
Sementara itu Herman sedang menyelesaikan pekerjaannya. Ia baru sadar kalau ada Kartolo di hadapannya. Ia langsung tersenyum dan menunda pekerjaannya terlebih dahulu.
"Maaf Pak, aku hampir lupa kalau ada bapak di sini," ucap Herman dengan penuh kesopanan.
Entah kenapa Kartolo sangat menyukai Herman. Bahkan Kartolo ingin sekali mengadopsi Herman. Karena Herman sendiri memiliki tata krama yang halus kepada orang yang lebih tua.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu," sahut Kartolo. "Ngomong-ngomong di mana Adinda? Kok aku tidak melihatnya sama sekali."
"Adinda sekarang berada di perusahaannya.sore tadi Adinda mendapatkan ancaman dari Gilang untuk melepaskan tender sebesar tujuh triliun," jawab Herman yang membuat mereka terkejut.
"Apa?" pekik Malik.
Malik yang mendengarnya langsung mengepalkan tangannya. Iya tidak menyangka kalau putrinya ada yang menjegalnya. Mendengar nama Gilang, Malik tahu siapa itu Gilang sebenarnya?
"Apakah kamu serius mengatakan itu?" tanya Malik kepada Herman sambil menatap wajahnya.
"Aku serius kak. Bahkan bilang sendiri mengancam Adinda mati. Jika saja Adinda tidak melepaskan tender itu," jawab Herman sejujurnya.
"Ini sudah gila. Gilang ingin menjegal anakku. Aku tidak akan membiarkan Gilang begitu saja," ucap Malik yang sedikit geram kepada Gilang.
"Tapi ini ada hubungannya dengan Budiman. Kata Adinda sebelum mendapatkan ancaman tersebut. Budiman datang dan memintanya untuk melepaskan tender itu," sahut Herman yang membuat Kartolo lebih terkejut lagi.
Gara-gara Herman berbicara seperti itu, hati Kartolo sangat teriris sekali. Bagaimana bisa Budiman mencampuri urusan tender besar itu? Setahu Kartolo, Budiman tidak memiliki perusahaan makanan lainnya. Bahkan Budiman sendiri adalah seorang CEO di perusahaannya itu.
"Apakah ini ada hubungannya dengan ancaman Gilang tadi?" tanya Kartolo.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Adinda masuk ke dalam lalu melihat Herman, Kartolo, Tio dan Malik. Herman pun tidak sengaja melihat Adinda sudah datang.
"Katanya tidur di perusahaan?" tanya Herman.
"Nggak paman. Aku memutuskan untuk pulang saja. Aku sudah mengambil email itu dan kirimkan ke alamat emailku," jawab Adinda.
"Apakah benar jika Budiman pergi ke perusahaanmu?" tanya Kartolo.
Adinda langsung terdiam dan tidak ingin mengatakan apapun tentang Budiman. Lalu Adinda melihat wajah Kartolo sambil bertanya dalam hatinya. Kenapa Papa mertuanya tahu jika Budiman pergi ke kantor? Padahal dirinya ingin menyembunyikan masalah ini dari Kartolo.
"Jangan banyak diam. Lebih baik kamu berikan penjelasan. Mertuamu itu harus tahu tentang Budiman," ucap Malik yang menatap nanar wajah putrinya itu.
"Pasti Papa diberitahu oleh Paman Herman?" tanya Adinda yang menghempaskan bokongnya di sofa single.
"Iyalah. Siapa lagi?" jawab Malik.
Lalu Adinda bercerita tentang kejadian jam 03.00 sore tadi. Mau tidak mau Adinda harus bercerita dengan lengkap dan tidak dapat dikurangi. Di sinilah hati Kartolo serasa meringis. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Tio. Budiman lebih sering bertemu dengan Kanaya. Hati orang tua mana? Jika sudah dikhianati oleh anaknya sendiri. Pasti sakit dan terluka parah.
Mata Adinda membulat sempurna. Bagaimana bisa sang ayah memberikan perusahaan itu kepadanya? Sementara dirinya tidak memiliki wewenang apapun. Ia langsung menolaknya dan tidak ingin berurusan dengan Budiman. Namun Kartolo memaksanya untuk memegang perusahaan tersebut.
"Maaf pa, seharusnya nggak kayak gini. Biarkanlah papa Yang memegangnya," ucap Adinda.
"Masalahnya begini Din. Jika papa memegangnya, Budiman akan mencari cara untuk merebut perusahaan itu demi Kanaya. Inilah yang aku takutkan untuk sekarang ini. Kamu tahu kan bagaimana sifat asli Budiman?" tanya Kartolo.
