Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 45



"Lepaskan aku! Aku harus pergi ke kantor! Aku harus mengurus Gilang hari ini," seru Adinda sambil memukul dada Budiman.


"Bisa nggak sih kamu membiarkan aku menikmati tubuhmu?" tanya Budiman yang tersenyum menakutkan.


"Aku nggak mau," jawab Adinda yang masih memberontak untuk lepas dari Budiman.


"Baiklah. Kamu sudah membangunkan benda pusakaku itu. Sekarang waktunya kamu harus bertanggung jawab atas benda pusakaku itu," ucap Budiman dengan lirih.


"A-Apa maksudmu? Tolong lepaskan aku!" teriak Adinda.


Semakin lama Adinda semakin berontak membuat benda pusakanya milik Budiman bangun. Budiman sedari tadi hanya mengerjai Adinda wajahnya berubah menjadi sayu. Budiman langsung mencari kelemahan Adinda.


"Kamu nggak bisa lepas dari aku. Benda kesayanganku sudah bangun. Jika kamu mencoba melepaskannya. Kamu akan berdosa dengan Sang pencipta. Kan kamu tahu kenapa kamu berdosa? Karena kamu telah menolak permintaan suamimu ini," bisik Budiman.


"Aku merasa kalau nggak punya suami sepertimu. Karena pernikahan ini adalah pernikahan kontrak. Jika kamu sudah sembuh dari penyakitmu itu. Aku bisa pergi kapanpun yang ku mau," jelas Adinda yang membuat Budiman menjadi marah.


Apa yang dilontarkan oleh Adinda membuat Budiman menjadi marah? Budiman seakan tidak rela, jika rumah tangganya hancur berantakan. Namun yang dilontarkan oleh Adinda itu memang benar. Adinda akan pergi jika Budiman telah sadar dari penyakitnya itu. Namun sekarang Budiman tidak akan melepaskannya lagi. Budiman akan tetap membuat Adinda berada di sampingnya.


Mungkin dengan cara inilah, Adinda tidak akan pergi lagi dari sisinya. Memang Budiman sangat egois kepada Adinda. Namun apa daya, Budiman harus melakukannya. Jika tidak, Budiman akan kehilangan Adinda selamanya.


Pagi hingga siang Budiman telah membuat Adinda tidak berdaya. Budiman telah menyelesaikan ritual suami istrinya itu bersama Adinda. Adinda yang merasakan tubuhnya remuk sengaja membelakangi Budiman. Jujur Adinda tidak marah sama sekali terhadap Budiman. Memang sudah seharusnya Adinda menyerahkan kesuciannya kepada sang suami.


Saat Adinda membalikkan tubuhnya, Budiman melihat ada darah di ranjangnya. Pria itu terkejut karena Adinda masih sangat suci sekali. Ia mengingat peristiwa tadi. Ketika akan memasukkan benda pusakanya itu terasa sangat sempit sekali. Namun diam-diam ia tersenyum sambil berkata, "Sebentar lagi.. akan ada yang mengikat kita. Dia adalah anggota baru yang telah kita buat bersama pada pagi ini."


Ketika Budiman mengatakan itu, Adinda tersentak lalu bangun. Matanya sangat tajam sekali ketika memandang wajah Budiman. Ternyata Budiman sangat licik sekali. Diam-diam Budiman menghancurkan impiannya itu.


"Kamu memang pria tidak ada guna buat aku. Awas aja nanti kalau kamu pergi dari aku setelah puas mendapatkan kemauanmu itu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan jangan pernah kembali lagi di hadapanku," ancam Adinda.


Budiman tersenyum getir sambil memandang wajah Adinda. Dadanya terasa sesak lalu air matanya menetes. Budiman ingin sekali mencintai Adinda. Namun dirinya malah mendapatkan ancaman seperti itu.


Hancur sudah harapan Budiman. Akan tetapi memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Jika ia sampai kembali ke Kanaya, maka Adinda memilih pergi jauh bersama anaknya kelak.


