
“Jangan penasaran
seperti itu. Kamu akan menyukainya dan akan terus-terusan kesana,” ucap Budiman
yang menyuruh Andara diam.
Andara hanya tersenyum
manis. Sedangkan Budiman mengetahui kalau sang adik tersenyum. Baru kali ini
sang adik bisa tersenyum karena sikapnya itu.
Masih berada di tempat
Alexandro, Rizal sangat kaihan sekali kepada sang istri. Ia tidak bermaksud
untuk menyakiti hati sang istri. Ya... mau bagaimana lagi? Nyatanya Rizal tidak
bisa menahan kerinduan yang sangat mendalam sekali.
Kalau saja Kanaya tidak
membuatnya menjadi kacau. Kemungkinan besar, Rizal sudah bersanding dengan
Adinda. Namun disisi lain Rizal tidak boleh egois sama sekali. Ia tidak boleh
mengatakan kalau Adinda miliknya.
Rizal segera memeluk
Yuki dan mengucapkan kata maaf sambil mengelus-elus punggung Yuki. Ia tidak
menyangka kalau kejujurannya telah menghancurkan hati sang istri. Ia lalu
memeluknya dengan erat.
Lalu bagaimana dengan
sang pemilik butik tersebut? Alexandro sengaja menutup butiknya dan membiarkan
mereka meluruskan semua masalah. Ia memang sengaja agar masalah ini tidak
berlarut-larut hingga esok hati. Alexandro berharap kalau di kemudian hari
tidak akan adanya seorang pelakor di rumah tangga teman-temannya.
“Sayang, maafkan aku.
Aku memang salah untuk saat ini. Jika kamu menghukumku maka hukumlah. Jangan
kamu pernah membenci mereka. Mereka enggak salah. Hanya aku yang salah. Aku tadi
sengaja ingin tahu tentang perasaannya. Ternyata dia sangat mencintai Budiman.
Aku sangat lega bisa melepaskan Adinda. Bahkan Adinda lebih memilih Budiman.
Sekarang aku tenang dan bisa hidup bersama kamu,” jelas Rizal yang masih dalam
posisi yang sama sambil memeluk Yuki.
Mau tidak mau Yuki
memberikan maaf kepada Rizal. Ia terbuka mau menerima Rizal dengan masa lalunya
itu. Yuki melepaskan pelukan erat dan menatap mata Rizal yang sepertinya lega
dengan keputusan Adinda.
“Jangan kamu cari lagi
Adinda. Jangan kamu cintai wanita yang sudah bersuami. Kalau kamu melakukannya,
aku akan pergi dari hidupmu,” pesan Yuki yang membuat Rizal menganggukan
kepalanya.
Alexandro tidak sengaja
mendengar apa yang dikatakan oleh Yuki. Pria berkacamata itu menepuk bahu
Rizal. Ia tersenyum manis sambil berkata, “Jangan pernah sekali-sekali kamu
mengulanginya lagi. Kasihan istri kamu. Meski kelihatan tangguh, hati wanita
sangatlah rapuh. Jika sampai kamu menyakitinya, maka kamulah yang akan terkena
sial seumur hidup. Nanti akan ada efeknya.”
Rizal menganggukan
kepalanya dan mau menerima nasehat dari Alexandro. Ia hanya tersenyum dan akan
membuka lebar hatinya itu demi sang istri yang dinikahinya secara mendadak.
Lalu bagaimana dengan
perasaan Yuki? Yuki hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak akan lagi mengungkit
dan menyuruhnya untuk bertemu Adinda. Kalau pun bertemu itu hanya pekerjaan
saja. Ia berharap Rizal tidak akan mengingat kejadian ini. Baginya kejadian ini
sangat memalukan sekali.
“Apakah kita akan
berada disini?” tanya Yuki yang tidak enak dengan Alexandro.
“Ya enggak. Kita sudah
membuat Alexandro merugi besar. Butik ini hanya tutp satu jam,” jawab Rizal.
Rizal menatap Alexandro
dan memukul lengannya. Ia hanya tersenyum manis sambil berkata, “Terima kasih
atas nasehat kamu. Aku akan selalu ingat semuanya tentang nasehat kamu itu. Aku
sekarang tidak berhak mendapatkan Adinda. Aku akan melupakan dia dan membiarkan
Budiman yang akan mendapatkannya.”
“Sama-sama,” balas
Alexandro. “Disana jangan melirik cewek bule. Kalau sampai kamu melirik cewek
bule. Awas saja nanti Yuki aku rebut dari tangan kamu!”
