau tidak mau Adinda harus mencari cara agar Budiman kembali kehidupannya. Jika tidak kembali Adinda akan melepaskannya begitu saja. Masih banyak pria yang sedang mengejar-ngejarnya. Bahkan dirinya sering dikirimkan pesan oleh teman prianya. Teman prianya itu selalu memintanya untuk dijadikan suami. Namun Adinda tidak ingin melakukannya.