
"Itu benar pak. Apa yang dikatakan oleh Adinda itu hanya akal-akalannya saja. Kalau tidak Kanaya akan terus memburunya dan membunuh Andara," jawab Tio.
"Apakah Budiman tahu?" tanya Kartolo.
"Budiman sudah tahu Pak. Tapi dia tidak pernah memperdulikan adiknya yang sedang dalam bahaya. Pernah suatu ketika Adinda mendatangi kantor. Adinda bilang kalau Andara dalam bahaya. Bahkan Adinda sendiri memberitahukan kepada Budiman, kalau Kanaya lah yang membuat ulah dan ingin membunuh Andara. Tapi Budiman mengatakan Kalau Adinda sedang halu. Bahkan Budiman mengancam Adinda agar tidak membicarakan yang jelek-jelek tentang Kanaya. Padahal yang dikatakan oleh Adinda benar apa adanya. Budiman masih setia pada Kanaya. Dia sepertinya tidak memperdulikan keadaan keluarganya sendiri. Soal ancaman Kanaya, Budiman malah menutup matanya sendiri," jawab Tio sambil menjelaskan duduk perkaranya.
Kartolo pun hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam dan membuangnya. Bagaimana bisa Budiman tidak memperdulikan adiknya? Bahkan Budiman sendiri malah membela Kanaya habis-habisan.
Setiap ada persoalan tentang Kanaya, Budiman langsung membantunya. Iya tidak peduli lagi dengan omongan banyak orang. Ketika ada seseorang yang membicarakan Kanaya, Budiman langsung turun tangan dan melaporkan ke pihak aparat. Budiman tidak ingin Kanaya menderita hanya karena omongan orang.
"Kalau diteruskan begini, kita bisa gila hanya karena Budiman. Apakah aku harus mencari cara agar Kanaya bisa dilemparkan ke negara lain?" tanya Kartolo.
"Maaf Pak. Kita tidak memiliki kekuasaan yang besar," jawab Tio.
"Aku akan pergi ke rumah Malik sekarang. Kamu harus ikut denganku," ajak Kartolo. "Sebelum pergi kamu persiapkan semuanya surat-surat perusahaan itu. Aku akan menyerahkan kepada Malik untuk sementara waktu."
"Apakah bapak serius?" tanya Tio.
"Aku serius dengan perkataanku. Aku tidak ingin berlama-lama lagi Budiman memegang perusahaan ini," jawab Kartolo. "Apakah kamu tahu penjualan beberapa bulan terakhir ini?"
"Saya tahu Pak.maka dari itu saya kesini hanya untuk melaporkan kondisi perusahaan kita," jawab Tio.
"Budiman sepertinya tidak sanggup lagi untuk memegang perusahaan ini. Satu-satunya jalan perusahaan ini akan kuberikan kepada Adinda terlebih dahulu. Seluruh fasilitas yang dimiliki oleh Budiman akan kucabut semuanya. Jika dia melawanku, dia akan mendapatkan hukuman setimpal dariku," jelas Kartolo.
Setelah mereka berbicara tentang keadaan perusahaan maupun Budiman. Kartolo memutuskan untuk pergi ke rumah Adinda malam ini juga. Kartolo menugaskan Tio untuk menyiapkan beberapa file tentang perusahaan itu.
,"Tolong siapkan semuanya. Aku tidak ingin ketinggalan berkas apapun. Anggap saja aku menggadaikan perusahaan itu demi menyelamatkan dari Kanaya," perintah Kartolo.
Tio akhirnya menuruti keinginan Kartolo. Sebagai asistennya maupun sahabatnya Tio sendiri tidak sanggup menghadapi Budiman. Mau tidak mau Rio akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan Budiman melakukan apapun yang dia suka.
Selesai menyiapkan berkas-berkas tersebut, mereka akhirnya langsung menuju ke rumah Adinda. Sebelum pergi Kartolo mendekati Kamila sambil berkata, "Aku harus melakukan ini."
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kamila.
"Mau tidak mau aku akan menyerahkan dokumen-dokumen perusahaan ke Malik. Jika tidak maka bisa berakibat fatal," jawab Kartolo dengan wajah sendu.
"Apakah kamu serius dengan semuanya?" tanya Kamila.
"Aku serius dengan semuanya. Mulai besok seluruh fasilitas yang dimiliki Budiman akan kucabut. Budiman sudah tidak dapat lagi merasakan apapun," jawab Kartolo yang membuat Kamila bersedih.
"Apakah kamu serius melakukannya? Budiman itu masih anak kita," tanya Kamila sekali lagi.
