
Pria muda itu meminta Irwan pergi ke rumah sakit. Ia sangat cemas sekali pada keadaan Adinda. Ia terus berharap berdoa agar Adinda baik-baik saja.
Perjalanan menuju ke rumah sakit membutuhkan waktu tiga puluh menit. Untung saja daerah itu tidak terjebak macet. Akhirnya Irwan bisa memacu kendaraan hingga di batas kecepatan.
Sesampainya di rumah sakit, Irwan dan pria muda itu langsung menuju ke arah ruangan UGD. Di sana sudah ada Budiman dan Tio. Mereka tidak sengaja melihat baju Budiman terkena banyak darah.
"Gimana keadaannya?" tanya pria muda itu.
"Dokter belum keluar dari ruangan," jawab Tio.
"Kenapa ada Budiman disini?" tanya Irwan yang mengerutkan keningnya.
Budiman mengangkat kepalanya lalu melihat Irwan. Lalu matanya beralih ke arah pria muda itu. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Ia bingung apa yang harus dikatakan sekarang. Jika ia mengatakan kalau Adinda adalah istrinya? Siap-siap saja ia akan mendapatkan bogem mentah dari pria muda itu.
Ternyata pria muda itu adalah Faris. Faris adalah kakak kandung Adinda. Yang dimana Faris sangat menyayangi Adinda. Hampir setiap hari Faris selalu menghubungi Adinda demi menanyakan kabarnya. Begitu juga sebaliknya, Adinda juga sering menghubungi Faris demi mendapatkan kabar di Jakarta.
"Ngapain lu ada disini?" tanya Faris yang melihat Budiman.
Beberapa saat kemudian datang Malik dan Tia. Pasangan suami istri segera mendekat dan menatap keberadaan Faris dan Budiman. Setelah itu dari arah berlawanan datang Herman bersama Andara. Mereka langsung menyerbu untuk menanyakan kabar Adinda.
"Bagaimana dengan kabar putriku?" tanya Tia yang memegang tangan Budiman.
''Maaf Bu. Dokter belum keluar dari ruangan. Kami disini sedang menunggu laporan dari dokter," jawab Budiman dengan wajah lesu.
Tak lama pintu terbuka. Seorang suster sedang dalam kepanikan langsung keluar dari ruangan dokter. Suster itu segera mendekat ke arah Budiman dan Tio.
"Maaf... apakah Anda keluarga pasien?" tanya suster itu.
"Saya suaminya dok," jawab Budiman sambil menatap suster itu.
Apakah Budiman tidak tahu kalau di sekitarnya ada Faris dan Irwan? Budiman sudah tidak peduli lagi. Masalah terkena bogem itu adalah masalah belakangan. Ia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya setelah ini. Ia tidak perduli lagi dengan Garis untuk saat ini.
"Bagaimana kabar putriku sus?" tanya Tia yang semakin panik menatap wajah suster itu,
"Maaf pak, bu, keadaan pasien sangat mengkhawatirkan. Pasien kehilangan banyak darah. Kami sudah mencarinya ke beberapa rumah sakit, tapi tidak menemukannya," jawab suster itu.
"Golongan darah apa yang dibutuhkan oleh istri saya sus?" tanya Budiman yang semakin panik.
"O negatif. Untuk saat ini golongan darah ini tidak tersedia," jawab Suster itu.
"Dok... ambil darah saya," pinta Budiman yang memiliki golongan darah yang sama.
"Golongan darah tuan apa?"
Suster itu menanyakan golongan darah yang dimiliki oleh Budiman.
"Saya memiliki golongan darah O negatif."
Budiman menjawab agar berharap bisa menolong keadaan Adinda.
"Kalau begitu mari ikut saya," ajak suster itu.
Sementara lainnya hanya bisa terdiam. Tia dan Malik membiarkan Budiman menolongnya. Sedangkan Tio bersama Herman agak menjauhi Faris bersama Irwan yang memiliki pertanyaan mengarah ke Budiman.
