
Seampainya di taman Adinda bersama Budiman duduk di kursi panjang. Mereka berdua menghabiskan waktu hingga menjelang malam. Adinda meraih dompetnya lalu meninggalkan Budiman sebentar. Ia segera mencari beberapa snack yang dijual di jalanan.
Budiman yang mengetahui Adinda pergi hanya melihatnya saja. Ia tahu Adinda tidak akan kabur darinya. Ia menatapnya saja sambil melihat anak-anak kecil sedang bermain
Beberapa saat kemudian Adinda kembali dengan membawa kantong kresek. Ia menaruh kresek itu di samping Budiman. Ia menatap Budiman sambil bertanya, "Kenapa kak?"
"Nggak apa-apa," jawab Budiman yang melihat Adinda membawa banyak makanan. "Kamu yakin bisa makan ini semuanya?"
"Yakinlah... Aku ke sini memang untuk membeli makanan. Aku tadi sudah membeli banyak sekali. Sisanya aku bagikan kepada orang-orang yang tidak beruntung sama sekali sedang lewat di hadapanku," jawab agenda yang membuat Budiman kebingungan.
"Kenapa kamu lakukan seperti itu?" tanya Budiman yang tidak paham dengan Adinda.
"Aku memang sering melakukannya setiap seminggu sekali. Makanya aku menyuruh kamu untuk mengantarkan. kesini," jawab Adinda yang hatinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh... baiklah... aku tidak akan keberatan. Jika kamu menyuruhku menjadi sopir pribadi," jawab Budiman yang sangat terhormat jika Adinda menyuruhnya kemana-mana.
"Ya enggak gitu kali Kak," sahut Adinda yang menghempaskan bokongnya di samping Budiman.
"Lalu?" tanya Budiman.
"Biasanya sih enggak sering. Aku terkendala waktu saat meeting saja," jawab Adinda yang melihat anak-anak kecil yang suka bermain.
"Kalau kamu sibuk?"
"Aku tidak akan kesini. Aku akan stay di kantor sampai urusan selesai."
"Lihatlah," tunjuk Budiman ke arah anak laki-laki yang berbadan montok.
Adinda menatap ke arah dimana Budiman menunjuk anak kecil yang sangat gemuk. ia tersenyum dan tertawa menggemaskan. Adinda melihat anak kecil itu serasa seperti melihat anaknya sendiri.
"Jika anak kecil itu adalah anak kamu bagaimana?" tanya Adinda yang menatap Budiman.
"Aku akan membiarkan dia bermain dengan sesamanya," jawab Budiman yang menatap wajah Adinda. "Aku akan menamai anak itu Thanos."
"Apa?" pekik Adinda yang tidak menyetujui nama dari Budiman.
"Kenapa?" tanya Budiman.
"Aku tidak menyukai nama itu," jawab Adinda.
"Kenapa kamu tidak menyukai nama itu?" tanya Budiman. "Padahal nama itu sangat keren sekali."
"Aku tidak menyukai nama itu pokoknya," jawab Adinda. "Aku akan memberikan dia nama Aksa atau Ilham."
Budiman menganggukan kepalanya dan menyetujui nama kecil untuk calon bayinya kelak. Ia tersenyum sambil menatap Adinda dan sambil berkata, "Itu terserah kamu saja. Aku hanya menyetujuinya. Selama nama itu memiliki mengandung makna yang baik. Kenapa tidak?"
"Terima kasih sayangku," seru Adinda yang membuat Budiman terkejut karena dipanggil sayang.
Budiman tersenyum manis melihat Adinda. Ia tidak jenuh melihat wajah istri kecilnya itu. Ia memajukan badannya sambil bertanya, "Kamu ngomong apa tadi?"
Seketika Adinda sadar. Kalau dirinya mengatakan sayangku kepada Budiman. Ia mencoba menetralisir keadaan. Ia menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Memangnya aku ngomong apa ya?"
"Masa kamu lupa? Kamu ngomong sayangku," jawab Budiman yang mencoba memperingatkan Adinda.
"Ah... kamu salah dengar kali kak," ucap Adinda yang mencoba mengelak perkataannya.
"Nggak... aku nggak salah dengar. Kamu ngomong seperti itu," ujar Budiman yang mulai memperingatkan Adinda.
"Iya," jawab Budiman yang paham kalau Adinda sedang mengelak.
"Hmmp... sepertinya kamu salah dengar kak," ucap Adinda.
"Salah dengar bagaimana?" tanya Budiman yang menyunggingkan senyumnya yang manis.
