
"Tidurlah yang tenang. Jangan terlalu memikirkan apa yang belum terjadi. Soal besok Jangan dipikirkan sekarang. Aku takut kamu sakit," jawab Budiman sambil memegang pinggang Adinda.
Adinda menganggukkan kepalanya lalu memegang pinggang Budiman. Ia ingin sekali dipeluk oleh Budiman. Setelah itu Adinda terlelap tidur.
Ketika Adinda terlelap tidur, Budiman mencium aroma wangi jeruk di tubuh Adinda. Jujur dirinya sangat menyukai aroma tersebut. Dalam hatinya Adinda memiliki wangi yang dapat menyejukkan jiwanya itu. Beda dengan mantan kekasihnya itu. Ia tidak menyukai wangi-wangian yang dipakai oleh Kanaya. Padahal parfum yang dipakai oleh Kanaya adalah parfum yang bermerek mahal. Namun nyatanya Budiman tidak menyukainya sama sekali.
Setelah mencium aroma tubuh Adinda, Budiman memutuskan untuk memejamkan matanya. Ia menyusul sang istri untuk masuk ke dalam mimpi mimpinya itu. Mereka sangat kompak sekali ketika sedang tidur.
Beberapa jam telah berlalu. Adinda mulai merasakan jika mimpinya ini mimpi sangat buruk sekali. Tubuhnya bergerak ke sana dan kemari hingga membuat Budiman membuka matanya. Lalu Budiman melihat tubuh Adinda yang tidak nyenyak saat tidur. Kemudian Adinda terbangun dan berteriak dengan kencang.
"Argh," teriak Adinda.
Budiman yang melihat Adinda berkeringat memegang tangannya. Ia semakin bingung dengan keadaan Adinda. Tiba-tiba saja Adinda melihat kamarnya. Yang di mana kamar itu sangat menyeramkan sekali. Dirinya seakan melihat Budiman sedang tidak baik-baik saja. Setelah itu ada Gilang dan juga Kanaya datang membawa peralatan pisau. Adinda menggelengkan kepalanya sambil menatap Budiman. Ia mulai bernafas dengan lega. Adinda segera memegang tangan Budiman.
"Kamu kenapa Din?" tanya Budiman yang bingung dengan keadaan Adinda.
"Aku bermimpi sangat buruk sekali. Kamu berada di suatu ruangan yang di mana tanganmu terikat. Lalu datang Kanaya sama Gilang dengan membawa banyak pisau. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil memegang pisau itu. Kemudian mereka Langsung membunuhmu dan memotong-motong tubuhmu itu. Mimpi ini membuat aku sangat ketakutan sekali," jawab Adinda.
"Tenang saja. Mimpi itu adalah mimpi yang tidak pernah terwujud sama sekali. Kamu nggak usah mikir tentang mimpi itu. Aku baik-baik saja," ucap Budiman yang membuat Adinda semakin tidak tertahankan.
"Kamu nggak baik-baik saja sayangku. Mereka sedang mengincar keberadaan kamu sekarang. Mereka sedang mencari cara agar kamu tunduk. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi sama sekali. Aku harus membalikan keadaanmu sekarang juga," kata Adinda yang membuat Budiman menghela nafasnya dengan kasar.
"Itu semua karena mimpi buruk. Kamu jangan terlalu memikirkannya. Kemungkinan besar Mimpimu itu tak akan pernah terjadi. Jangan pernah berpikiran yang macam-macam. Karena pikiran macam-macam kamu bisa saja terjadi. Kamu tetap tenang dan mengambil nafas dalam-dalam. Kamu impikan aku dengan sebaik mungkin," Pinta Budiman yang memeluk Adinda dan mengelus-ngelus punggungnya.
"Semoga saja tidak terjadi ya Kak. Aku ingin semuanya baik-baik saja," ucap Adinda yang tidak yakin dengan semuanya ini.
Mungkin selama ini Budiman tidak mengetahuinya. Kalau Adinda sendiri memiliki mimpi yang benar-benar akan terjadi. Akan tetapi seluruh keluarga Adinda sudah mengetahui akan mimpi tersebut. Mimpi di mana yang bisa semuanya menjadi kenyataan.
Beberapa saat kemudian Adinda menjadi lega. Jujur meskipun sudah lega namun dirinya masih dibayang-bayangi oleh ketakutan. Bahkan ia tidak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang buruk. Mimpi itu seakan-akan menjadi kenyataan.
