
"Adinda sudah tahu semuanya. Dia memang adikmu yang luar biasa," jawab Malik.
"Bagaimana adikku bisa menikah dengan Budiman yang brengs*k itu?" tanya Faris yang menaruh curiga.
"Pak Kartolo yang melamar Adinda ke rumah bersama Andara dan Bu Kamila. Di saat itu Budiman tidak datang dikarenakan ada perjalanan bisnis. Lalu mereka meminta Adinda untuk menikah dengan Budiman. Tapi Pak Kartolo memberikan tenggang waktu sama Adinda satu tahun ke depan. Pada waktu itu Pak Kartolo memberikan kompensasi. Dengan sattu syarat agar Budiman bisa melupakan Kanaya. Mendengar nama Kanaya, Adinda sepertinya tertarik untuk menjadi istrinya. Kamu tahukan kematian Rizal bagaimana?" tanya Malik yang menjelaskan bagaimana Adinda bisa menikah dengan Budiman.
"Tahu. Aku memang mengetahuinya. Saat itu posisiku berada di samping Adinda. Kanaya sendiri yang menusuk Rizal di dalam mobil. Adinda memergoki Kanaya sudah memegang pisau yang habis. digunakan itu," jelas Fariz.
"Kronologinya seperti itu?" tanya Malik yang membenarkan posisi duduknya.
"Ya... itu benar ayah. Untung saat itu aku langsung menarik tangan Adinda agar tidak menyentuh tubuh Rizal. Kalau sampai menyentuh, Kanaya akan menuduh Adinda yang membunuhnya. Setelah itu Kanaya kabur entah kemana. Dan kasus ini sengaja ditutupi oleh Gilang. Sampai sekarang kasus ini tidak terungkap," jawab Fariz.
"Kok enggak bisa terungkap?" tanya Malik yang curiga.
"Ayah tahu, pas waktu itu si Gilang lagi jaya-jayanya. Namanya mencuat hingga ke pelosok negeri ini. Tapi semakin terkenalnya, dia semena-mena. Dia mengajak kerjasama para pengacara yang tentunya musuhnya Paman Herman," jelas Fariz. "Mereka inilah yang berani membungkam seluruh pihak yang ikut campur masalah ini."
"Oh... jadi Adinda?" tanya Malik yang semakin tertarik untuk membahas kematian Rizal.
"Ya... Adinda nyawanya terancam saat itu. Kemana dia selalu diikuti oleh orang tidak dikenalnya. Hampir setiap hari Adinda tidak tenang. Hingga akhirnya Adinda memutuskan untuk ke Harvard mengambil S2. Disinilah Adinda memilih melupakan sejenak. Dia akan balas dendam setelah semuanya lupa," jawab Fariz.
"Oh... jadi kalau ayah menarik kesimpulannya adalah Adinda membiarkan sang pembunuh berkeliaran terlebih dahulu?" tanya Malik.
"Iya itu benar. Adinda memiliki otak cemerlang untuk menyusun strategi. Jika waktunya sudah menyerang. Maka Adinda akan mengeluarkan sedikit tenaga untuk menghajar orang tersebut," jawab Fariz yang mengagumi kehebatan sang adik. "Bagaimana dengan Budiman?"
"Menurut ayah, jika Budiman sudah sadar dan ingin menjadikan adikmu sebagai istrinya, kenapa tidak? Usia Adinda sudah dua puluh lima tahun. Jadi ayah tidak mau kalau adikmu terlambat menikah," jawab Malik. "Ayah tidak akan ikut campur ke dalam pernikahan mereka. Biarkan saja mereka mengatur rencananya untuk masa depannya."
"Tapi ayah?' tanya Fariz.
"Apakah kamu keberadaan jika Adinda menikahi Budiman?" tanya Malik yang paham dengan sifat putranya itu.
"Aku memang sedikit keberatan yah. Aku takutnya Adinda sebagai pelampiasan saja. Yang aku tahu Budiman memiliki tempramental yang cukup tinggi," jelas Fariz.
"Kamu belum tahu siapa adikmu itu? Yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga pastinya adikmu itu," ucap Malik yang paham dengan sikap Adinda.
"Aku enggak tahu lagi dech. Jika Adinda melakukan itu?' tanya Fariz.
"Enggak apa-apa. Sekali-sekali perempuan yang melakukannya," ujar Malik yang tersenyum lebar.
"Aish... ayah bagaimana ini?" tanya Fariz yang tersenyum bahagia.