Melihat senyuman Budiman, Adinda merasakan jantungnya berdetak kencang. Baru kali ini ia melihat senyuman indahnya milik Budiman. Adinda tahu kalau Budiman melemparkan senyuman tulus itu kepadanya. Budiman ingin menandakan kalau dirinya bukan orang jahat. Ia ingin membuktikan kalau dirinya adalah orang baik.
"Astaga, senyumannya manis sekali. Jujur aku baru pertama kali melihat senyuman itu dari bibir Kak Budiman. Selama ini aku jarang sekali melihat senyuman itu di berbagai media. Adapun senyumannya adalah senyuman terpaksa yang ditujukan ke semua orang," batin Adinda yang membuatnya kagum.
"Din," panggil Budiman.
"Apa kak?" tanya Adinda.
"Besok pulang ke rumah aku ya. Mama dan papa ingin melihat kamu. Akhir-akhir ini mereka tidak bisa berkunjung ke rumah sakit. Mereka sangat sibuk sekali mengatur kegiatan bakti sosial bersama teman-teman bisnisnya. Acara itu diadakan setiap bulan sekali," jawab Budiman.
"Bakti sosial?" tanya Adinda.
"Iya. Tepatnya aku enggak tahu kapan. Aku sendiri ditawari sama Tio kemarin," Jawa Budiman. "Kalau ada kesempatan aku ingin hadir. Aku sudah lama tidak menghadiri bakti sosial," jawab Budiman.
"Apakah aku boleh ikut?" tanya Adinda.
"Boleh. Ibu dan ayah juga sering ikut kok. Tempatnya selalu berbeda-beda. Awal acaranya itu di kafe milik ibu. Lalu papa menyediakan live musik setiap malam Sabtu. Minggu didepannya kami akan menyalurkan bantuan kepada panti asuhan, Panti jompo, beberapa keluarga yang hidupnya tidak layak. Atau juga setiap ada bencana kami akan menyumbang kesana. Itu tidak pasti," jelas Budiman.
"Sepertinya itu sangat menarik sekali," ungkap Adinda yang ingin sekali bergabung dalam komunitas bakti sosial.
"Aku sering ikut ketika usiaku lima tahun. Kedua orang tuaku selalu mengajarkan aku berbagi. Aku sendiri sudah diajarkan caranya berbagi ke orang yang lebih membutuhkan," ucap Budiman ketika mengingat masa kecilnya yang bahagia.
Jujur Budiman sangat bahagia sekali. Ia mengakui kalau hidupnya positif sebelum mengenal Kanaya. Ia malah semangat ketika ada acara berbagi ke sesama.
Ketika berkenalan dengan Kanaya, Budiman lupa akan hal kesenangannya itu. Budiman adalah anak yang paling penurut. Setelah dewasa Budiman berubah total. Hal ini yang membuat kedua orang tuanya tidak bisa menghandle kelakuannya. Bahkan perusahaan Njawe Groups tidak dilepaskan begitu saja sama papa. Bahkan sang papa sendiri meski tidak masuk ke dalam kantor, beliau selalu memantau keadaan Budiman melalui Tio dan kaki tangannya. Namun saat ini kedua orang tuanya bahagia. Malahan mereka ingin mendukung pernikahan sang putra yang sudah memiliki hubungan membaik.
"Ke kafe yuk," ajak Budiman.
"Kafe mana?" tanya Adinda.
"Kafe favoritku," jawab Budiman. "Aku sudah memesan tempat di rooftop. Aku ingin menikmati sunset bersamamu. Tempatnya nggak jauh kok dari sini."
"Apakah kamu menyewa semuanya?" tanya Adinda yang mulai curiga kepada Budiman.
"Hmmmp... tidak. Aku hanya menyewa satu meja saja. Aku ingin menikmati sunset bersama lainnya."
"Memangnya ada ya konsep kafe seperti itu?" tanya Adinda.
"Ada," jawab Budiman yang membuat Adinda penasaran sekali.
"Kapan dibukanya?" tanya Adinda.
"Baru dibuka beberapa bulan yang lalu. Aku memang sangat menyukai ketika bertemu dengan klien pada waktu itu. Aku ingin mengajak, maaf ya aku harus menyebutnya. Kanaya... tapi aku selalu gagal," jawab Budiman yang tidak ingin marah sama sekali.
"Aku enggak marah sama kamu. Lebih baik kamu jujur aja. Aku tidak ingin kamu memendam semuanya. Aku ingin sekali melihatmu sebagai jagoan bukan sebagai pecundang," ucap Adinda yang membuat Budiman.
"Bukan maksud aku begitu," ujar Budiman.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Adinda.