"Lebih baik kamu tidur gih. Jam segini itu masih malam. Kalau kamu nggak tidur juga bagaimana esok harimu? Aku ingin melihat kamu memiliki wajah yang ceria dan hangat," pinta Budiman.
Mau tidak mau Adinda akhirnya memejamkan matanya. Sebelum tidur ia berdoa kepada Tuhan. Ia tidak mau kalau mimpi itu datang untuk kedua kalinya.
Budiman melihat Adinda yang sudah tidur. Hatinya sangat lega namun dirinya tidak bisa tidur. Akhirnya Ia memutuskan untuk turun ke bawah.
Di saat turun ke bawah, Budiman tiba-tiba saja terkejut. Ia tidak menyangka kalau di hadapannya ada Herman. Sementara itu Herman memukul pundaknya Budiman. Lalu Herman bertanya, "Jam segini kok sudah bangun?"
"Gue sering bangun jam segini buat sholat malam. Habis gitu gue melihat berkas-berkas yang ada di meja. Jam segini selalu dapat inspirasi untuk memecahkan kasus. Biasanya jam segini lu tarung di atas ranjang bareng Adinda," jawab Herman sambil Menjelaskan kegiatan dirinya.
"Sialan lu. Bisa-bisanya lu nuduh gue kayak gitu. Adinda sudah tidur. Masa gue harus sarung sama Adinda yang masih tidur. Nanti lu bisa nuntut gue seenaknya. Dengan pasal pemerkosaan dan pasal yang aneh-aneh itu. Sorry gue kagak mau," kesal Budiman.
Herman akhirnya terkekeh mendengar ucapan Budiman. Ia hanya bercanda untuk mencairkan suasana. Akan tetapi Budiman hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dengan terpaksa Budiman mengajak Herman untuk duduk bersama.
"Lebih baik ikut gue bro? Gue mau curhat soal Adinda," ucap Budiman yang sengaja mengajak Herman.
Herman akhirnya menuruti keinginan Budiman. Mereka menuju ke dapur dan membuat mie instan bersama. Selesai mie instan itu jadi, mereka duduk berhadapan.
Jujur ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Ketika Budiman menginap dan ingin mencurahkan isi hatinya. Herman selalu mengajaknya membuat mie instan. Hal ini dikarenakan mereka tidak ingin perutnya kosong ketika sedang mencurahkan isi hatinya masing-masing. Mereka memang sangat unik sekali.
Memangnya ada apa?" tanya Herman yang menatap serius wajah Budiman.
"Tadi Adinda bermimpi. Kalau aku itu mau dibantai oleh Gilang dan Kanaya. Kata Adinda mereka membawa banyak pisau. Makanya Adinda sekarang ketakutan sekali," jawab Budiman.
"Kalau begitu kasihan Adinda. Setiap mimpi selalu kejadian. Makanya aku suka bingung kalau Adinda bermimpi buruk," ucap Herman.
"Apakah mimpi Adinda selalu menjadi kenyataan?" tanya Budiman.
"Lima puluh lima puluh. Tapi rata-rata semuanya jadi kenyataan. Kalau sudah jadi kenyataan Adinda tidak bisa apa-apa," jawab Herman.
Budiman memilih untuk diam terlebih dahulu. Otaknya mulai mencerna Apa yang akan terjadi nanti. Sebagai manusia Budiman juga sangat ketakutan. Mimpi seorang istri itu berarti dirinya harus berhati-hati. Bisa jadi mimpi itu kenyataan atau tidak.
"Nanti aku minta ke Andra untuk mempersiapkan banyak pengawal," ucap Herman.
"Kenapa harus banyak pengawal?" tanya Budiman yang bingung dengan pernyataan Herman.
"Bukankah mimpi istrimu Itu adalah sebuah peringatan? Atau juga itu sebagai warning," tanya Herman yang membuat Budiman bingung.
"Apa bedanya peringatan dengan warning? Apakah kamu sedang membuat aku bingung? Kamu itu memang benar-benar aneh," tanya Budiman sambil menatap Herman dengan tajam setajam silet.
"Terserah apa katamu. Aku hanya ingin menatapmu saja," ujar Budiman tanpa penuh dosa Lalu meninggalkan dapur.
"Lah bagaimana ini? Lu bikin mie nggak dimakan," tanya Herman.