
"Itu benar. Aku memang sengaja menyerahkan seluruh CCTV di dalam kamar ke Adinda. Aku tahu Adinda itu tidak pernah bicara apa-apa ke setiap orang. Hampir setiap hari Adinda mengecek Siapa saja yang masuk ke dalam kamar. Termasuk Boim dan Mila. Mereka hanya bersih-bersih kamar lalu pergi lagi. Aku sangka bila itu adalah anak yang baik. Ternyata dia adalah pencuri uang. Banyak sekali sudah korban-korbannya. Aku diberitahu oleh teman-teman dosenku. Sebelum mendapatkan informasi dari kalian. Sekarang aku bingung Setengah Mati. Perhiasan istriku lenyap semua,"
"Tenang saja. Masalah ini akan teratasi oleh kita-kita. Aku akan menghubungi temanku untuk mencari tahu keberadaan Mila. Oh ya satu lagi. Pintu masuk bandara, Terminal dan Pelabuhan akan aku tutup atas nama Mila. Dia tidak akan bisa pergi kemana-mana. Dia akan berkutat di kota ini saja," jelas Herman yang segera meraih ponselnya lalu menghubungi temannya itu.
"Itu terserah kamu. Pokoknya perhiasan itu harus kembali lagi ke tanganku. Kalau Adinda Aku tidak akan menuduhnya sama sekali. Soalnya Adinda itu tidak suka berhias sama sekali. Nikah pun hanya memakai bedak saja. Yang datang hanyalah Bapak penghulu dan kedua belah pihak keluarga. Memang Ayah sendiri tidak ingin rame-rame. Soalnya Ayah takut nanti kalau Budiman mencarikan Adinda. Nikah hanya beberapa hari lalu bubar," jelas Malik.
"Tapi nyatanya mereka bersatu. Budiman sudah bucin banget sama Adinda. Adinda ke mana selalu saja ditunggu," ucap Faris dengan jujur.
"Kamu benar. Ayah hanya ingin menjaga kehormatan Adinda. Ayah nggak mau jika banyak orang-orang mengatakan Kalau Adinda itu terlalu berharap pada Budiman. Mereka tidak tahu kenyataannya bagaimana. Soalnya mereka itu tidak tahu bagaimana pernikahan ini bisa terjadi dan apa penyebabnya," tambah Malik.
"Apa yang dikatakan oleh ayahmu benar. Ibu juga sebenarnya tidak suka sama Budiman. Tapi Budiman sendiri sudah menunjukkan kasih sayangnya terhadap Adinda. Sekarang Ibu menerima Budiman dengan tangan terbuka," ucap Tia.
"Semuanya nggak jadi masalah sih menurut aku. Yang namanya manusia pasti ada masa lalunya. Nggak semua orang itu memiliki masalah dengan sempurna. Mereka hanya saja menutupinya dengan mulus," kata Herman.
"Bukankah kita sebagai manusia harus memaafkan? Kalau dalam masalah ini Budiman itu tidak salah sepenuhnya. Semua ini berawal dari Kanaya. Dia memang sangat licik dan memutarbalikkan fakta.Ketika di sekolah karena ia sering membully anak-anak lainnya. Kalau nggak suka dia langsung memilih target dan memanggil temen-temen gengnya. Salah satu dari mereka akan memanggilnya dan menyuruhnya datang ke halaman belakang sekolah. Kalian pasti tahu kan apa yang terjadi selanjutnya. Gara-gara hal itu, mereka ada yang terkena mental. ada yang frustrasi, ada yang depresi sampai bunuh diri. Bahkan kedua orang tuanya tidak bisa mengusut kasus itu. Mengusut pun percuma. Dia sangat pandai berkilah dengan alasan memang anaknya seperti itu kok. Dan salah satu dari mereka itu. Anak dari orang penting di negara ini. Jadinya mereka lolos terus dari hukum," jelas Herman.
"Orang itu masih ada ya?" tanya Faris.
"Masih. Tapi sayangnya dia sudah masuk ke rumah sakit jiwa. Gara-garanya dia itu terlalu Obsesi dengan pria Tunisia yang bernama Zatun," jelas Herman yang membuat waris terkejut.
"Memangnya ada apa? Kok aku disuruh pagi-pagi ke sini?" tanya Adinda.
"Apakah kamu mengambil perhiasan Ibu dua set sekaligus?" tanya Tia.
"Aku memang mengambilnya Bu. Aku sengaja mengambilnya demi kusimpan di lemari aku," jelas Adinda yang membuat Tia terkejut.
"Kenapa kamu ambil perhiasan itu?" tanya Malik yang merasa curiga.
"Masalahnya cuma satu Bu. Ibu tahu kan Mila. Beberapa hari belakangan ini, Mila sering masuk ke dalam kamar ibu. Aku sudah mendeteksinya berulang kali. Mila diam-diam membuka lemari ibu. Lalu tidak sengaja melihat brankas. Dia mencoba mengotak-atik kode tersebut. Tapi nggak bisa-bisa. Hingga akhirnya dia memutar otaknya. Agar bisa mengambil perhiasan itu," jelas Adinda.
"Kapan itu waktunya?" tanya Tia.
"Waktunya sudah lama. Selain itu juga, Perhiasan yang di dalam sana itu bukanlah perhiasan asli. Itu perhiasan imitasi. Aku sengaja membelinya dari abang-abang jalanan. Lalu aku taruh di lemari ibu. Sedangkan perhiasan asli ada di lemariku juga. Ketika Mila mengambilnya. Mila akan menjualnya lagi. Perhiasan itu tidak akan bisa dijual," jelas Adinda.
"Apa?" pekik mereka secara serempak.