Siang itu mereka tidak bicara sama sekali. Adinda yang tidak bisa bangun hanya bisa terbaring lemah. Entah kenapa dirinya merasa kasihan sama Budiman. Biar bagaimanapun Budiman tetap menjadi suaminya.


"Kamu nggak makan? Makan sana terlebih dahulu. Habis itu kamu lanjutkan tidurmu lagi," tanya Budiman dengan lembut.


"Aku nggak mau makan," jawab Adinda dengan kesal.


"Kenapa kamu kesal sama aku? Aku tahu, aku memang salah sama kamu. Aku nggak ingin kamu pergi dariku. Aku ingin melupakan Kanaya."


"Aku nggak peduli soal itu. Kamu memang sangat kejam kepada aku."


"Nanti kamu akan terbiasa dengan adegan seperti ini. Memang seharusnya jika manusia sudah menikah akan melaksanakan ritual di atas ranjang."


"Lalu bagaimana dengan Gilang?"


"Nanti kita cari cara untuk menghadapinya bersama."


"Apakah kamu yakin bisa menghadapi Gilang?"


"Aku yakin soal itu. Aku tidak akan pernah gentar menghadapinya."


"Lalu bagaimana dengan nasibku ini? Dari dulu kita tidak pernah akur."


"Kamu sangat keras kepala ya Din? Sudah aku bilang beberapa kali. Kalau aku ingin melepaskan Kanaya."


"Tapi nggak kayak gini caranya."


"Terserah apa katamu. Sekarang kamu sudah menjadi milikku selamanya."


Mereka selalu saja bertengkar. Adinda menjadi sangat pusing terhadap kelakuan Budiman. Lalu bagaimana dengan nasib pernikahannya? Entahlah. Satu kata itulah yang membuat dirinya ragu kepada Budiman.


Sementara itu Kanaya menghancurkan isi kamarnya. Kanaya tidak mengira kalau Budiman sudah mengetahui kehidupannya. Bahkan rencana yang sudah dibuatnya hancur berantakan. Ia ingin menemui Gilang untuk membicarakan rencana selanjutnya. Ia tidak mungkin diam dan membiarkan Budiman bahagia.


Lalu bagaimana dengan Adinda? Selama ini Kanaya kalah telak dari Adinda. sebab ia tidak akan bisa melancarkan aksi balas dendamnya itu. Iya juga pernah membunuh kekasihnya Adinda. Namun dengan keahliannya, Kanaya mencuci tangan dan melemparkan kasus itu ke orang lain. Maka dari itu kan ayah juga harus putar otak agar Adinda bisa menjauhi Budiman.


Siang yang sangat terik di kota Jakarta, Adinda sudah membersihkan tubuhnya. Ia mencari keberadaan Budiman berkeliling unit apartemen ini. Namun dirinya tidak menemukan Budiman sama sekali.


Dua jam berlalu, Budiman datang dengan membawa pakaian Adinda. Budiman sengaja pulang ke rumah Adinda hanya demi mengambil pakaiannya. Saat masuk Adinda sudah menunggunya. Dengan senyum yang merekah, Budiman memberikan tasnya itu ke arah Adinda.


"Ini baju kamu," ucap Budiman.


"Habis dari mana?" tanya Adinda.


"Dari rumahmu untuk mengambil beberapa pakaian kamu. Semuanya sudah aku taruh di tas ini."


"Apakah ibu dan ayah mengetahuinya?"


"Di rumahmu tidak ada siapa-siapa kecuali tiga asisten rumah tanggamu."


"Masa kamu nggak tahu sih? Kalau aku memiliki kunci kamarmu itu. Ibu sudah memberikannya kepadaku. Jadinya aku bisa bebas masuk ke dalam kamarmu itu."


.


Adinda baru mengetahuinya jika Budiman memiliki kunci kamarnya itu. Lalu Adinda memutuskan mengambil tas itu dan menaruhnya di dalam kamar.


Sembari berjalan Adinda masih merasakan sakit di area sensitifnya. Diam-diam Adinda memakai Budiman di dalam hati.


