
"Kamu harus mutusin tentang pernikahan ini," jawab Dinda.
"Kita," ucap Budi yang menggantungkan kata-katanya.
Sebenarnya Budi ingin mengatakan kata cerai. Namun ia menahannya. Karena kata cerai itu tidak boleh diucapkan. Akhirnya Budiman menganggukkan kepalanya dan memilih untuk diam.
Setelah mendapatkan akses masuk, Dinda mengajak Budi pergi ke kamar hotel itu. Perasaan Dinda biasa saja dan tidak terlalu mempedulikannya. Sedangkan Budi sendiri merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Jujur saja ia bingung dengan jantungnya itu. Jika benar Kanaya selingkuh. Maka ia akan menelan kekecewaan pahit.
Dinda membawa Budi ke kamar yang sudah dipesan oleh pria itu. Lalu Dinda berhenti dan melihat pintu kamar itu.
"Tegarkan hati lo. Gue nggak mau lu jadi sad boy seperti itu!" titah Dinda yang sebenarnya tidak ingin melihat cowok menangis di hadapannya.
Namun Budi hanya diam saja. Iya tidak mau menanggapi ucapan Dinda. Sebab Budi penasaran sekali dengan Kanaya yang berada di kamar itu.
"Gue kasih kuncinya. Lu aja yang buka. Gue tunggu lo di luar," Dinda memberikan kunci itu ke hadapan Budi.
Budi segera mengambilnya dan menatap wajah Dinda, "Nggak bisa gitu dong. Lu harus tanggung jawab masalah ini."
"Ngapain juga gua harus tanggung jawab?" tanya Dinda yang malas.
"Pokoknya lu harus ikut," jawab Budi sambil menarik tangan Dinda.
Mau tidak mau Linda akhirnya pasrah menerima ajakan Budi. Ia menuruti Budi untuk ikut.
Setelah kamar hotel itu terbuka. Budi tetap saja menarik Dinda hingga masuk ke dalam.
Langkah demi langkah Budi tidak mendapati apa-apa. Budi melepaskan tangan Dinda. Kemudian Budi menatap Dinda sambil tertawa, "Lo berusaha ngerjain gue?"
Dinda hanya tersenyum sinis dan mulai mengintimidasi Budi. Ia adalah seorang wanita yang tidak pernah membuat orang kecewa.
"Di kamar sana," Dinda menunjukkan pintu penghubung antara ruangan satu sama kamar. "Kemungkinan besar mereka sedang melakukan hubungan terlarang. Jika lu mau tahu, apa yang terjadi di kamar itu? Maka bukalah."
Sedari tadi Budi mulai merasakan perasaan tidak enak. Masa iya? Kekasihnya itu berselingkuh dengan pria lain? Lalu, apa yang dikatakan Dinda? Dinda mengatakan kalau Kanaya sudah menikah dan menikah memiliki tiga anak. Budi masih tidak percaya apa yang diomongkan oleh Dinda.
Dengan penuh keberanian dan langkahnya yang lemah, Budi mendekati pintu itu. Semakin dekat Budi mendengar suara d*sahan dari kamar itu. Suara itu semakin kencang dan bersahut-sahutan dengan kencang.
Lalu Dinda? Dinda memilih diam sedari tadi. Ia sudah mendengar suara Kanaya dan teman prianya itu. Ia hanya menunduk sambil mengumpati Kanaya. Tidak seharusnya ia memberitahukan soal ini ke Budi. Namun dirinya terpaksa melakukannya.
"Semoga Budiman bisa mendapatkan pencerahan itu. Semoga aku juga ingin keluar dari masalah ini. Karena aku ingin sekali meraih cita-citaku meraih S3," ungkap Dinda dalam hati.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Budi membuka pintu kamar itu lalu merasakan kakinya berat untuk melangkah. Sang kaki memang sengaja tidak bisa dibuat kompromi.
"Kenapa kakiku lemas seperti ini? Ayolah kaki... janganlah buat aku lemas seperti ini," pinta Budi dalam hati.
Budi akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam itu. Ia melihat wajah Kanaya yang jelas sedang memuaskan teman prianya itu.
Marah!
Sudah pasti.
Bagaimana tidak Budi melihatnya dengan jelas. Budi melihat Kanaya tanpa sehelai benangpun. Ia berteriak sambil memanggil nama Kanaya.
"Kanaya!"
"Kanaya!"
