
"Entahlah. Aku sendiri juga tidak paham, bagaimana caranya untuk merasakan hidup. Jujur, selama ini hidupku sangat kelam. Bahkan terlalu kelam buat aku. Aku telah kehilangan kasih sayang kedua orang tuaku. Adikku yang sudah mulai menjauhiku. Lalu keluargaku mulai membenciku satu persatu. Aku sangat egois sekali. Bahkan terlalu egois untuk saat ini. Kata orang bahagia itu sederhana. Tapi bagaimana caranya aku bisa membuatnya sederhana dan bisa membahagiakanku bersama orang-orang tercintaku."
Jelas Budiman.
"Ceritanya kamu menyesal? Kenapa harus ada penyesalan di dalam hidupmu? Seharusnya kamu mulai memperbaiki diri dan mendekatlah kepada mama dan papamu. Aku tahu kalau kamu sangat mencintai mamamu. Aku tahu kalau kamu adalah family man. Di mana seorang pria yang sangat mencintai keluarganya. Berubahlah demi mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuamu. Mereka masih membuka pelukan hangat untukmu."
Jelas Adinda yang tidak ingin Budiman terus-terusan menyesal.
"Kamu terlalu baik menjadi orang Din. Entah kenapa aku nggak pantas untuk mendampingimu."
Ucap Budiman yang menundukkan wajahnya.
"Kenapa nggak pantas? Apakah karena aku adalah wanita yang nggak pernah memiliki dendam? Itu salah. Aku memiliki dendam tapi nggak ke kamu. Seiring berjalannya waktu jika orang tersebut masih mengusikku. Dendamku akan semakin bertambah. Aku tidak akan membiarkan dirinya hidup dengan bahagia. Memang, aku sangat jahat. Karena aku telah diinjak-injak oleh yang menganggapnya sebagai wanita hebat di muka bumi ini. Kamu pasti tahu siapa dia."
"Aku tidak ingin menyebutkan namanya. Aku sudah muak dengan namanya itu. Aku harap dia tidak akan kembali ke hidupku lagi. Maka dari itu aku mohon jadilah perisaiku."
Adinda tersenyum hangat sambil memegang tangan Budiman. Ia paham dengan permintaan Budiman. Semakin lama Budiman semakin nyaman berada di sisinya Adinda. Rasa sesak di dalam hati sekarang sudah mulai menghilang perlahan.
Di mata Budiman, Adinda adalah seorang wanita sangat spesial. Jujur, dirinya tidak merasakan cinta seperti ini. Adinda memiliki banyak cara agar dirinya kembali ke sifat lembutnya. Budiman sendiri mengakui kalau dirinya benar-benar menjadi pria yang sangat beruntung.
“Jangan pernah menyesali keadaan. Jika kamu ingin berubah yang menjadi lebih baik kenapa tidak? Memangnya aku enggak mau terima kamu gitu ya? Karena kamu pernah brengsek.”
Ucap Adinda yang membuat Budiman menganggukan kepalanya.
“Ya... kamu benar.”
Jawab Budiman.
“Memang namanya penyesalan datangnya belakangan. Maka jadikanlah guru yang baik. Biarkanlah hidup ini bersediakah apa adanya. Aku akan setia mendampingimu. Asalkan kamu mau berubah dan tidak mau mengulanginya lagi.”
Ujar Adinda yang mengulas senyumnya.
Malam ini adalah malam yang dimana Budiman menyematkan nama Adinda di dalam hatinya. Ia ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi. Ia akan belajar menjadi manusia baik dan akan menyayangi istri dan keluarganya kelak.
Selesai makan malam, Adinda meminta pulang ke rumah. Karena Adinda merasakan perutnya sudah baik-baik saja. Budiman menggelengkan kepalanya sambil melarangnya untuk tidak pulang ke rumah. Budiman bilang, Adinda harus dirawat selama satu Minggu. Adinda langsung mencebik dan membalikkan badannya. Melihat sang istri mencebik mulutnya, Budiman mendekatinya lalu mencium mulut Adinda. Lalu Budiman mengajaknya tidur.
Malam ini terasa dingin sekali. Herman yang sendirian di taman menikmati teh hijau. Tiba-tiba saja datang Roni dan Irwan. Kedua orang itu langsung mendekati Herman sambil menghempaskan bokongnya di depan Herman.
“Bagaimana kasusnya?”
Tanya Herman yang menaruh cangkirnya di meja.
“Sungguh rumit. Kanaya sudah kabur ke London siaang tadi.”
Jawab Irwan menaruh kopinya di atas meja.