Melihat Adinda berjalan seperti itu, terus terang Budiman mendekatinya. Bahkan dirinya sengaja memegang tubuh Adinda dan menggendongnya.


"Ngomong kalau itu masih sakit," ucap Budiman.


"Ngapain juga harus ngomong sama kamu?" tanya Adinda.


"Karena aku suami kamu," jawab Budiman.


"Aku tidak mempedulikan itu," kesal Adinda.


"Sudah aku katakan. Kamu nggak boleh kesal sama aku seperti itu. Biar bagaimanapun Kamu adalah istriku. Dan aku adalah suamimu. Sudah jelaskan status kita itu bagaimana?"


Sesampainya di kamar Budiman membaringkan tubuh Adinda. Sebelum pergi Budiman mengejut bibir Adinda lalu meninggalkannya untuk sementara waktu.


Di luar kamar Budiman sangat bingung dengan Sang papa. Budiman ingin kembali ke rumah dan menjelaskan keadaannya bagaimana? Namun itu tidak akan berhasil. Ia akan mencari cara untuk bertahan tanpa adanya fasilitas dari orang tuanya itu.


Satu kata bingung.


Budiman memang tidak ingin kehilangan fasilitasnya itu. Namun apa daya ia harus kehilangannya. Apalagi ia sudah memperk*sa Adinda. Inilah yang membuat dirinya bingung.


Sepanjang sore menjelang malam, Budiman sangat bingung setengah mati. Ia memilih diam dan frustasi. Ia melihat Adinda yang sedang asyik dengan dunia pekerjaannya. Lalu ia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Adinda sudah merasakan hal yang aneh dari Budiman. Ia memang sengaja memilih diam sebelum Budiman bicara. Ia menatap wajah Budiman yang sedari tadi frustasi. Namun Adinda juga merasakan kalau dirinya sangat kejam kepada Budiman. Lalu Adinda menghentikan pekerjaannya itu sambil berkata, "Aku enggak tahu sekarang."


"Maksud kamu apa Din?" tanya Budiman.


"Maksud aku, aku enggak tahu mau manggil kamu apa? Lagian juga usia kamu lebih tua dari aku. Sudah sewajarnya aku harus memanggil kamu dengan cara sopan. meskipun kamu nyebelin sedikit," jawab Adinda dengan jujur.


"Terserah kamu. Yang penting kamu masih menganggapku sebagai suami,' ucap Budiman yang pasrah kepada Adinda.


"Kamu kenapa sih sedari tadi kok diam saja dari tadi?" tanya Adinda yang mengerutkan keningnya.


"Aku bingung dengan papaku," jawab Budiman.


"Sedari tadi kamu bingung dengan papamu."


"Iya... aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Aku bingung. Papa sudah mencabut fasilitas yang ada."


"Oh... sekarang masalahnya apa?"


"Masalahnya aku tidak bisa ngapa-ngapain. Cepat atau lambat kamu akan mengandung bayiku."


"Lalu?"


"Aku tidak memiliki pekerjaan apapun. Aku sudah dilempar ke jalanan. Aku mendapatkan informasi itu dari Tio asistenku. maka dari itu aku sekarang aku pusing. Bagaimana caranya aku bisa membiayai kamu dengan uangku sendiri?"


"Oh... kamu pusing gara-gara itu ya?"


"Ya... itu benar. jujur selama ini aku hidup dari fasilitas milik keluarga. Jadinya hidupku bergantung pada papa."


"Lha, kenapa kamu menikah denganku? Jika kamunya hidup dari fasilitas papamu itu?"


"Aku dipaksa menikah."


"Kamu tahu kenapa papa memaksa kamu menikah?"


"Papa ingin sekali menolongku dari Kanaya. Aku memang salah."


"Nah... dari dulu papa sudah memperingatkan kamu. Tapi kamunya saja yang enggak paham soal ini."


"Berarti papa sudah tahu kejelekannya Kanaya?"


"Sudah tahulah. Sedari dulu memang Kanaya sudah mengancam Andara. Kamu tahukan kalau Kanaya ingin sekali membunuh Andara?"


''Maksud kamu apa?"