
"Karena aku ingin dekat dengan Adinda," jawab Budiman yang tidak bisa melepaskan Adinda untuk selamanya.
Kartolo tidak yakin dengan ucapan Budiman. Ia segera berdiri dan menarik baju Budiman lalu memberikan sebuah bogem mentah.
Brugh!
Budiman jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Pukulan Kartolo kali ini cukup keras. Ia memang sengaja melakukannya karena tidak yakin dengan jawaban Budiman.
Ketika Faris berdiri, Malik langsung menghadangnya. Ia tidak ingin putranya ikut-ikutan. Ia membiarkan Budiman mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan.
Jujur saat ini Kartolo kecewa dengan Budiman. Ia tidak ingin Budiman ikut. Takutnya Budiman di sana membalaskan dendam yang selama ini Adinda perbuat.
"Aku ikut karena ingin melindungi Adinda. Aku sekarang suaminya Adinda. Pria mana yang mengizinkan istrinya keluar dari rumah berbulan-bulan hingga keluar negeri?" tanya Budiman yang tiba-tiba saja emosi.
"Izinkanlah Budiman ikut ke Amerika. Aku yakin dia ingin melindungi Adinda di sana," ucap Malik.
"Jika dia ikut ke Amerika, bagaimana dengan perusahaanku? Seharusnya dia mengurusi perusahaan Njawe Group<" kesal Kartolo.
"Biarkanlah Andara yang menanganinya. Aku akan membantunya," jawab Faris yang bersedia membantu Njawe Group.
"Begitu juga dengan aku. Aku harap perusahaan yang dipegang oleh Andara bisa berkembang pesat," sahut Herman.
"Sekarang yang jadi pertanyaan, bagaimana nasib Budiman?" tanya Kartolo yang tidak yakin dengan Budiman.
"Biarkan Budiman kuliah lagi mengambil S3 dengan jurusan yang sama. Setelah pulang dari New York aku yakin Budiman bisa memegang perusahaan," jawab Malik yang menyuruh Budiman kuliah lagi.
"Percuma dia kuliah tinggi-tinggi! Kalau dia ujung-ujungnya tidak bisa memegang perusahaan," kesal Kartolo yang paham dengan Budiman.
"Berikanlah dia kesempatan lagi. Agar dia benar-benar matang untuk memegang perusahaan. Jika sudah matang di bisa memegang perusahaannya sendiri," jelas Malik yang membuat statemen.
Dengan terpaksa Kartolo mengalah. Ia akan membiarkan Budiman kuliah lagi. Memang benar apa yang dikatakan oleh Malik. Bukankah seharusnya kita memberikan kesempatan?
Budiman berdiri dan membungkukkan badannya ke arah Malik. Ia mengucapkan terima kasih dan berjanji melindungi Adinda untuk selamanya.
Selesai melakukan perdebatan sengit, para keluarga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Di sana hanya ada Budiman. Pria itu sengaja tidak pulang ke rumah. Ia berjanji akan menunggu sang istri kecilnya untuk bangun.
Budiman memegang tangan Adinda sambil tersenyum getir. Ia memegang tangan rambut indah Budiman. Akan tetapi hatinya masih bertanya-tanya. Apakah sang istri bisa sadar untuk saat ini?
"Din," panggil Budiman. "Kamu kalau tidur pulas banget. Apakah kamu enggak capek seperti itu? Biasanya kamu mengajak aku berdebat. Jujur aku suka dengan gaya bicaramu. Aku tahu kamu adalah wanita berkelas. Aku sangat beruntung bisa menikahimu. Walau itu terpaksa. Dengan keterpaksaan itulah kita bisa memiliki sesuatu yang berada di dalam hati. Meskipun kamu tahu kalau aku adalah orang yang nyebelin. Enggak nurut sama orang tua dan kamu."
"Sekarang aku sadar. Apa yang aku lakukan selama ini salah. Aku terjebak dalam hubungan ini. Memang Kanaya saat ini tidak memperdulikanku. Melihatku namun tidak datang. Aku sungguh menyesal."
