
"Pagi-pagi Aku ingin mengajak Kak Tio main, ujung-ujungnya tidur di kamar belakang. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Mau marah juga percuma. Bang Budiman saja udah langsung tepar di dalam kamar. Namanya curang ya," jawab Andara dengan kesal sambil menatap wajah Budiman.
"Aku tidak melarangmu untuk berkencan dengan Tio. Kamu tahu sendiri kan pekerjaan saat itu sangat banyak sekali. Nggak bisa seenaknya Aku tinggalkan. Jadi mau tidak mau Tio juga harus ikut lembur bersamaku. Sekarang kamu sudah bebas. Tahun depan kalian harus menikah. Kakak nggak mau terjadi apa-apa dengan kalian. Jika Tio tidak mau, aku akan memaksanya untuk menikahimu," jelas Budiman.
"Bukannya kakak berada di London untuk tahun depan?" tanya Andara.
"Kita lihat saja nanti. Aku sendiri bisa pulang atau tidak. Karena kalau sudah kuliah di sana harus pandai-pandai mencari pekerjaan bisa menyambung hidup. Apalagi sekarang kakak statusnya bukan pria single. Kakak sudah menikah harus membiayai hidup kakak iparmu itu. Sudah seharusnya pria menikah bertanggung jawab pada anak istrinya kelak. Meskipun Kakak nakal. Kakak nggak pengen melakukan hal-hal yang konyol seperti itu," jawab Budiman yang menjelaskan tugas pria sebenarnya setelah menikah.
"Itu benar Kak. Kakak harus bertanggung jawab atas kehidupannya Kak Adinda. Cepat atau lambat Kakak juga akan memiliki seorang anak. Aku tidak akan mengganggu kakak setelah ini. Aku akan mencari uang untuk diriku sendiri," ucap Andara sambil tersenyum manis dan memberikan semangat kepada Budiman.
"Ya nggak gitu kali. Kalau kamu kesusahan Kenapa nggak hubungin aku? Bukankah masalah itu masih berlaku sampai saat ini? Nggak usah sungkan sama aku. Aku sendiri bukan seorang kakak ipar yang jahat kepada adik-adiknya," jelas Adinda.
"Yang kayak gitu Din. Yang namanya orang sudah menikah aku tidak akan mungkin mengganggu kalian. Aku banyak belajar darimu agar bisa menjadi wanita mandiri dan tidak menggantungkan hidup kepada pria. Memangnya siapa sih yang nggak mau pegang uang banyak jika sudah menikah?" tanya Andara yang membuat Adinda tersenyum.
"Kamu tahu gara-gara tadi aku diprotes sama ayah. Katanya aku nggak boleh menjadi perempuan terlalu mandiri. Ya aku akan menjadi wanita standar saja. Aku ingin menghormati kakakmu sebagai suamiku yang tulus. Aku juga tidak akan menuntut apapun dari kakakmu. Karena aku butuh kenyamanan hidup saja," jelas Adinda.
"Aku bisa membuatmu nyaman Din. Aku bisa membawamu kemanapun yang kamu minta. Memang seharusnya manusia ditakdirkan untuk berpasang-pasangan. Tapi yang aku minta, terimalah uangku ketika aku memberikannya untukmu. Aku akan memberikannya setiap sebulan sekali standar syarat pernikahan utama. Tapi kalau uang jajan aku akan memberikannya dua hari sekali," tambah Budiman.
"Iya Kak. Aku setuju itu. Jangan pernah pelit kepada istri. Nanti kalau pelit rejekinya dikurangi sama sang pencipta. Di belakang pria sukses ada seorang wanita kuat yang mendoakan di setiap langkah pria tersebut. Aku yakin Kakak nanti bisa menjadi sukses bersama Kak Adinda," ucap Andara sambil mendoakan kebahagiaan keduanya.
"Amin," jawab mereka serempak sambil berdoa agar semuanya terwujud.
"Gimana pendapat Kakak tentang Netty?" tanya Andara.
"Aku akan meminta Kak Faris untuk memecatnya. Aku tidak ingin semuanya berlanjut hingga esok. Biarkan Kak Faris mencari asistennya sendiri. Bahkan aku tidak akan membantunya untuk mencari asisten buat Kak Faris. Soal hutang piutang aku angkat tangan. Memang hutang itu sebelum kita berkenalan pada waktu sekolah dulu. Jadinya semuanya nggak ada sangkut pautnya dengan kita," jelas Adinda yang membuat Andara menjadi lega.
"Masalahnya cuman satu. Jika dia marah bagaimana?" tanya Andara.