"Ini gawat," ucap Tio yang merasakan Faris berubah drastis.
"Memangnya ada apa?" tanya Herman yang tidak sadar atas perubahan Faris.
"Masa kamu enggak tahu perubahan Faris dan Irwan? Mereka sedang menyiapkan pertanyaan buat kita," jawab Tio yang merasa dirinya terancam.
Herman mencoba melirik ke arah Faris. Yang dimana Faris merasakan perubahan signifikan. Sebenarnya Herman juga bingung dengan Pernikahan Adinda maupun Budiman.
"Dia sedang bingung sama kayak aku. Aku sendiri masih bertanya-tanya tentang pernikahan mereka berdua. Apakah Adinda dipaksa menikah oleh Budiman? Setahuku Budiman tidak pernah mencintai Adinda sama sekali. Jika Bertemu mereka jarang bertegur sapa," jelas Herman yang mengetahui sifat Adinda dan Budiman tidak searah.
"Lalu bagaimana ini?" tanya Tio.
"Berikan kabar ini ke Budiman. Biarkan dia tanya tentang pernikahan adiknya itu."
Budiman bersama sang Suster itu masuk ke dalam ruangan lainnya. Di sana Budiman diperiksa darahnya. Apakah Budiman memiliki darah yang bagus? Atau juga Budiman tidak memiliki darah sehat? Sebab Budiman sering sekali meminum alkohol jika bersama Kanaya.
Hampir setengah jam, Budiman diperiksa. Budiman sangat beruntung sekali, darahnya sehat dan bisa memberikannya ke Adinda.
"Bagaimana suster? Apakah darahku layak untuk disumbangkan ke istri saya?" tanya Budiman yang harap-harap Dimas dengan keadaan Adinda.
"Darah Tuan sangat bagus sekali. Setelah ini kita akan mengadakan donor darah," jawab Suster itu.
Budiman tidak menjawab namun hanya menganggukkan kepalanya. Ia berharap kalau darahnya Ini bisa memberikan kehidupan buat Adinda. Seharusnya Budiman yang terluka ketimbang istri kecilnya itu.
Baru beberapa jam mereka berkenalan dan saling bertegur sapa, Kenapa kejadian ini terjadi? Inilah yang membuat Budiman menyesal. Dirinya ingin menangis saja dan meminta Adinda segera bangun.
Selesai pemeriksaan, suster membawa Budiman ke ruangan IGD. Di sana Budiman berbaring untuk melakukan transfusi darah. Para suster yang berjaga di sana mengerti apa yang dirasakan oleh Budiman. Mereka sangat bersedih ketika melihat Adinda tidak berdaya.
Di luar Faris masih bertanya-tanya. Pria muda itu mendekati Malik dan Tia. Faris mencoba untuk menatap wajah sang ayah. Namun ia tidak sengaja melihat sang ayah sangat bersedih sekali. Akhirnya Faris memutuskan untuk tidak bertanya apapun tentang Adinda bersama Budiman.
Hampir tiga jam Budiman menatap Adinda yang masih tertidur. Budiman mencoba untuk membangunkan Adinda melalui suara hatinya. Namun apa daya, Adinda masih tidak memiliki respon apapun.
Saat selesai menjalankan transfusi darah, Budiman akhirnya turun dari ranjang. Kepalanya sangat pusing dan mencoba menatap Adinda. Laluada suster yang membawakannya susu dan juga telur. Di sana Suster itu meminta Budiman untuk mengkonsumsinya.
Budiman menuruti apa kata suster. Setengah jam berlalu keadaan Budiman sudah mulai membaik. di sana Budiman memutuskan untuk keluar dari ruangan IGD. Ia menceritakan keadaan Adinda sebenarnya.
Seluruh orang yang mendengarnya sangat terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Adinda masih dalam keadaan kritis. Mereka memutuskan untuk berdoa bersama-sama. Agar Adinda bisa sadar kembali.
Faris yang dari tadi curiga pada Budiman segera mendekatinya. Ia meminta Budiman untuk mengikutinya. Mau tidak mau Budiman mengalah dan mengikuti Faris.
