Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 109



"Sangat berpengaruh sekali. Aku nggak tahu kenapa Budiman menjadi berubah ketika mengenal Kanaya. Padahal Kanaya sendiri tidak cantik-cantik amat dan memiliki tabiat yang sangat buruk sekali. Itulah kenapa aku sangat berputus asa ketika Budiman seperti itu," jawab Kamila.


"Semuanya sudah berakhir. Tunggu ada sesuatu yang buruk di depan mata kita. Dia akan hadir kembali dan membalaskan dendam kepada Adinda maupun Budiman. Adinda masih memantau Kanaya. Cepat atau lambat, Kanaya akan meminta kembali apa yang telah direbut oleh Adinda," ucap Malik yang membuat kedua wanita itu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sangat buruk sekali. Aku tidak tahu kenapa wanita itu selalu membuat onar," sahut Kamila.


"Sepertinya kita harus mencari asal muasal masalah tersebut. Tidak mungkin jika tidak ada masalah yang bisa membuat keluargaku dan keluargamu menjadi runyam seperti ini. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya, apa yang telah keluargaku lakukan kepada Kanaya," jelas Malik.


"Bukan itu konsepnya ayah. Aku sudah mengeceknya dan mencari sumber masalah itu. Tapi nggak ada masalah sebenarnya. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Apakah ini adalah teori konspirasi milik Gilang? Soalnya yang aku tahu, Gilang membenci dua perusahaan besar di dunia ini. Dua perusahaan itu adalah milik kita dan Pak Budiman," sambung Adinda.


"Kemungkinan besar sih. Atau juga Kanaya sudah dinobatkan sebagai kaki tangannya untuk menghancurkan kedua perusahaan sekaligus. Di balik topengnya Gilang memang sangat licik sekali. Jangankan Gilang, keluarganya juga sangat licik. Mereka tidak mau melihat orang-orang sukses. Biar bagaimanapun caranya mereka harus menghancurkan orang tersebut agar jatuh miskin," ungkap Kamila dengan jujur.


"Sungguh tidak bisa dirasakan seperti itu. Kita harus mencari jalan tengahnya. Kalau kayak gini terus kedua perusahaan milik kita akan hancur. Aku nggak masalah jika diriku hancur. Lalu bagaimana dengan para karyawanku semuanya? Mereka sangat menggantungkan hidupnya di dalam perusahaan. Apalagi aku sudah memberikannya banyak keistimewaan buat mereka. Mereka tidak akan pernah pergi dari perusahaan," ucap Budiman.


"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk saat ini?" tanya Herman.


"Santai saja terlebih dahulu. Tidak perlu menggebu sama sekali. Kalau kita menggebu, nanti mereka curiga. Seluruh rencana yang kita buat bisa dibaca oleh Gilang," jawab Adinda.


"Jadi rencana kalian kuliah di mana?" tanya Malik.


"Di kota London. Aku di sana sudah memiliki apartemen. Jadi nggak usah mencari tempat tinggal lagi. Pendidikannya di sana juga sangat bagus. Bisa dikatakan banyak jurusan yang bisa diambil," jawab Budiman


"Aku ingin mengambil tiga jurusan sekaligus," sahut Adinda dengan penuh semangat.


"Jangan tiga. Satu saja sudah cukup. Kasihan Budiman kalau berada di rumah. Kamu waktunya dihabiskan untuk kuliah. Terus bagaimana nasib suami kamu itu?" Tanya Tio yang baru saja mengeluarkan suaranya karena sedari tadi hanya diam saja.


"Berhubung kuliah di kota London dibukanya pada bulan Agustus atau September. Jadi kalian akan stay di sini dalam waktu tujuh bulan kedepan," ucap Faris.


"Rasanya kita akan pergi beberapa bulan ke depan. Ada yang harus aku kerjakan. Aku ingin mengurus sesuatu di sana," jelas Budiman.


"Aku pun juga sama. Distributor untuk negara Eropa sedang mengalami kekosongan. Kak Faris sudah berada di sini. Jadinya aku harus menggantinya hingga beberapa tahun ke depan," sambung Adinda yang membuat mereka menganggukkan kepalanya.


"Kapan kalian berangkat?" tanya Tia.


"Kemungkinan besar sebulan ke depan. Aku nggak bisa melihat Kak Faris menderita seperti itu. Dia langsung menghandle dua pekerjaan sekaligus. Salah satu harus menjadi korban untuk tinggal di kota London," jawab Adinda.


"Cepat sekali kamu meninggalkan kami. Ya sudah kalau begitu. Berangkatlah dengan aman. Biarkanlah pusat kami yang jaga," pesan Malik.


"Thanks to my sister. Akhirnya aku bisa lepas dari satu pekerjaan yang bisa membuat aku gila," ucap Faris dengan penuh senyum.


"Kasihan sekali ya Kak Faris. Ternyata dirinya menderita sekali karena satu pekerjaan yang belum selesai. Ya sudah tunggu bulan depan aku akan berangkat dan mengerjakan tugas-tugas kakak," sahut Adinda dengan penuh senyum.


"Lama-lama aku jadi gila. Lihat saja anak-anakku ini suka sekali dengan bekerja. Terkadang mereka tidak memiliki waktu sedikitpun buat aku," keluh Malik.


"Justru itu Ayah. Mumpung masih muda harus bekerja. Nanti kalau sudah tua kita tinggal bersantai dan memiliki banyak tabungan," ucap Tio.


"Tapi nggak gini caranya," kesal Malik.


"Harus bagaimana?" tanya Tia.