"Mama tahu nggak selama ini kita dibohongi. Budiman kan sudah berjanji untuk tidak bertemu dengan Kanaya. Tapi apa, Budiman sudah menghancurkan harapan kita. Jujur aku tidak menyukai Kanaya sama sekali. Sedari awal Budiman membawa Kanaya pulang, wanita itu meremehkan kita dan menganggap rendah. Apakah mama mau selamanya bergelut dengan dosa-dosa ini?" tanya Kartolo.
"Jalan satu-satunya adalah melemparkan Budiman ke Kanaya. Beberapa bulan lagi, Adinda akan pergi ke New York. Di sana dia akan mengambil jurusan S3 nya untuk menunjang pekerjaan selanjutnya," jelas Kartolo.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan kita? Jika Budiman telah dilemparkan ke Kanaya," tanya Kamila.
"Tenang saja. Meskipun Adinda berada di New York. Dia mencari bantuan ke temannya itu. Dia akan meminta temannya itu menyediakan mata-mata untuk mengikuti Budiman. Sekalian Adinda mengumpulkan banyak bukti dari Kanaya dan memberikannya pelan-pelan ke Budiman," jawab Kartolo.
"Apakah itu cara yang ampuh buat Budiman?" tanya Kamila.
"Insya Allah. Dengan cara inilah kita bisa membuat Budiman menjadi sadar," jawab Kartolo. "Lebih baik kita berdoa saja yang kuat. Agar Budiman dapat sadar dari Kanaya."
Dengan terpaksa Kamila melepaskan perusahaannya terlebih dahulu. Kalau tidak perusahaan itu dalam bahaya besar. Kamila harus menghadapi Kanaya yang ingin menguasai perusahaannya itu.
Mereka akhirnya berangkat menuju ke rumah Malik. Di dalam perjalanan, Kartolo hatinya juga gelisah. Mungkin dengan cara inilah, Kartolo harus menyerahkan perusahaan itu ke tangan Malik untuk sementara waktu. Sedangkan Tio, Tio akan menurut apa kata Kartolo. Meskipun Tio dan Kartolo tidak memiliki hubungan darah.Namun mereka berdua memiliki ikatan batin yang kuat.
"Aku terpaksa melakukannya Tio. Mungkin dengan cara inilah Budiman akan sadar," jelas Kartolo.
"Aku tahu pak. Mau bagaimana lagi bapak melakukan sesuatu kepada Budiman," ujar Tio yang serius membawa mobil.
"Ingatlah, ini hanya sementara. Jika Budi tidak sadar. Maka aku akan mencoretnya dari kartu keluargaku sendiri. Aku ingin lihat Bagaimana Budiman diperlakukan oleh Kanaya? Apakah Kanaya memiliki cinta yang tulus kepada Budiman?" tanya Kartolo.
"Sedari awal aku melihatnya, dia tidak pernah mencintai Budiman sama sekali. Dia hanya memanfaatkan Budiman. kalau bapak ingin tahu semuanya tanyakan saja pada Herman atau Faris. Merekalah yang tahu sifat Budiman sebenarnya," jelas Tio yang tidak ingin menjelek-jelekkan Budiman di depan Kartolo.
Kartolo hanya diam saja dan tidak ingin berbicara lagi. Apa yang dikatakan oleh Tio benar adanya. Ia akan menjadi informasi tentang Budiman sebelum mengenal Kanaya. Di sisi lain Kartolo hatinya sangat pedih. Bagaimana anak laki-lakinya itu terjerat pada cinta buta seperti itu? Padahal dirinya sudah memberikan aba-aba untuk Budiman agar tidak jatuh cinta terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah Malik, mereka disambut hangat oleh keluarga Malik. Kebetulan sekali ada Herman di sana. Malik langsung mengajaknya ke ruangan kerjanya.
"Lho, kamu di sini juga Herman?" tanya Kartolo.
"Dia adalah adik saya," jawab Malik.
"Tak sangkain ini anakmu," ucap Kartolo.
"Banyak sih yang bilang begitu. Semenjak kematian papa, Aku diminta untuk mengurus Herman hingga seperti ini.tapi syukurlah Herman sekarang menjadi pengacara sukses dan handal di mana-mana. Dia juga adalah wakil CEO dari perusahaanku," jelas Malik.
"Wah kebetulan sekali," ucap Kartolo.
"Kebetulan Bagaimana Pak?" tanya Malik.
"Aku ingin menanyakan tentang Budiman sewaktu di sekolah dulu. Dan bagaimana kisah Budiman bersama Kanaya?" tanya Kartolo balik.