Faris akhirnya mengajak Budiman ke sebuah lorong kosong. Kemudian Faris memukul Budiman hingga jatuh tersungkur. Budiman tidak menyerangnya atau juga membalasnya. Ia memilih untuk diam tanpa harus memperpanjang masalah ini.
"Lu kenapa nggak bilang sama gue? Jika lu nikahin adik gue?" geram Faris Faris.
Ketika Budiman sedang melakukan transfusi darah, Faris menanyakan atas kebenaran yang diucapkan oleh Budiman kedua orang tuanya. Saat itu Faris sangat terkejut sekali. Kenapa dirinya tidak diberitahukan kalau adiknya menikah dengan sahabatnya itu? Memang, kali ini Faris benar-benar kesal dan memaki Budiman habis-habisan. Namun Budiman memilih diam saja.
Setelah mengeluarkan amarahnya, Faris menatap Budiman. Lalu Faris menanyakan bagaimana ini bisa terjadi? Akhirnya Budiman menceritakan kronologis sebenarnya. Garis yang mengetahuinya sangat geram sekali kepada para preman itu. Kemudian Faris menghubungi Herman segera datang ke sini.
Tak butuh waktu lama, Herman datang dan menatap wajah Budiman. Kemudian matanya juga menatap ke arah Faris sambil bertanya, "Ada apa?"
"Aku mau kamu mengurusi kasusnya Adinda. Aku yakin preman itu adalah suruhan seseorang. Yang di mana preman itu dibayar untuk menghabisi Budiman maupun Adinda!" Perintah Faris ke Herman.
"Ceritakan ciri-cirinya bagaimana?"
Herman menanyakan ciri-ciri preman itu sambil mengingat kejadian tadi sore. Kemudian Budiman menceritakan ciri-cirinya bagaimana? Apa yang dikatakan oleh Budiman ternyata benar. Preman itu adalah preman sewaan dari Kanaya.
Herman memiliki kemampuan untuk mengingat orang. Yang di mana dirinya sering sekali mendeteksi orang-orang di sekitarnya. Meskipun tidak mengenalnya, Herman sering sekali bertegur sapa dengan mereka.
"Ternyata benar dugaanku," ucap Herman yang mengepalkan tangannya lalu memukul dinding rumah sakit.
"Maksud kamu apa?" tanya Budiman.
"Ternyata preman itu adalah suruhan dari Kanaya. Kanaya ingin mencoba membunuhmu atau membunuh Adinda. Setiap aksinya Kanaya selalu menyewa preman agar bisa menghabisi lawannya. Sekarang yang diincar adalah kamu atau Adinda," jawab Herman yang membuat Faris terkejut.
Nama Kanaya di telinga Faris sudah tidak asing lagi. Dahulu Kanaya ingin sekali menjadi pacarnya. Namun Faris menolaknya. Sebab Kanaya bukan tipe keibuan dan penuh kasih sayang. Maka dari itu Faris menolaknya dengan mentah-mentah.
"Ternyata dia masih hidup?" tanya Faris.
"Kamu tahu kan Rizal Kurnia?" tanya Herman yang membuat Budiman terkejut.
"Ya aku tahu itu," jawab Herman. "Memangnya kenapa?"
"Kanayalah yang telah membunuh Faris. Saat itu Rizal baru saja keluar dari perusahaan. Di belakangnya ada Adinda. Mereka sengaja memakai mobil yang berbeda. Lalu mobil Rizal dihentikan oleh sekelompok preman. Di sana para preman itu pun menghentikannya. Mau tidak mau Rizal akhirnya keluar dari mobil dan bertanya. Para preman itu tidak menjawab langsung menusukkannya tepat di bagian perutnya yang dekat dengan jantung. Rizal saat itu mati di tempat," jelas Faris.
"Sepertinya Adinda pernah menceritakan ini kepadaku," celetuk Budiman.
"Di mana Adinda menceritakannya?" tanya Faris yang mulai serius.