Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 199



"Ya nggaklah. Mereka tidak sekejam itu. Yang namanya wanita sudah menikah pasti ada batasannya. Wanita itu akan tunduk kepada suaminya. Kalau kamu melakukannya, kamu berarti sayang sama aku. Aku bisa mengerti akan hal itu. Karena aku juga harus menurutimu," jawab Adinda yang selesai menghabiskan makanannya.


"Sepertinya kamu nggak boleh memakai baju terbuka. Sebaiknya kamu harus memakai baju yang tertutup," ucap Budiman yang sengaja menegaskan perkataannya itu.


"Sendiri dulu aku memang tidak menyukai baju terbuka. Aku hanya menyukai baju yang agak tertutup. Apakah kamu tidak menghabiskan makananmu itu? Jangan sampai makanan itu dibuang percuma. Masih banyak orang-orang yang membutuhkan makanan," pesan Adinda dengan bijak.


Budiman akhirnya menghabiskan makanannya itu. Budiman sengaja tidak menghabiskan makanannya. Namun Adinda menegurnya dengan bijak.


Selesai menghabiskan makanannya mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Saat menuju ke toko Alejandro, beberapa orang berpakaian rapi melihat Budiman. Mereka dengan cepat berhenti dan menundukkan wajahnya sambil menyapa, "Selamat datang Tuan Budiman. Ada yang bisa kami bantu?"


"Tidak perlu. Kembalilah bekerja. Aku ke sini hanya berjalan-jalan bersama istriku," jawab Budiman yang menyuruh mereka bekerja.


Mereka menganggukkan kepalanya dan berpamitan terlebih dahulu. Setelah itu mereka memutuskan untuk pergi dari hadapan Budiman.


"Ternyata nama kamu sangat terkenal sekali ya? Aku sangat beruntung memiliki suami yang memiliki nama terkenal," tanya Adinda sambil tersenyum.


"Nggak juga. Aku adalah orang biasa yang memiliki bakat dalam dunia bisnis. Namaku terkenal bukan berarti aku menjadi orang besar. Setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Mau orang miskin ataupun orang kaya. Derajat kita juga sama di mata Tuhan. Tuhan juga tidak membeda-bedakan makhlukNya maupun si kaya atau si miskin. Aku juga sangat bangga kepadamu. Karena kamu sudah membuat pintu hatiku terbuka," jelas Budiman sambil menggenggam erat tangannya Adinda.


"Apanya yang terbuka? Kamu ini sangat aneh sekali," tanya Adinda sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Kamu sudah membuka hatiku untuk jatuh cinta dengan serius kepadamu," jelas Budiman sambil terkekeh.


"Kamu itu ada-ada saja," celetuk Adinda.


Sesampainya di butik Alejandro, Adinda melihat manekin yang sedang berjajar di depan. Sebelum masuk Adinda memegang beberapa baju yang sedang dipajang di manekin itu.


"Baju ini sangat bagus sekali. Baju ini cocok dipakai untuk bekerja," ucap Adinda.


"Kalau kamu mau ambil saja," suruh Budiman.


Adinda hanya menghembuskan nafasnya dan menatap wajah Budiman. Ia sendiri sangat sulit sekali jika menemukan baju yang sangat bagus. Sebab Adinda bukan tipe wanita yang suka berbelanja dengan gila.


"Dinda," seru Alexandro.


"Kak Alex," pekik Adinda sambil menoleh ke belakang.


"Akhirnya lu ke sini juga," ucap Alexandro.


"Gue di sini mau cari baju. Bukan baju deh gaun," sahut Adinda yang mendekati Alexandro.


"Kamu mau model apa? Model terbuka atau tertutup? Semuanya ada di sini," tawar Alexandro sambil melemparkan senyumnya yang manis.


Alexandro langsung memukul lengan Budiman. Ia menatap Alexandro sambil bertanya balik, "Tumben-tumbenan Lu dateng bersama Adinda. Biasanya kalau ketemu hancur sudah semuanya."


"Dia istriku!" tegas Budiman.


Ketika Budiman mengakui Adinda istri, Alexandro langsung terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Alexandro tiba-tiba saja menjadi seorang patung. Kemudian Budiman menepuk bahu Alexandro agar tidak melamun. Alexandro pun sadar dan menatap wajah Budiman yang sulit.


