Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 197



Ketika Gilang ingin pergi, Rizal memintaku untuk keluar dari persembunyian. Aku mulai menatap mata Gilang dengan penuh amarah. Gilang tidak terima dan membalasku dengan sengit. Aku hanya tertawa dalam hati. Apa yang dikatakan Gilang itu tidak benar.


Aku juga tidak melupakan Kanaya. Aku melihat Kanaya dengan penuh amarah. Kanaya menuduhku dengan sangat kejam sekali. Bahkan Kanaya mengatakan kalau aku adalah sang pelakor. Aku pun tertawa. Bagaimana bisa pelakor teriak pelakor ke wanita lain? Jujur ini sangat aneh sekali.


Tak butuh waktu lama Rizal datang bersama pasukannya. Mereka langsung menangkap Gilang dan juga Kanaya. Saat digiring ke kantor polisi Gilang dan Kanaya memakiku. Aku hanya bisa diam dan tidak memasukkan ke dalam hati.


Berakhir sudah kisah Gilang. Gilang si pria tampan dan memiliki tubuh yang sangat bagus. Ternyata ia sangat licik sekali. Syukurlah, semua dokumen-dokumen tender besar sudah aku amankan terlebih dahulu. Aku baru mendapatkan informasi kalau Netty bekerjasama dengan Gilang. Bahkan ketika mendekatiku. Itu semuanya campur tangan Gilang bersama Kanaya.


Setelah penangkapan itu, kami menuju ke kantor polisi. Di sana kami dimintai keterangan. Aku bilang saja tidak mengenalnya. Memang benar, aku tidak mengenal siapa itu Kanaya bersama Gilang. Akhirnya polisi saat itu juga memutuskan untuk melepaskan kami. Tapi kami masih menjadi saksi. Entah kapan kita bisa kembali ke Indonesia dan merasakan hari-hari yang ceria di kota Jakarta.


Hari itu juga paspor kami ditahan. Untungnya Rizal mengatakan kalau sore hari langsung berangkat ke Amerika. Jujur aku bisa pulang bersama Budiman tepat waktu.


Tiba-tiba saja aku teringat tidak memiliki gaun satupun. Karena gaunku selalu kujual hanya sekali pakai saja. Aku memang lelangnya dan memberikan uang itu ke panti asuhan. Di sana aku sangat bahagia bisa melakukan hal yang besar dalam hidupku.


Siang itu aku diajak pergi ke pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan yang berdiri kokoh diapit dengan banyak gedung membuat aku melihatnya. Desainnya sangat menarik dan unik. pusat perbelanjaan itu pernah dinobatkan sebagai mall ramah lingkungan. Jujur aku bangga bisa menginjakkan kakiku di sini. Karena aku sendiri jangan sekali ke mall ketika berada di Singapura.


Aku melangkahkan kakiku dengan santai. Aku melihat-lihat banyak pakaian yang bagus. Saat itu juga Budiman tahu apa isi hatiku. Aku pun langsung menolaknya. Bukan tidak sanggup untuk membayar, tapi aku bukanlah wanita yang menghambur-hamburkan uang demi gaul mahal atau baju. Aku ingin masih menjadi Adinda ketika belum terkenal sebagai seorang pembisnis dan juga konten kreator.


Tidak sengaja aku takjub pada ornamen-ornamen yang telah ditempelkan di dinding. Lalu aku tiba-tiba saja teringat. Ingat akan gambar ornamen-ornamen tersebut. Tapi aku lupa di mana.


Aku tidak sengaja memuji pusat perbelanjaan ini. Karena aku sangat menyukainya. Jujur jiwa arsitek aku mulai berkembang. Aku ingin menggambar untuk membuat sebuah pusat perbelanjaan seperti ini di Indonesia. Tapi aku malas menggambar secara detail. Aku memutuskan untuk menjadi seorang CEO saja.


Tiba-tiba saja Budiman memberitahukan kalau pusat perbelanjaan ini adalah miliknya. Aku hanya bisa menelan saliva dengan susah payah. Budiman sengaja membuka rahasia ini di depanku bersama Andara. Katanya saat membangun mall segede gini itu adalah kegabutan yang hakiki. Masa orang gabut bisa membuat mall semegah ini? Tapi itu tidak menjadi masalah. Budiman juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Budiman juga sudah memperhitungkan ketika mall ini mulai berdiri tegak. Budiman menceritakan secara detail Kenapa dengan teliti. Akhirnya Adinda paham dan membiarkan semua ini berjalan apa adanya. Aku semakin cinta bukan karena hartanya. Aku mencintainya karena setulus hatiku.