
"Setelah aku melihat mereka, aku merasakan ada sesuatu yang tidak dapat kuungkapkan. Semoga saja tidak akan ada nyawa baru lagi di tangan Kanaya," jawab Andara yang memilih diam tanpa bersuara.
Herman mengemudikan mobilnya hingga sampai ke rumah. Herman juga merasakan ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Apakah ini pertanda ada sangkut pautnya dengan Budiman? Akankah Budiman setelah ini baik-baik saja?
Ketika sampai di rumah, Herman segera masuk ke dalam. Begitu juga dengan Andara, Andara mengikuti Herman ke ruangan kerja.
"Bagaimana, Apakah kamu sudah menemukan Adinda?" tanya Malik.
"Kata Andara, Adinda sekarang berada bersama Budiman. Yang jadi pertanyaannya adalah ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali. Terus pas waktu kita pulang, aku melihat Kanaya bersama para preman. Aku hampir sadar kalau Adinda pernah berkata, jika Kanaya bersama para preman. Akan melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Inilah yang aku takutkan sekarang. Preman itu akan menyerang siapa?" jawab Herman.
"Kalau Adinda bersama Budiman ya baguslah. Mereka masih terikat dalam tali pernikahan. Lagian juga Adinda memiliki misi untuk membuat Budiman sadar. Kalau soal rumah tangga Adinda. Kita nggak usah terlalu ikut campur lebih dalam. Biarkanlah mereka menjalani apa adanya. Kita juga tidak berhak menghakimi Adinda maupun Budiman," jelas Malik.
"Aku nggak masalah dengan pernikahan mereka. Yang aku takutkan adalah Kanaya. Kanaya akan memakai segala cara untuk memisahkan mereka. Apalagi misi yang diberikan oleh Gilang belum selesai sama sekali. Siapa tahu kan ayah bisa membunuh Budiman begitu saja," ungkap Herman yang penuh ketakutan.
"Kamu nggak usah terlalu memikirkan soal itu. Biarkanlah mereka bersatu. Jika mereka sudah bersatu. Tidak akan adanya perceraian. Aku yakin Budiman itu pria lembut. Semenjak perkenalan dengan Kanaya, Budiman berubah drastis. Dia lebih sering membantah pernyataan kedua orang tuanya," sahut Tia yang mendengar percakapan mereka berdua.
"Bukan masalah itu Kak. Kami takut jika Budiman menyiksa Adinda," ungkap Herman lagi.
"Kamu belum tahu siapa Adinda sebenarnya? Jika kamu sudah tahu maka Adinda akan berbalik arah menyerang Budiman. Kamu tahu kan keponakanmu itu adalah gadis bar-bar. Yang di mana ke barbarannya itu membuahkan hasil yaitu tawuran di siang bolong ketika sekolah," tambah Tia yang mengetahui sifat Adinda.
Mata Andara membulat sempurna. Memang benar apa yang dikatakan oleh Tia. Adinda dulu suka sekali ikut tawuran dan menjadi maskot sekolahnya dulu. Akan tetapi di tengah-tengah tawuran, Adinda malah pergi meninggalkan mereka. Adinda memilih pergi ke kantin dan menikmati makanan ringan dan es campur. Itulah sifat Adinda sebenarnya.
"Tapi Bu, Adinda sangat curang ketika orang-orang sedang tawuran," ucapan dara yang membongkar suatu fakta tentang Adinda.
"Apa itu?" Tanya Tia.
"Adinda sering sekali mengundurkan diri ketika tawuran sudah membesar. Dia lebih menikmati es campur dan makanan ringan di kantin," jawab Andara yang membuat Tia menggelengkan kepalanya.
"Itulah anak ayah. Semuanya serba kebalik. Faris dulu tidak suka tawuran. Malahan Adinda lah yang suka tawuran. Kalau begitu ya sudahlah. Adinda sekarang berada bersama Budiman. Kalian tidak usah memikirkan Adinda lagi," ucap Malik yang mengucap syukur mendengar kabar Adinda bersama Budiman.
Di tempat lain, Kanaya memutuskan untuk bertemu Gilang di kantornya. Wanita itu masuk ke dalam kantor milik Gilang dengan angkuhnya. Wajahnya diangkat dan menatap pada karyawan sebelah mata. Ia juga memakai tas branded agar bisa dipamerkan ke setiap pegawai.
Sesampainya di kantor Gilang, Kanaya segera masuk ke dalam. Wanita aku itu langsung menaruh tasnya di meja Gilang. Sementara Gilang yang masih mengerjakan tugas-tugasnya terkejut. Gilang sendiri mengangkat wajahnya sambil bertanya, "Ada apa kamu ke sini?"
"Aku gagal. Budiman sama Adinda sudah bersatu dalam ikatan pernikahan. Kemungkinan besar hidup Budiman sekarang berada di Adinda. Aku tidak bisa mengganggunya lagi," ucap Kanaya dengan serius.
"Goblok! Kerjaanmu apaan sih kok bisa mereka bersatu!" Geram Gilang yang menatap tajam wajah Kanaya. "Aku sudah bilang jangan sampai mereka bersatu! Tapi nyatanya kamu membuatnya bersatu!"
"Apa yang harus kita lakukan untuk sekarang ini?" tanya Kanaya.
"Kalau aku menghabisi Budiman. Pria tua itu bisa menunjukku sebagai pembunuh anaknya. Jika aku menghabisi Adinda. Herman Susanto tidak akan pernah melepaskanku begitu saja. Jujur saat ini aku terjepit dalam situasi seperti ini. Apakah aku harus menyusun rencana?" tanya Gilang dalam hati.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Gilang di dalam hatinya itu. Kalau dirinya menghabisi Budiman, Kartolo sudah mengetahui jawabannya. Bahkan Kartolo sendiri akan menjebloskannya ke dalam penjara.