"Jangan melamun seperti itu! Nanti kalau kesambet setan baru tahu rasa lu," Budiman memperingatkan Alexandro agar tidak melamun.


"Gue kagak melamun. Apakah dunia ini akan segera kiamat! Karena lu sama Adinda sudah bersatu seperti ini. Biasanya lu kalau ketemu sama Adinda mesti mengibarkan bendera peperangan," ujar Alexandro yang membuat Budiman terkekeh.


"Ya nggak gitu kali. Mungkin ini adalah jodohku dari Tuhan. Nggak semuanya yang kita berantem itu membuat masalah yang besar hingga detik ini," jelas Budiman.


"Syukurlah kalau begitu. Lu tahu nggak? Setiap kalian berantem, banyak sekali orang-orang melontarkan doa agar kalian cepat menikah," ledek Alexandro. "Kalau begitu ayo kita masuk. Nanti akan aku tunjukkan beberapa gaun yang pantas dipakai Adinda."


Alexandro mengajak mereka masuk ke dalam. Alexandro meminta pegawainya untuk menyiapkan minuman dan juga makanan ringan.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Oh ya, tadi aku sempat mampir ke hotel Linx. Kalau nggak salah pagi. Kok tiba-tiba saja Hotel sedang ramai sih banyak petugas kepolisian?" tanya Alexandro.


"Mereka sedang menangkap buronan. Mereka menangkap Gilang dan keluarganya. Berita ini sudah tersebar ke seluruh penjuru Singapura dan kemungkinan menyebar ke wilayah Asia," jawab Budiman.


"Apa itu benar? Apakah kamu serius mengatakannya?" tanya Alexandro dengan mata berbinar.


"Itu benar. Kalau nggak salah sih, posisinya Gilang menindas seseorang. Kemungkinan besar orang itu masih hubungannya dengan keluargaku. Soalnya aku kurang begitu hafal dengan keluarga besarku sendiri," jelas Budiman.


"Sepertinya kamu ada masalah dengan dia?" tanya Adinda.


"Selama ini aku memang ada masalah dengan Gilang. Gara-gara dia aku rugi puluhan miliar. Banyak gerai yang sudah aku bangun di Indonesia ditutup oleh Gilang. Aku sendiri nggak tahu apa masalahnya. Katanya gerai yang aku tempati sudah dia beli. Dia nggak bilang sama aku seluruh barang-barangku dikeluarkan dari gerai tersebut. Aku melaporkan ke polisi. Tapi polisi membiarkannya begitu saja. Ini geraiku yang berada di Amerika sana. Tapi kalau di Indonesia nggak berani. Aku selalu meminta bantuan kepada Paman Husein maupun Herman. Jadinya bilang ketakutan ketika mendengar nama paman Husein," jelas Alexandro dengan serius.


"Kok jahat banget ya? Hak untuk melakukan apapun itu tidak dilarang oleh Tuhan. Tapi kenapa dia gampang banget menutup hak orang lain?" tanya Budiman.


"Kalau peristiwa itu berada di Amerika. Kamu bisa melaporkannya ke Rizal. Rizal mau bantu kok masalah kamu itu," jawab Adinda yang memberikan solusi kepada Alexandro.


"Sebenarnya aku sudah bertemu dengan Rizal tadi sore. Itupun tidak sengaja bertemunya. Rizal pun sudah ngomong akan membantu kasus ini hingga selesai. Dia juga tidak segan-segan mencarikan Aku seorang pengacara. Kemungkinan besar setelah acara pernikahan Kak Albert. Aku terbang ke Amerika dalam jangka waktu yang lama. Kasihan kedua orang tuaku di sana. Mereka sangat sedih mendengar kasus ini," jelas Alexandro.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu sudah terbantu. Aku sangat bersyukur sekali masalah ini selesai dengan cepat. Padahal aku ingin menjeratnya dan memasukkan ke dalam penjara dalam waktu yang lama. Berhubung masalah ini selesai. Maka aku pun jadi senang," ucap Adinda penuh dengan rasa syukur.


"Terus gimana dengan Kanaya? Semua orang tahu kalau mereka berdua sedang melancarkan aksi licik untuk menjerat korban-korbannya?" tanya Alexandro.