Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 57



Budiman masih saja berada di toilet. Ia meluapkan rasa amarahnya dan ingin menghajar seseorang. Ternyata dirinya menjadi pria yang tidak berguna bagi keluarganya. Ditambah lagi ia sering sekali dimanfaatkan oleh banyak orang.


Mulai hari ini Budiman membuat prinsip di dalam hatinya. Ia akan setia pada istri kecilnya itu. Ia akan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia juga akan memutus tali percintaannya pada Kanaya. Jujur, Budiman ingin hidup bahagia. Ia akan mempelajari kehidupan yang nyata bersama istri kecilnya itu.


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Apakah aku harus melepaskan Adinda begitu saja? Atau apakah aku akan menjalani pernikahan ini dengan bahagia? Oh Tuhan... Bimbing aku ke dalam jalan penuh dengan kebahagiaan. Izinkanlah aku mencintai istriku dan melupakan dia," ucap Budiman dalam hati.


Hampir setengah jam, Budiman belum menyudahi acara mandinya. Sementara itu Adinda merasa sangat cemas sekali. Andaikan dirinya tidak terluka, maka ia bisa melihat keadaan Budiman di dalam toilet.


Meskipun begitu Adinda mencoba untuk turun sambil menahan perih dalam perutnya. Ia mulai berjalan dengan pelan untuk menuju ke dalam toilet. Saat pintu terbuka, Budiman keluar dengan memakai handuk yang melingkar di pinggangnya itu.


Mata Adinda membulat sempurna. Dengan cepat tangannya segera menutup matanya. Namun Budiman memeluknya sambil menahan air matanya.


"Jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku. Walau banyak rintangan dan cobaan," ucap Budiman yang memohon kepada Adinda.


"Lepasin aku sekarang juga! Aku masih sakit nih," pinta Adinda.


Budiman akhirnya melepaskan Adinda sambil menatap wajahnya. Sekilas mereka sangat mirip sekali. Padahal Adinda dan Budiman beda bapak dan ibu.


"Apakah perutmu masih sakit?" tanya Budiman.


"Kalau dibilang sakit sih sakit. Kalau dibilang nggak ya nggak. Lepasin aku sekarang juga," pinta Adinda.


"Aku tidak akan melepaskan kamu," sahut Budiman.


"Kamu mandi lama banget. Aku kira kamu pingsan. Jauh-jauhnya kamu kesambet sama setannya toilet. Buruan pakai baju sana. Mumpung suster belum datang ke sini," jelas Adinda.


"Suster tidak akan datang ke sini. Aku sudah memintanya untuk memeriksamu saja," ujar Budiman.


"Terus aku tidak mandi gitu?" tanya Adinda yang mulai kesal dengan Budiman.


"Mandilah. Tapi aku yang mandiin kamu," jawab Budiman dengan blak-blakan.


"Astaga, Aku minta suster bukan minta kamu yang mandiin. Sekarang kamu ganti baju terus panggil suster ke sini untuk mandiin aku," ucap Adinda yang masih ngotot meminta suster ke sini.


"Nggak usah ngotot gitu ah. Bukankah kita sudah melakukannya?"


"Itu kan paksaan tahu. Lama-lama aku jadi sebel sama kamu."


"Tidak apa-apa. Akan aku buat kamu jatuh cinta kepadaku. Setelah itu kamu akan merasakan cinta yang sungguh sangat luar biasa."


"Idih, yang namanya Budiman orangnya diem, kayak kulkas berjalan, arogannya tinggi banget, giliran disentuh sedikit pun langsung mencak-mencak kayak ular kepanasan. Lah sekarang ngomongin Cinta. Apa Aku nggak salah denger itu? Bener-bener ini orang kesambet setannya toilet."


"Nggak usah kesel gitu. Kamu beruntung mendapatkan suami sepertiku."


"Beruntung Dari mana? Diselingkuhin iya! Jika aku punya kekuatan, maka aku akan mengirimmu ke planet Pluto sana."


"Nggak usah ke planet Pluto. Ke dalam hatimu saja aku sudah seneng."


Semakin lama Adinda semakin kesal terhadap Budiman. Bagaimana tidak kalau dirinya itu terjebak dalam kisah cinta yang sangat aneh ini. Adinda mencoba untuk berontak namun tidak bisa. Malahan luka di perutnya itu membuatnya semakin perih.


