Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 149



“Karena aku sendiri sudah muak dengan pekerjaan seperti ini. Aku ingin bebas dari semuanya,” jawab Budiman.


“Kamu tidak muak karena masalah pekerjaan itu kan?” tanya Adinda yang berdiri lalu mendekati Budiman dan memeluknya dari belakang.


“Yang kamu katakan itu benar. Aku mau aku bertemu dengan orang banyak. Terutama orang tuanya Gilang. Meskipun mereka masih memiliki darah denganku. Aku tidak pernah menghormatinya sedikitpun. Jika aku keluar dari sini, mereka akan senang dan bertepuk tangan melihat kehancuran aku,” jawab Budiman yang memegang tangan Adinda.


“Kalau aku menyuruhmu tidak keluar dari sini?” tanya Adinda.


“Sepertinya kamu berani menantang mereka ya?” tanya Budiman dengan serius.


“Yang namanya Adinda memiliki jiwa pemberani. Aku tidak akan mau menyerah pada keadaan. Kemungkinan besar, mereka harus tunduk pada aturan di perusahaan ini. Aturan itu aku yang membuatnya. Sebelum aku melakukannya lebih gila lagi. Mereka harus menuruti keinginanku. Aku tidak akan menuruti keinginannya. Soalnya mereka berbicara berdasarkan tidak ada fakta sebenarnya. Sebentar lagi aku mengibarkan bendera peperangan. Lihat saja nanti. Aku tidak akan melepaskan mereka semuanya,” bisik Adinda yang membuat Budiman meremang.


Budiman terkejut atas pernyataan Adinda. Bisa-bisanya Adinda dengan berani menantang mereka tanpa ampun sedikitpun. Ia lalu membalikan tubuhnya dan menatap wajah sang istri.


“Seharusnya kamu tidak perlu menantangnya seperti itu. Ingatlah perusahaanmu yang paling penting. Jika kamu menantang mereka. Bisa dipastikan mereka akan menghancurkan perusahaanmu tanpa ampun,” jelas Budiman.


“Apakah kamu takut jika itu terjadi? Seorang Budiman pria tegas dan suka ngeyel kalah sama orang-orang seperti itu. Kamu itu sangat lucu sekali. Kalau aku memang sengaja melakukannya. Aku tidak akan pernah gentar melawan mereka sedikitpun. Cepat atau lambat semua kejahatannya akan terbongkar satu persatu di tanganku,” tanya Adinda sambil menjelaskan kepentingan dirinya.


Itulah Adinda yang sudah muak dengan keadaan keluarga Gilang. Entah ada kesalahan apa keluarga Gilang menjadi bulan-bulanannya Adinda? Sampai saat ini Budiman tidak mengetahuinya.


“Jika kedua orang tuanya memprovokasi keadaan. Akulah orang yang pertama mendatangi kantor Gilang dan mengacak-ngacaknya. Jika dia berani mengusirku. Aku akan datang kembali dan membawa dokumen-dokumen resmi yang sudah disiapkan oleh ayahku sendiri. Kemungkinan besar aku akan menghancurkan gedung itu!” kesel Adinda yang tidak ingin Budiman mencegahnya.


“Jangan kamu meremehkan aku Kak. Ya sudah. Kamu belum tahu ya kalau perempuan sudah meledakkan amarahnya. Jujur aku sendiri sudah memendamnya sejak lama dan ini memaki mereka dengan kata-kata kotor. Memangnya dia kira aku wanita lemah. Aku tidak akan membiarkan dua perusahaan raksasa dunia hancur begitu saja. Hanya karena ambisi kedua orang itu dan ingin menguasai semuanya dengan berbagai alasan apapun. Aku sudah mempelajari ini semuanya dari tingkah polanya mereka. Siapa tahu aku bisa memecahkan masalah ini dan mengibarkan bendera peperangan. Lebih baik Kakak duduk manis aja di meja CEO itu. Nikmatilah permainanku dan lihatlah ketika seorang Adinda mulai melawan orang-orang tak ada guna seperti mereka,” bisik Adinda yang sudah muak terhadap masalah pribadinya bersama Gilang dan keluarganya itu.


Dengan terpaksa Budiman mengalah. Budiman Hampir lupa Kalau Adinda wanita pemberani. Sangking beraninya Adinda sering menceburkan dirinya ke dalam masalah besar. Apalagi masalah itu terkait dengan keluarganya. Wanita berparas imut itu tidak akan pernah membiarkan semua orang yang ingin mengganggu keluarganya.


Jam 10.00 kurang 15 menit, Herman sengaja datang ke ruangan Budiman. Pria bertubuh tinggi itu masuk tanpa mengetuk pintu. Herman melihat sepasang suami istri itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Lalu ia jelaskan bokongnya dan duduk di hadapan Adinda.


“Sepertinya kamu harus menganalisis dengan cermat pekerjaan dia,” tunjuk Herman sambil membuka pembicaraannya terlebih dahulu.


“Aku sudah menganalisis semuanya. Menurutku semuanya itu tepat dan udah teruji secara klinis,” ujar Adinda yang sengaja menyamakan Budiman dengan produk berada di perusahaannya itu.


“Memangnya aku makanan apa?” tanya Budiman yang sengaja mendengar percakapan mereka.


“Gue sangka Lu nggak denger apa yang kami bicarakan?” tanya Herman yang membuka tabnya dan membaca berkas-berkas kasus barunya itu.


“Enak saja kalian ngomong seperti itu di belakangku,” kesal Budiman sambil menatap Adinda dan juga Herman.


“Gimana malam tadi? Apakah kalian sudah merasakan hal-hal yang romantis di pinggir pantai?” tanya Herman sambil meledek Budiman.