"Kamu takut sama dia? Semuanya berawal dari Netty sendiri kan. Jika saja dia nggak menutupi masalah ini. Kita nggak akan mungkin takut untuk menghadapi orang-orang seperti itu. Netty itu sering diperalat oleh Gilang untuk menghancurkan otaknya kakakmu itu. Makanya saat awal-awal pernikahan. Aku sangat penasaran sekali sama Kanaya palsu. Ada yang bilang kalau Kanaya itu berada di Inggris. Ada yang bilang Kanaya masih berada di Jakarta. Ternyata setelah aku cek Kanaya itu berada di Inggris. Lalu siapa yang berada di Indonesia? Otomatis Netty yang menjadi Kanaya agar bisa meracuni otak kakakmu. Apakah kamu paham sampai detik ini? Andai saja papamu tahu, papamu akan ngomel sepanjang hari. Kamu tidak akan membiarkan kamu berteman sama Netty. Jujur saja apa yang dikatakan oleh dia itu semuanya benar. Mama belum tahu soal ini. Jadinya kamu bisa berteman dengan dia. Kalau dia telepon disuruh ke sana ya kamu ke sana saja. Kalau dia cerita dan memutarbalikkan fakta aku masih memiliki bukti itu. Paman Herman sudah memberikan bukti-bukti yang real. Paman Herman tidak akan membohongi aku dan juga kalian. Karena dia sendiri adalah seorang pengacara yang kondang di negeri ini. Jadinya Paman Herman tidak akan membohongi semua orang," jelas Adinda yang membuat Andara percaya.
"Kalaupun diambil sama Gilang pasti ketahuan. Dia bisa mengatur ahli gizi dan menulis gizi itu di kemasannya. Tapi dia harus membuktikannya. Itu nggak semudah yang dibayangkan Nda. Aku bisa memakai Kak Irma dan kak Kevin untuk membantuku mengecek gizi tersebut. Semuanya pasti diperiksa sebelum keluar dari pabrik. Nggak mungkin seenaknya keluar begitu saja tanpa harus memikirkan Bagaimana nilai gizi tersebut. Aku sudah membuktikannya. Aku sudah melakukannya. Kalau Gilang serba asal saja. Aku nggak terlalu memikirkan soal itu. Nanti akan ada masanya siapa yang benar ataupun salah," jelas Adinda yang tidak ingin memperburuk masalah ini menjadi besar.
Mereka akhirnya melupakan masalah itu. Mereka bercerita tentang kejadian di masa lalu yang sangat kocak sekali. Bahkan Andara menyinggung soal pertemuan antara Adinda dan juga Budiman. Meskipun nyesek buat Budiman, Budiman bahagia bisa mendapatkan bidadari yang sesempurna itu. Lalu Budiman berpikir, ternyata selama ini Tuhan masih sayang kepadanya. Tuhan tidak pernah ingkar pada janjinya dan mau menolong orang-orang yang tersesat. Itulah kenapa mereka bisa dipersatukan secara paksa di atas sumpah sakral di waktu itu.
Bagaimana dengan Herman? Herman hanya menyesali kejadian tadi. Untung saja dirinya belum menikahi Netty. Sebelum perjalanannya ke Inggris, pihak keluarga sudah meminta Herman untuk menikah. Akan tetapi Herman menolaknya dengan mentah-mentah. Ia memiliki firasat yang tidak enak ketika ingin melangkah lebih jauh lagi bersama kekasihnya itu. Akhir cerita Herman harus berdiri dengan tegak dan membuang Netty dari pandangannya.
"Paman," sapa Faris sambil memegang kantong kresek yang berisikan cilok lalu duduk di hadapan Herman.
"Dari mana siang tadi sampai sekarang?" tanya Herman.
"Mau mancing di tempat pemancingan itu. Berhubung alat pancingku hilang entah ke mana, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung. Yah aku bertemu dengan anak-anak zaman sekolah dulu. Akhirnya nyangkut di sana dan ngobrol panjang lebar. Mereka menanyakan kamu. Akhir-akhir ini kamu nggak pernah berkumpul sama mereka," jawab Faris.
"Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Aku sendiri belum ke sana. Kabar terakhir aku menangani kasus Delon," jelas Herman.
"Oh Delon. Dia dituduh mencuri di perusahaan Gilang bukannya?" tanya Faris.
"Itu benar. Kasusnya sangat rumit sekali tapi aku bisa memenangkannya. Memang Gilang sengaja melakukannya agar Delon masuk ke dalam penjara. Licik banget itu orang kalau soal tuduh menuduh. Padahal yang melakukannya bukan Delon melainkan pegawainya sendiri yang dari muka ke wajah Gilang. Masalah selesai Gilang tidak terima mengajukan banding lalu aku gebrak meja di hadapannya. Aku bilang semuanya sudah terkumpul sidik jarinya dan lainnya. Yang namanya orang keras kepala susah banget dibilangin. Pihak pengadilan tidak mau dan menolak pengajuan banding seperti itu. Berkas-berkasnya sudah lengkap kok. Akhirnya Gilang mundur dan tidak mau memperpanjang masalah ini," jelas Herman.
"Memang sedari dulu Gilang licik. Soal juara kelas kalau dia nggak juara ngamuk deh. Dia sedari dulu tidak pernah masuk dalam sepuluh besar. Hanya geng kita saja yang masuk mulai dari Irwan, Roni sampai Budiman. Jadi ngakak pada waktu itu kalau ingat Gilang tidak mendapatkan juara kelas ngamuk sejadi-jadinya dan pengen menghancurkan sekolah tersebut," tambah Faris.
"Tumben saja Pak sopir bawa mobil sini?" tanya Faris yang membetulkan posisi duduknya.
"Ada masalah tadi siang. Nanti datang meminta surat tender sebanyak tujuh triliun untuk diberikan kepada Gilang. Mintanya ke Adinda dan Adinda nggak mau ngasih sama sekali," jawab Herman.
"Yang bener paman? Wah ini nggak bisa dibiarkan kalau Netty berhubungan dengan Gilang," tanya Faris.