Tanpa membalas apa yang
dikatakan oleh Alexandro, Rizal memegang tangan Yuki. Ia sengaja membawa Yuki
ke acara pernikahan Albert. Namun Rizal merasakan sesuatu. Ia bisa merasakan kalau
“Sepertinya mereka
tidak akan datang ke pernikahan Albert. Bagaimana kalau mama dan papa tanya?
Aku enggak mau mereka tahu akan masalah ini,” ucap Rizal dalam hati.
Rizal pun bingung pada
keadaannya. Ia tidak pernah menyangka kalau masalah ini sangatlah runyam. Ia
pernah berjanji akan membawa kelompok gangnya dalam pernikahan Albert.
Yuki yang mengetahui
Rizal bingung langsung menghentikan langkahnya. Ia langsung menatap sang suami
lalu bertanya, “Ada apa?”
“Habislah aku. Kalau
Budiman dan Tio enggak datang. Nanti mama papa akan marah sama aku,” jawab
Rizal yang tidak sengaja menatap Yuki.
Entah kenapa jantungnya
berdetak kencang. Ia merasakan ada yang aneh di dalam hatinya. Ia langsung
memeluk Yuki sambil tersenyum, “Kamu tahu, jantungku berdetak sangat kencang
sekali.”
“Apakah kamu terserang
jantung koroner?” tanya Yuki.
“Aku sebenarnya jatuh
cinta sama kamu. Tadi itu hanya akting saja demi membuktikan bagaimana
seriusnya Budiman untuk menjadi suami Adinda. Kalau dia enggak serius. Maka aku
menyuruhnya untuk menceraikannya. Lalu aku akan menjadikan Adinda istri kedua,”
bisik Rizal. “Aku enggak bermaksud melukai kamu.”
Yuki segera melepaskan
Rizal dan menatap nyalang. Bagaimana bisa Rizal mengatakan seperti itu?
Bukankah Rizal akan setia bersamanya?
Terus terang Yuki
akhirnya menatap sudut mata Rizal. Ia sedang mencari kebenaran atas perkataan
Rizal. Ia ingin melihat Rizal jujur dalam berkata. Setelah itu ia tidak
menemukan sebuah kebohongan, Rizal mengatakan ini semuanya demi mengetahui,
apakah Budiman serius mencintai Adinda? Jika serius, maka Rizal rela melepaskan
Adinda.
“Sekarang kamu enggak
ragu atas jawaban mereka?’ tanya Yuki dengan serius.
“Aku sudah tidak ragu
lagi,” jawab Rizal. “Aku mengaku lega atas pernyataan dari Adinda maupun
Budiman. Jika saja Budiman hanya bermain-main. Aku bisa merebut Adinda dan
menajdikannya sebagai istri kedua. Dan Adinda akan menjadi teman kamu di dalam
rumah. Aku yakin kamu akan bahagia atas keputusan ini,” jelas Rizal.
“Hmmmp... kalau malam tadi
iya aku mengizinkan kamu menikahi Adinda. Lalu sekarang? Aku tidak akan
mengizinkan kamu menikah lagi. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Kalau
soal menikah maka,” kesal Yuki yang segera berlalu meninggalkan Rizal.
“Ya... sayangku.
Ternyata menikah untuk kedua kalinya hanya berlaku malam tadi saja. Lalu
bagaimana dengan aku ini? Sepertinya kamu memberikan aku harapan palsu,” gumam
Rizal yang sengaja mengejar Yuki.
Yuki semakin kesal
terhadap perlakuan Rizal. Bagaimana bisa dirinya mengatakan hal itu tadi malam?
Unutng saja kata-katanya segera ditarik. Agar Rizal tidak menikah lagi dengan
wanita manapun.
“Kamu kok menariknya
dengan cepat sekali sih?” tanya Rizal.
“Pokoknya aku enggak
mau kamu menikah sama Adinda. Jangankan Adinda, aku tidak akan mengizinkan kamu
menikah dengan orang lain,” jawab Yuki yang mulai nada suaranya datar dan
menakutkan.
“Lalu bagaimana
teman-teman gangku yang sengaja aku kumpulkan untuk acara malam ini?” tanya
Rizal.
“Aku enggak mau ikut
campur masalah itu. Aku tidak ingin menyuruh pasukan untuk mencarinya,” kesal
Yuki yang membiarkan Rizal kebingungan.
“Apakah kamu mau bantu
aku untuk mencarinya? Nanti aku akan memberikan kamu mobil keluaran terbaru,”
tanya Rizal sembari merayu Yuki agar segera membantunya.