Tiba-tiba saja Adinda mengeluarkan suaranya. Namun saat ini matanya tidak bisa terbuka. Ia sedang terkena obat bius.
"Kalau kamu menyesal ngapain juga cerita sama aku?" tanya Adinda.
Mendengar suara Adinda, Budiman tersenyum. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaanya.
"Kamu sudah sadar?" tanya Budiman dengan bahagia. "Sebentar aku mau panggil Dokter."
"Enggak perlu," ucap Adinda yang mencoba membuka mata.
"Kenapa kamu enggak perlu dokter? Biarkanlah dokter yang akan memeriksamu," tanya Budiman.
"Berikan aku minum," pinta Adinda.
Budiman mengambil gelas berisi air di atas nakas. Lalu ia memberikan ke Adinda beserta sedotannya. Setelah itu Adinda meminum air itu.
"Lega," ucap Adinda yang mengaku lega.
Selesai meminum Budiman langsung menaruh gelas itu ke tempat semula. Ia menatap Adinda sambil berkata, "Syukurlah kamu sudah sadar."
"Aku sudah sadar ketika lukaku diobatin oleh dokter."
"Apa?"
"Ya... aku memang sudah sadar sedari semalam."
"Kamu kira nyawa itu bisa dibuat mainan?"
"Ya... enggaklah."
"Lalu?"
"Kenapa kamu yang ribut sih?"
"Karena aku sangat membutuhkanmu."
"Memang aku butuh kamu."
"Sejak kapan kamu butuh aku?"
"Aku butuh sejak saat ini hingga usiaku menua."
"Ujung-ujungnya bulshit."
Adinda sangat kesal kepada Budiman. Ia malas sekali membahas hubungan ini hingga ke depan. Namun Budiman tidak memperdulikannya sama sekali.
Cup.
Budiman sengaja mencium Adinda. Lalu Ia tersenyum manis sambil berkata, "Aku memang butuh kamu."
"Kenapa sih kamu mengambil ciumanku? seharusnya ciuman ini aku berikan kepada orang yang tepat!"
"Siapa orangnya?"
"Apakah aku harus menceritakan sebenarnya?" tanya Adinda balik.
"Iyalah,'' kesal Budiman. "Andaikan aku mengetahui orang tahu. Aku bisa membunuhnya."
Mata Adinda membulat sempurna. Bagaimana bisa dirinya mendengar kalimat itu dari mulut Budiman? Jujur saja ini Adinda berubah menjadi sangat kesal.
"Aku kesal sama kamu!" kesal Adinda yang membuang wajahnya.
"Jangan kesal sama aku. Ingatlah akulah orang yang pertama yang telah membuka segelmu," ucap Budiman yang tersenyum manis.
"Hmmp... kamu memang juara," ucap Adinda.
"Juara untuk menjadi pemenang. Aku yakin kamu akan jatuh cinta sama kamu," ujar Budiman.
"Sakarepmu. Aku masih mengantuk," balas Adinda yang memejamkan matanya lalu terlelap tidur.
Budiman menarik nafasnya dengan berat. Terpaksa ia mengalah dan membiarkan Adinda tidur terlebih dahulu.
Bagaimana Adinda sadar? Selesai transfusi darah, mata Adinda terbuka. Ia melihat seluruh tim dokter menekan pendarahannya. Tak lama perdarahan yang dialami oleh Adinda selesai. Adinda hanya bisa melihat para suster dan dokter itu sibuk kesana kemari.
Beberapa saat kemudian salah satu tim dokter melihat Adinda sudah sadar. Lalu dokter itu menanyakan bagaimana keadaannya? Tentu saja Adinda saat itu ingin marah kepada tim Dokter tersebut. Bisa-bisanya ketika luka sedang dirawat si dokter malah menanyakan tentang kabar. Dokter itu sangat beruntung. Sebab Adinda tidak mengamuk sama sekali.
Setelah luka dibersihkan, Adinda meminta para dokter untuk menyembunyikan kesadarannya. Kemudian Adinda meminta dirinya dibius total hingga siang nanti. Kemudian dokter itu pun menurutinya. Hingga akhirnya tidur sampai siang.
