Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 120



Kamila memandang wajah putrinya sambil mencari kata-kata terbaik. Ia juga membandingkan antara Kanaya maupun Adinda. Keduanya memang sangat jauh sekali. Bahkan Kamila sendiri mengetahui kalau Kanaya adalah seorang penipu ulung. Kanaya sering sekali berkata yang tidak jelas kepada Kamila. Lain halnya dengan Adinda. Adinda sudah membuktikan itu semuanya. Meskipun Adinda anaknya orang kaya. Namun Adinda adalah seorang anak yang mandiri. 


"Ya beda jauh. Sudut pandang dari mama untuk kedua Wanita itu sangat berbeda jauh. Kanaya melakukan apapun tanpa pikir panjang. Dia selalu saja memakai kekerasan atau penikaman terhadap orang lain Jika tidak suka. Dia menyebut diri sendiri adalah Ratu kekuasaan dalam segala hal. Sedangkan Adinda, meskipun dia adalah CEO terkenal, dia tidak pernah membanggakan dirinya sebagai penguasa. Dia malah berkata aku ini seperti orang kecil saja di mata sang pencipta. Beda dengan lainnya. Maka dari itu Adinda menyebutnya manusia biasa yang diberikan kecerdasan untuk meraih cita-citanya," jawab Kamila yang menjelaskan siapa sih kedua wanita itu dari sudut pandangnya.


"Memang benar. Aku juga memiliki jawaban seperti itu. Sekarang kita harus bersyukur dan membuat strategi agar semuanya bisa lepas dari cengkraman mereka berdua," ucap Andara.


"Satu-satunya adalah doa. Doakanlah mereka terbaik. Jika mereka berhasil menjatuhkan kekuatan, kemungkinan besar kedua orang itu akan runtuh seketika," jelas Kamila.


Andara pun tersenyum lalu berdoa dalam hati. Hampir setiap Sholat, Andara selalu memanjatkan doa agar masalah ini cepat selesai. Jujur baginya sedari dulu hidup keluarganya tidak pernah aman ketika ada Gilang. Padahal keluarganya itu tidak pernah membuat masalah kepada Gilang. Terutama pada Budiman. 


Selesai makan, Adinda mengajak Budiman pergi ke toko berlian. Ia hampir lupa untuk mengambil pesanannya yang telah dipesan sebelum menikah.


"Aku lupa sesuatu," celetuk Adinda.


"Apa itu?" tanya Budiman.


"Sebelum kita menikah, aku memesan sebuah kalung yang memiliki berlian sebesar nol koma tiga gram sebanyak sepuluh biji. Aku sudah memesannya dari Kak Claudia. Dia adalah sepupu dari pihak mama. Aku harap kamu ikut denganku," jawab Adinda sambil menarik Budiman untuk menuju ke lantai lima.


"Ya sudah kamu ambil saja dulu. Aku akan melihat-lihat berlian di sana," ucap Budiman yang menyuruh Adinda mengambil pesanannya itu.


"Oh baiklah. Terima kasih sayangku," sahut Adinda sambil memeluk Budiman dari samping dan menciumnya.


Budiman langsung pergi ke angkasa. Baru kali ini Adinda memberikan ciuman pertamanya kepada Budiman. Lalu Adinda melepaskan Budiman dan menggandengnya. Betapa bahagianya hati Adinda terhadap Budiman. Begitu juga dengan sebaliknya, semuanya menjadi bahagia hanya karena ciuman dadakan itu.


"Kamu itu membuat aku malu saja. Aku sayang kamu akan menolakku untuk mengajak mengambil liontin itu. Kak Claudia memesan untukku bertepatan dengan hari ulang tahunku beberapa bulan yang lalu. Ketika aku ulang tahun Kak Claudia lupa kadonya. Akhirnya dia sengaja mendesain kalung yang bertaburkan berlian sebanyak sepuluh buah. Sebenarnya Aku menolak. Karena berlian yang dijualnya tidak main-main harganya. Aku ini orangnya tidak enakan. Di rumah juga masih banyak berlian yang aku simpan," jelas Adinda.


"Kamu lebih menyukai berlian ketimbang uang?" tanya Budiman yang berjalan menuju rumah Diamond.


"Aku tidak menyukai berlian sedikitpun. Tapi aku mendapatkan masukkan dari mereka agar bisa menyimpan beberapa berlian. Jika suatu hari nanti, berlian itu bisa memiliki harga yang sangat tinggi dan langka. Aku bisa menjualnya. Bahkan aku bisa mendapatkan keuntungan bertubi-tubi. Dan benar saja. Pada waktu itu berlian berwarna ruby sedang langka. Aku mencoba menjualnya di situs penjualan berlian cukup terkenal. Aku malah mendapatkan untung yang sangat banyak sekali. Itulah kenapa mereka menyuruhku membeli banyak berlian," jawab Adinda yang membuat Budiman paham.


"Boleh juga ide kamu itu. Ya sudah uangnya kamu belikan saja berlian yang banyak. Siapa tahu nanti ketika sudah tua, kita bisa menjualnya untuk membangun panti asuhan," pinta Budiman.


"Ya nggak sekarang lagi Kak. Nggak bisa langsung dapat sepenuhnya. Kalaupun dapat sekarang harganya sangat mahal sekali. Maka dari itu aku tidak akan membelinya terlebih dahulu," jelas Adinda yang tidak merugi sedikitpun.


"Ternyata hitungan kamu benar. Beberapa hari terakhir aku selalu memperhatikan harga jual berlian. Misalnya mama ingin menjual berliannya. Tapi mama menunggu harga jualnya sedang tinggi. Mama nggak mau rugi sedikitpun," jelas Budiman.


"Itu kan yang ngajarin mama. Kalau nggak, aku nggak bakalan mau beli kayak gitu," ungkap Adinda yang membuat Budiman terkejut.


"Apakah itu benar?" tanya Budiman.


"Iya itu benar. Aku memang diajarkan mama untuk menginvestasikan uangku kepada berlian. Tapi nggak semuanya. Aku hanya memilih berlian yang kecil-kecil saja," jawab Adinda.


Budiman pun tercengang mendengar jawaban dari sang istri. Jadi ilmu menginvestasikan uang Adinda ke berlian itu semuanya ulah dari sang mama. Ya tidak Mama juga. Herman dan Faris juga mengatakan hal yang sama. Namun Budiman sendiri sangat bahagia sekali mendengarnya. Ternyata Adinda lebih cerdik ketimbang Kanaya.