Tiga kali Budi memanggilnya. Hingga kedua insan itu sadar dan melihat kehadiran Budi. Dengan cepat Budi memaki Kanaya dengan kata-kata kasar.
Dinda yang tidak ikut masuk ke dalam bisa merasakan sakit di hatinya. Dinda sebenarnya sudah kenal dekat dengan Budi. Namun untuk mengagumi sedikit, Dinda tidak tertarik.
Sontak saja Kanaya terkejut mendengar suara pria yang dikenalinya. Ia tidak menyangka kalau aksinya kali ini diketahui oleh Budi. Ia segera memakai baju. Ketika memakai baju Budi menyetopnya.
"Enggak usah memakai baju itu! Lebih baik kamu lanjutkan permainan kamu itu!" bentak Budi. "Dan mulai saat ini jangan pernah temui aku lagi! Selamat tinggal!"
"Jangan tinggalkan aku Budi. Aku melakukan ini karena," ucap Kanaya yang berpura-pura menangis.
Budi tidak menanggapi hal itu. Ia langsung keluar dan menarik tangan Dinda. Mau tidak mau Dinda akhirnya ikut bersama Budi.
Kesal.
Memang.
Dinda terdiam dan mengikuti Budi kemanapun pergi. Ia tidak menyangka kalau Budi seorang pengusaha sukses ditipu oleh cinta. Rasanya Dinda ingin tertawa. Namun ia juga memiliki rasa simpatik kepada Budi.
Sesampainya di loby tangan Budi tidak melepaskan tangan Dinda. Ia sengaja menggenggam erat tangan mungil itu. Ia juga mengajak Dinda ke arah parkiran.
"Tunggu," seru Dinda yang membuat Budi berhenti.
"Ada apa?" tanya Budi.
"Masalah kita sudah selesai sampai sini. Lu bisa melepaskan tangan gue kagak? Gue mau pulang ke rumah saat ini juga. Gue mau tidur tau! Besok gue mau meeting sama anak-anak divisi Humas," jawab Dinda dengan kesal.
"Enggak boleh. Lu harus menemani gue sepanjang malam ini!" kesal Budi yang tidak mau ditinggal sama Dinda.
"Lha?" tanya Dinda. "Urusan ye sama lu selesai. Jadi gue mau pulang."
"Lu mau melepaskan gue begitu saja! Kalau lu melepaskan gue begitu saja. Nanti ada akibatnya," jelas Budi.
"Akibatnya apa?" tanya Dinda yang berusaha melepaskan tangannya Budi yang semakin erat memegang tangannya.
"Kalau gue bunuh diri bagaimana? Kalau gue lewat jembatan. Lalu gue terjun gimana? Atau juga gue tertabrak dengan pohon? Apa lu mau tanggung jawab?" tanya Budi bertubi-tubi.
"Siapa juga yang putus cinta? Kok situ membawa gue!" kesal Dinda yang ingin marah namun kasihan Budi.
"Pokoknya lu harus membantu gue untuk menyembuhkan rasa sakit hati ini. Jika tidak," jawab Budi yang menggantung.
Kepala Dinda berdenyut karena ulah Budi. Bagaimana tidak, ia harus pulang beristirahat dan memilih untuk tidur. Karena besok harus pergi ke kantor.
"Baiklah," ucap Dinda yang tidak bisa menolak permintaan Budi.
Beberapa saat kemudian Dinda akhirnya mengikuti Budi ke area parkir. Sebelum masuk ke dalam mobil, Dinda menatap Budi menahan air matanya. Ia menengadahkan tangannya sambil memberi perintah, "Berikan kunci mobil itu!"
Budi terpaksa menaruh kunci itu ke tangan Dinda. Ia menunduk dan memutari mobil dan masuk. Lalu ia mencoba duduk dengan nyaman.
Dinda masih bersikap tenang dan tidak memperdulikan Budi. Ia duduk di samping Budi sambil menyalakan mobilnya dan meninggalkan hotel itu.
Rasa sesak menjalar di dada Budi. Kanaya benar-benar berkhianat kepada dirinya. Ia memang sengaja tidak menikah terlebih dahulu. Hanya untuk menunggu Kanaya menyelesaikan kuliah kedokterannya. Namun semuanya hancur. Kanaya ternyata berkhianat. Kanaya telah menorehkan luka di dalam hatinya. Ditambah lagi Kanaya menancapkan pisau yang tajam.