"Augh!"


Adinda berhenti lalu menatap wajah Budiman. Wajah ayunya berubah menjadi sangat pucat. Dengan cepat Budiman memapah Adinda untuk naik ke atas ranjang.


Mau tidak mau Budiman akhirnya memakai bajunya. Ia kemudian memanggil suster agar Adinda segera ditangani. Tiba-tiba saja baju putih Adinda terkena darah segar. Budiman semakin panik sebab menunggu para suster datang.


"Sabar ya Yang... Rasanya bagaimana yang?" Tanya Budiman yang semakin panik.


Tidak sengaja mata Adinda melihat Budiman yang panik. Adinda yang sedari tadi meringis langsung terdiam. Ia juga tidak tega melihat Budiman yang panik setengah mati. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Lalu para suster datang dan memeriksa keadaan Adinda.


"Tuan," panggil salah satu suster.


"Ada apa?" Tanya Budiman.


"Lebih baik Tuan keluar dulu. biar kami yang memeriksanya dan memandikannya," jawab Suster itu.


"Kalian periksa saja dan bersihkan lukanya. Biarkan aku yang memandikan istriku sendiri," ucap Budiman yang meminta suster untuk menuruti keinginannya.


"Tapi tuan, ini adalah sesuai prosedur dari pihak rumah sakit. Anda harus mematuhi peraturan rumah sakit ini," sahut kepala Suster itu.


Terpaksa Budiman mengalah dan keluar dari kamar. Budiman akhirnya menunggu hingga suster merawat Adinda.


Selang beberapa menit kemudian, datang Tio dan Faris. Kedua pria itu melihat Budiman sedang bersedih. Lalu Faris mendekatinya dan menepuk pundak Budiman.


"Kamu kenapa?" tanya Faris.


"Adikmu sedang dirawat lagi," jawab Budiman dengan lesu.


"Kenapa lagi?" tanya Faris lagi.


"Lukanya terbuka. Gara-gara dia berontak pengen lepas dari aku," jawab Budiman dengan jujur sekali.


"Lagian lu ada-ada aja sih. Sudah tahu adik gue nggak suka sama elu. Kenapa coba lu maksa banget?" tanya Faris yang kesal.


"Kan gue lakinya. Bukan musuhnya," Budiman menjawab asal agar Faris tidak marah.


"Percuma ngomong sama lu. Lu nya sih... Nggak bisa membedakan mana yang lembut dan mana yang kasar," ejek Faris yang membuat Tio menahan tawanya.


"Ya elu abangnya. Harusnya lu ngasih gue saran apa? Jangan diem aja seperti itu. Lalu perjalanan rumah tangga gue gimana? Gue kan belum kenal deket sama adek lu," tanya Budiman yang tiba-tiba saja frustasi.


"Sekarang gue tanya. Lu nikah terpaksa kan."


"Memang iya."


"Lalu kenapa gue diseret-seret dalam rumah tangga lo?"


"Kan lu abangnya?"


"Memang benar kalau gue abangnya. Terus ngapain lu nyeret gue?"


"Kasih gih apa yang dia suka? Apa yang dia nggak mau?"


"Lama-lama gue stres ngomong sama lu. Yang nikah siapa? Gue di sini jadi bahan penderitaan lu. Terus lu narik gue buat apa? Untung saja gue abangnya. Coba kalau gue bukan abangnya? Bakalan gue bawa tuh Adinda. Gue suruh menceraikan elu. Dan gue nikahin. Puas lu sekarang?"


"Ya nggak gitu kali. Gue ini lagi bingung. Gue nggak tahu apa yang difavoritinnya. Ya lu kasih clue. Dari a sampai z. Agar gue paham."


"Tio!" panggil Faris.


"Ada apa memangnya?" Tanya Tio.


"Lu bawa dia sekarang juga ke kantor. Lihat Tio, kepalaku mau remuk. Dari tadi nanya tentang Adinda!" Kesal Faris.


"Lu jangan ikut-ikutan. Kalau lu ikut-ikutan! Gue gantung lo di Monas hari ini juga!" perintah Budiman.


"Waduh, kalau kayak gini suasana kantor akan lebih menyeramkan seperti kuburan. Oh Tuhan tolonglah aku ini," ucap Tio di dalam hatinya Semoga ada keajaiban di dalam diri Budiman.