Kalau dirinya menghabisi Adinda, Gilang akan mendapatkan masalah besar. Cepat atau lambat Herman akan mengejarnya. Meskipun Herman adalah seorang pengacara. Namun namanya sangat ditakuti oleh lawan-lawannya. Terpaksa Gilang mundur terlebih dahulu. Ia akan memikirkan rencana selanjutnya.
"Pergilah ke London. Urus anak-anakku!" perintah Gilang.
"Lalu bagaimana dengan Adinda atau Budiman?" tanya Kanaya yang seakan tidak rela meninggalkan Budiman.
"Kamu itu bodoh atau apa sih! Apakah kamu tidak bisa melihat situasi saat ini? Jika kamu tersesat di sini. Maka aku yang terancam. Jika aku membunuh Budiman pria tua itu sudah bisa menebak siapa. Jika aku membunuh Adinda maka Herman tidak akan bisa melepaskanku begitu saja. Aku tidak akan bisa pergilah lagi. Kamu tahu Herman itu adalah pengacara yang ditakuti oleh semua orang. Jika mengambil pengacara maka aku yang akan kalah di persidangan. Maka dari itu kamu harus balik lagi ke London. Jika sudah selesai aku akan panggil kamu lagi," jelas Gilang yang menyuruhkan ayah untuk pulang ke London.
"Tapi sore ini aku sudah menyewa banyak preman. Aku ingin membunuh Budiman saat ini juga," ucap Kanaya.
"Dasar memang wanita bodoh. Jika Adinda tahu maka kamu tidak akan selamat sama sekali. Adinda sudah mengetahui gerak-gerikmu Dan kelicikanmu. Makanya selama ini aku menyuruhmu diam terlebih dahulu. Jika itu terjadi Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Adinda akan menyuruh Herman untuk menangani kasus ini," kesal Gilang terhadap Kanaya.
"Kemasi semua barangmu! Dan jangan pernah kembali lagi sebelum aku suruh!" titah Gilang kepada Kanaya.
"Lalu bagaimana dengan preman itu?" tanya Kanaya.
"Biarkan saja dia menyerang Budiman. Setelah itu biar aku handle untuk menghilangkan jejakmu," jawab Gilang yang melambaikan tangannya agar Kanaya pergi dari hadapannya.
Malam pun tiba. Adinda yang masih berada di apartemen Budiman tidak bisa kemana-mana. Budiman menyuruh Adinda hanya duduk manis dan tidak boleh kemana-mana.
"Sudah malam. Apakah kamu masih bekerja terus-terusan seperti ini?" tanya Budiman.
"Ayo kita pergi dari apartemen ini. Aku ingin mengajakmu makan di luar," jawab Adinda.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku juga sangat lapar sekali sedari sore," ucap Budiman.
Mereka memutuskan untuk keluar dari apartemen. Budiman akan mengajak Adinda makan di tempat favoritnya. Sebelum keluar dari sana, Adinda merasakan perasaan yang tidak enak. Ia memutuskan untuk menarik baju Budiman untuk kembali lagi ke unit apartemennya.
"Perasaanku enggak enak," ucap Adinda yang membuat Budiman tanda tanya.
"Kamu kenapa Din?' tanya Budiman yang mengerutkan keningnya.
"Aku merasakan ada sesuatu. Lebih baik kita balik lagi ke atas," ajak Adinda,
"Kita sudah sampai disini. Ngapain kita naik lagi?" tanya Budiman yang membuat Adinda semakin ragu atas apa yang akan dilaluinya.
"Udah.... balik saja ya," ajak Adinda yang bersikeras untuk balik lagi ke atas.
"Tanggung Din. Lebih baik kita makan dulu. Ketimbang kamu lapar," ajak Budiman.
Akhirnya Adinda menuruti keinginan Budiman. Ia mengajak Adinda untuk pergi ke pedagang kaki lima.
"Kita mau makan dimana?" tanya Adinda.
"Tuch... warung pecel lele. Tempatnya enggak jauh dari sini," jawab Budiman.
"Memangnya dimana sih ada pecel lele?" tanya Adinda yang tiba-tiba saja semangat.
"Itu. Di ujung jalan. Aku sering makan di sana. Aku sudah menjadikan makanan favoritku," jawab Budiman.
"Biasanya kamu kalau makan di restoran?" tanya Adinda yang mengetahui kalau Budiman sering sekali makan di restoran.
"Aku jarang makan di sana jika tidak bertemu dengan klien. Jika kamu ingin tahu tentang aku, kamu coba tanyakan saja pada Nda. Dia sering sekali mengajakku makan di tempat seperti itu," jawab Budiman yang mengajak Adinda jalan di restoran.
"Apakah aku harus bertanya tentang kamu?" tanya Adinda.
"Aku kan suamimu. Jadi berhak kamu mengetahui semuanya tentang aku semuanya," jawab Budiman yang mulai mengakui Adinda sebagai istrinya.
"Cih, ngaku juga akhirnya," kesal Adinda.
"Jangan seperti itu. Jika kamu kesal sama aku terus. Nanti aku cium kamu dan hidupmu hari ini akan berakhir di ranjang," ucap Budiman yang tidak sengaja mengancam Adinda.
"Cih... sejak kapan kamu mulai mengancamku seperti ini?" tanya Adinda yang membuat Budiman terkekeh kecil.