Apakah Dinda tahu jika Budiman dipukul sama Kartolo? Ya tahulah, meskipun dirinya tertidur namun telinganya masih mendengar titik Untung saja para suster tidak datang ke tempat itu titik mereka membiarkan konflik keluarga berjalan apa adanya. Karena Adinda meminta Kevin untuk tidak ikut campur dalam masalah keluarganya.
Gilang yang sudah berada di kantor mendengar kalau Faris sudah pulang titik Gilang semakin gusar dan tidak bisa berbuat apa-apa. Gilang akan mencari cara agar jejak yang dilakukannya tidak terendus oleh Faris. Jika sampai terkendus, Gilang tidak bisa mengelak. Sebab kejahatannya sudah berada di tangan Faris.
"Sial!" teriak Gilang. "Kenapa juga Faris kembali ke Jakarta?"
"Itu benar tuan. Kabar yang saya terima Faris akan menduduki jabatan untuk menggantikan Adinda. Adinda sebentar lagi akan meraih gelar S3 nya. Bisa dipastikan Adinda akan menetap di Amerika selama kurang lebih dua tahun."
Jederrrr!
Bagaikan petir di siang bolong, Gilang menatap wajah sang pengawalnya itu langsung menggelengkan kepalanya. Sebentar lagi tender itu akan jatuh ke tangan Faris. Jika sampai surat kaleng itu berada di email perusahaan. Otomatis Gilang terkena dampak oleh Faris. Meskipun Faris jarang di Jakarta, Gilang tidak bisa menganggap remeh Faris. Sebab Faris sendiri orangnya sangat berbahaya.
Gilang berharap bahwa Faris tidak mendengar kasus penusukan Adinda. Namun Gilang tidak tahu kalau Faris sudah mendengarnya. Sekarang yang jadi masalah adalah Apakah Gilang akan tetap mengusik keberadaan Adinda maupun Budiman?
Sore yang cerah di kota Jakarta. Budiman yang selesai makan kebingungan terhadap sang istri kecilnya itu. Ia merasa sang istri kecilnya itu tidak bangun-bangun. Kemudian Budiman mengambil tangan Adinda sambil memeriksa denyut nadinya.
Adinda yang merasakan tangannya berada di tangan Budiman membuka mata. Ia sangat malas sekali bertemu dengan wajah Budiman. Padahal wajah Budiman itu sangat tampan sekali. Sangking tampannya Budiman sering menjadi bahan tarik-menarik banyak wanita. Akan tetapi Adinda tidak tertarik dengan wajahnya Budiman. Bahkan dirinya sangat membenci wajah tampan dari sang suami.
"Aku kira kamu pingsan lagi," ucap Budiman dengan blak-blakan.
"Kamu kira aku bisa pingsan terus-menerus seperti itu? Aku ini terpengaruh obat bius yang dosisnya sangat tinggi sekali. aku memang sengaja meminta dokter untuk membiusku hingga sore tiba. Akan tetapi kamu sudah membuat masalah pada siang tadi. Bisa nggak sih kamu itu santuy jadi orang?" Jelas Adinda yang ingin membelakangi Budiman.
Namun Adinda tidak bisa melakukannya. Adinda merasakan perutnya sangat perih sekali. Akan tetapi Adinda tetap bertahan dengan posisi seperti itu.
"Mana bisa aku jadi santuy kalau kamu kayak gitu?" tanya Budiman.
"Terserahlah apa katamu," jawab Adinda.
"Aku sudah mendapatkan tiket untuk pergi ke New York bersamamu. Sekalian aku di sana disuruh untuk mengambil kuliah jurusan bisnis dan manajemen. Aku akan berjanji kepada diriku, agar belajar dengan giat. Lalu aku bisa bekerja dengan baik untuk mendapatkan uang. Aku ingin sekali membiayai hidupmu," ucap Adinda.
"Kamu itu jangan kayak gitu. Lama-lama Aku sebel sama kamu. Bisa nggak sih seharian nggak ganggu aku?" tanya Adinda.
"Lalu aku harus ngapain?" tanya Budiman yang tersenyum manis sambil menatap wajah Adinda.