"Jujur…Aku nggak ingin membuat diriku perang bersama Budiman. Aku ingin sekali menyadarkan Budiman. Tapi nggak sekarang. Kanaya terus-terusan mencuci otak Budiman. Agar Budiman melawan kita semuanya," jawab Adinda secara terang-terangan.
"Dinda," panggil Malik.
"Iya ayah," sahut Adinda.
"Tolong bantu papamu itu. Mau tidak mau kamu harus menolongnya. Apa yang dikatakan papamu itu benar. Yang ditakutkan papamu itu adalah Kanaya ingin menguasai perusahaan tersebut. Dengan kata lain Njawe Group sekarang berada di ujung tanduk," Ucap Malik.
"Bagaimana jika Budiman terus-terusan menyerangku untuk memberikan perusahaan itu kepadanya? Apalagi di belakangnya ada Kanaya," tanya Adinda yang sebenarnya tidak ingin berurusan dengan Kanaya.
"Tenang. Kami akan membantumu," celetuk Herman sambil menatap Tio.
Tio Yang merasa ditatap sangat kebingungan. Bagaimana bisa dirinya dikait-kaitkan dengan masalah ini? Jujur ia seperti Adinda. Karena ia ingin lepas dari Budiman.
"Pak," panggil Tio.
"Ada apa?" tanya Kartolo yang mendadak curiga.
"Sepertinya aku ingin pulang ke desa saja untuk mengurus sawah dan peternakan milik kakekku," jawab Tio.
"Jadi kamu ingin mengundurkan diri?" tanya Kartolo sambil menyipitkan matanya.
"Iya Pak. Maafkan saya pak. Saya sudah tidak sanggup lagi menghadapi Budiman seperti itu," jawab Tio secara terang-terangan.
"Kamu jangan mundur Tio. Kamu kan sudah tahu sifat aslinya bagaimana. Kamu bisa membantu Adinda untuk membuat Budiman menderita sementara," ledek Herman.
"Kalau gitu saya bunuh diri dong. Hampir setiap hari aku selalu mendengar teriakan-teriakan yang tidak jelas itu. Hanya karena Budiman tidak bertemu dengan Kanaya. Bahkan seluruh karyawan pun menjadi korbannya. Bayangkan saja siang tadi. Gara-gara satu angka saja langsung marah-marah. Padahal itu hanya angka enam. Harusnya itu ditulis angka sembilan. Setelah aku cek semuanya menjadi benar. Tapi Budiman malah marah-marah tidak karuan. Bahkan pas waktu makan siang pun, Budiman menyuruh mereka untuk tidak beristirahat. Katanya gara-gara istirahat pemasukan menjadi merosot," jelas Tio dengan blak-blakan.
Tio yang menjelaskan apa yang terjadi di perusahaannya itu hanya bisa meringis. Jujur saat itu Tio tidak sanggup lagi melihat para pegawai dimarahin habis-habisan. Sedangkan Adinda yang mendengarnya hanya bisa mengucapkan gila. Itulah mengapa Adinda merasa kasihan dengan karyawan di sana.
"Maaf Pa, ternyata Budiman sudah gila. Kalau kayak gini terus diterlanjutkan. Maka semua orang banyak yang menderita dan keluar dari perusahaan masing-masing. Yang aku tahu karyawan di sana sudah memiliki skill yang mumpuni. Semenjak Budiman naik, aku sering mendengar berita buruk yang tidak enak. Namun aku tidak mempedulikannya," jelas Adinda.
"Maka dari itu tolonglah papa. Sebenarnya papa ikhlas kalau kehilangan semuanya. Tapi nggak kayak gini. Kita tahu siapa Kanaya sebenarnya. Kalau dia belum berhasil, dia akan merebut semuanya tanpa ada sisa. Bahkan kalau tidak suka sama orang dia akan membunuhnya," ucap Kartolo.
"Apakah Kanaya tergabung dalam jaringan organisasi hitam?" tanya Herman.
"Tidak. Aku sudah mengeceknya berkali-kali. Di belakang Kanaya ada orang. Dia adalah Gilang. Selama ini Budiman dibodohi olehnya. Kanaya itu sudah menikah dengan Gilang dan memiliki anak kembar. Anak kembar itu sengaja disembunyikan oleh Kanaya di London," jawab Adinda dengan jujur.
"Apakah kamu serius mengatakan seperti itu?" tanya Kartolo yang benar-benar terkejut.