Memang benar apa yang dikatakan oleh kedua pria berbeda generasi itu. Adinda memang memiliki watak keras. namun hatinya masih lembut. Jarang sekali ia mengalah dan sering sekali menegakkan keadilan.
Lalu bagaimana dengan kasus pembunuhan sang kekasihnya itu? Bukankah Adinda berani mengungkapnya? Memang berani Adinda melakukannya. Namun sampai saat ini Adinda masih menahannya.
Kedua orang tuanya Rizal menyuruh Adinda untuk diam dulu. Mereka juga merasakan hal yang sama. Nyawa mereka terancam.
Hampir setiap hari, mereka mengalami teror kepanjangan. Jika Adinda melaporkan masalah ini, kemungkinan besar akan meninggal dengan motif yang sama. Bisa dikatakan Kanaya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Keesokan paginya, Adinda sudah terbangun dari tidurnya. Ia terkejut dengan Budiman yang ikut-ikutan tidur di sampingnya. Ia menatap wajah Budiman dengan intens. Jujur, sedari dulu Adinda mengagumi wajah Budiman bak artis Korea itu. Terkadang buat Adinda, Budiman itu pria yang ngeselin banget.
"Budiman," panggil Adinda.
"Hmmmp," sahut Budiman yang sengaja pura-pura tidur.
"Hmmp," jawab Budiman.
"Budi, bangun sana!" kesal Adinda.
"Aku tidak bangun karena kamu memanggilku tidak sopan," ucap Budiman.
"Terus aku harus memanggil kamu apa?" tanya Adinda. "Sayang gitu?"
"Nah itu," jawab Budiman yang membuka matanya sambil menatap per inchi wajah sang istri.
"Ogah," kesal Adinda.
"Ayolah... panggil aku sayang," pinta Budiman yang suaranya dibuat manja.
"Tidak," sahut Adinda yang membuang muka wajahnya.
"Kenapa tidak?" tanya Budiman.
"Aku belum kenal kamu," jawab Adinda.
"Sebentar lagi kamu akan mengenalku. Bagaimana dengan sifat asliku ini. Bagaimana dengan stylish ku ini," sahut Budiman.
"Memangnya itu perlu ya?" tanya Adinda yang menatap wajah Budiman.
"Ya... itu perlu," jawab Budiman. "Kamu perlu melakukannya. Bukankah dua kepala dengan jenis kelamin berbeda, disatukan dengan sebuah ikatan pernikahan harus saling mengenal?" tanya Budiman balik.
"Gimana ya?" tanya Adinda yang mencoba mengelak. "Kamu itu sangat menyebalkan!"
"Tapi kamu kan cinta sama aku," sahut Budiman yang berhasil membuat Adinda kesal.
"Hey... Pak Budiman... kamu kok orangnya penuh percaya diri tinggi ya? Siapa lagi yang cinta sama kamu? Lagian pernikahan ini adalah pernikahan paksa," jelas Adinda.
"Meskipun pernikahan paksa... kamu harus menjalankan dengan ikhlas. Lagian mulai saat ini aku akan merubah sikapku yang dulu yang kasar menjadi sangat lembut. Sifat ini akan aku tunjukkan kepadamu," ungkap Budiman yang bahagia.
"Enggak usah kamu adakan sikap seperti itu. Aku lebih suka dengan sifat kamu sebenarnya. jadi aku enggak kaget menghadapi sifat seperti itu," ucap Adinda secara dengan blak-blakan.
"Kamu ini sangat aneh sekali. Biasanya perempuan mintanya diperlakukan dengan lembut dari pasangannya," kata Budiman yang bingung dengan sifat sang istri.
"Aku enggak begitu. Aku lebih suka pria dengan sifat aslinya. Jadi kalau di dalam rumah tanggaku kalau ada konflik jadi tahu sifat pasangannya," jelas Adinda.
"Kenapa kita enggak pacaran?' tanya Budiman.
"Kenapa kita enggak saling mengenal satu sama lain?" tanya Adinda balik.
"Kenapa kita enggak menjadi pasangan romantis?" tanya Budiman yang membuat Adinda tertawa.
"Aku enggak mau menjadi pasangan suami istri yang romantis. Menurutku ini sangat tidak baik," jawab Adinda dengan jujur.
Budiman mengerutkan keningnya karena mendengar jawaban dari Adinda. Ia merasa bingung dengan apa yang didengarnya? Jujur baru kali ini Adinda berkata seperti ini membuatnya aneh.
"Kamu ini sangat aneh sekali. Bukankah kita bisa menjadi pasangan romantis?" tanya Budiman.