“Sungguh licik sekali. Ini pasti dibantu oleh Gilang.”
Ucap Herman yang mengingat bagaimana Rizal terbunuh.
“Kasusnya Rizal bisa dibuka lagi?”
“Entahlah. Selama Gilang masih ada berada di Indonesia. Aku belum berani mengungkap kasus kematian Rizal. Gilang bisa saja menuduh Adinda melakukannya. Soalnya di TKP ada Adinda.”
Jelas Irwan yang sedang mencari celah.
“Kasus keracunan makanan itu?”
Tanya Herman yang masih tanda tanya.
“Yang namanya Gilang tetap Gilang. Dia memiliki alibi kuat. Ditambah lagi dirinya bisa memutar balikkan fakta. Jika kasus ini diungkap akan berdampak untuk pada SM Company. Dia bisa menjatuhkan perusahaan kamu. Soalnya aku sudah beberapa bulan ini mempelajari pola pikir Gilang. Jadi bisa dikatakan playing victim.”
Jelas Irwan mengetahui semuanya tentang Gilang.
“Jadi istilahnya kita harus bersabar dengan keadaan ini?”
Tanya Herman.
“Iya. Kita harus mencari kelemahannya. Setelah ditemukan kelemahannya, kita bisa menyerangnya dari berbagai arah.”
Jawab Irwan.
“Sepertinya Gilang ada sangkut pautnya dengan mafia?”
Tanya Herman.
Jawab Roni yang membuka jaketnya dan memberikan sebuah amplop coklat ke Herman.
“Apa ini?”
Tanya Herman bingung dengan amplop coklat itu.
“Disitu banyak sekali nama-nama musuh Njawe Group dan SM Company. Mereka ingin menghancurkan kedua perusahaan tersebut.”
Jawab Roni dengan jujur.
“Dari mana kamu mendapatkan mereka?”
Tanya Herman sambil membuka amplop itu dan membacanya.
“Kamu enggak tahu saja. Kalau aku selama ini bekerja sama dengan Adinda. Kamu tahukan kalau Adinda adalah seorang hacker sangat profesional. Dia sengaja mempelajari karena tidak percaya dengan anak IT di perusahaannya sendiri.”
Jawab Roni sambil meraih rokok milik Irwan.
“Apa?”
Tanya Herman dengan terkejut.
“Ya... itu benar. Dia benar-benar belajar di Amerika dengan orang memiliki kemampuan hacker sungguh luar biasa.”
Roni menjawabnya sambil mengingat nama hacker tersebut.
“Siapakah dia?”
Tanya Herman tiba-tiba saja penasaran sekali.
“Dia termasuk hacker putih. Yang dimana dia sering melakukan membobol banyak perusahaan. Lalu dia akan melaporkannya ke sedang empunya perusahaan.”
Jelas Roni yang menyulut rokoknya.
“Sepertinya aku mengenalnya. Kalau enggak salah Yuki. Orang Jawa berketurunan Jepang. Kalau bicara dialeg Jawa sangat kental. Meskipun tinggal di luar negeri tapi dialognya tidak berubah sama sekali.”
Sambung Irwan.
“Kok kamu tahu soal Yuki?”
Tanya Roni mengerutkan keningnya.
“Dia kan kekasihku. Kami berencana ingin menikah dua tahun ke depan. Karena tahun depan giliran kakakku menikah.”
Jawab Irwan tersenyum manis karena mengakui hubungannya dengan Yuki.
“Beruntung ya... kamu memiliki kekasih tukang hacker.”
Puji Herman.
“Ada enaknya. Ada enggaknya. Enaknya aku kalau mencari informasi tentang apapun itu. Dia memberikan separuh harga kalau soal pekerjaan. Kalau pribadi free. Enggak enaknya kalau dia sibuk di depan komputer.”
Jelas Irwan agak cemburu dengan komputernya milik Yuki.
“Ya... sudah dech. Thanks atas informasinya.”
Ucap Herman sedang membaca surat tersebut.
“Apa yang kamu lakukan setelah ini?”
Tanya Roni.
“Yang akan aku lakukan untuk saat ini adalah menyerahkan bukti ini ke Adinda. Adinda harus tahu semuanya sebelum berangkat ke Harvard. Keadaannya Adinda sudah tidak aman saat ini. Begitu juga dengan Budiman. Jadi pihak keluarga sini dan Budiman memutuskan untuk menerbangkan mereka berdua ke Harvard.”
Jelas Herman.
“Lalu disini siapa yang pegang?”
Tanya Roni dengan penasaran.