
"Ya iyalah kak. Sekarang permainannya sudah ketahuan Kak. Kakak tahu aku bisa menganalisis gimana Netty bisa masuk ke dalam perusahaan ini dengan mudah. Memang aku sengaja mengajaknya bekerja di sini. Agar dia tidak menjadi pengangguran setelah lulus kuliah," jawab Adinda.
"Ya nggak gitu kali. Kamu sangat khawatir sama dia. Iya sudah tidak memiliki akses apapun," jelas Faris yang masih fokus dalam kertas-kertas itu.
"Kakak kalau ngomong enak ya. Membiarkan saja. Nggak mungkin Kak aku membiarkannya saja. Nggak semudah itu yang bisa dibayangkan. Kakak tahu semalam aku bermimpi yang sangat buruk sekali. Netty datang dengan membawa berita buruk. Yang dimana berita itu bisa berdampak dengan perusahaan. Setiap aku mimpi itu selalu kejadian. Makanya aku belum ngomong sama Kak Budiman. Aku belum berani soal itu. Takutnya Kak Budiman marah sama aku," jelas Adinda yang mulai membuka tabnya.
"Kalau begitu bicarakan saja pada Budiman. Aku yakin Budiman akan paham hal itu. Kalau kamu sudah mendapatkan peringatan seperti itu. Bisa saja kejadian ataupun tidak. Aku juga tidak mau semuanya terjadi di luar dugaan. Lagian waktu kuliahmu masih lama. Hanya nunggu beberapa bulan lagi. Ngapain juga kamu di sana belum waktunya kuliah? Aku bisa menghandle pekerjaan distributor di London. Karena aku memiliki seorang asisten yang bisa dipercaya," jelas Faris yang sebenarnya tidak menginginkan sang adik pergi ke London sebelum waktunya kuliah tiba.
"Kalau Kak Budiman marah gimana?" tanya Adinda yang ragu atas jawaban Budiman.
"Kamu ceritakan saja tentang Apa yang akan terjadi nanti. Nanti Budiman tahu kok. Budiman juga sering merasakan firasat jika perusahaannya sedang mengalami kemunduran. Ia langsung bisa mengantisipasi agar kemundurannya tidak semakin parah," jawab Faris yang memberikan solusi kepada Adinda.
"Ya sudah nanti aku coba untuk membicarakan secara langsung kepada Budiman. Bukankah setiap pernikahan semuanya harus terbuka satu sama lain?" tanya Adinda.
"Itu benar. Makanya kamu jadi orang kalau memiliki masalah jangan dipendam. Buat apa kamu memiliki suami? Buat apa kamu memiliki kakak? Seharusnya kamu nggak perlu cerita kepada teman-temanmu itu. Bukannya masalah selesai malahan masalah semakin bertambah banyak. Itu hanya solusiku saja. Lebih baik kamu bicarakan saja kepada kami enaknya bagaimana," sambung Faris.
"Minggu depan ada meeting tentang tender itu. Insya Allah aku akan hadir dalam meeting itu. Kalau begitu akan aku persiapkan beberapa dokumen yang bisa kakak kerjakan setelah ini," ucap Adinda.
"Ya seharusnya begitu. Oh ya soal asisten baru buat aku. Aku sendiri mengambil teman kuliahku. Dia bernama Daniel. Dia sudah menganggur lama dan dipecat oleh Gilang hanya karena masalah sepele. Hanya karena masalah itu Gilang bisa membuatnya menjadi miskin. Aku harap kamu bisa menerimanya dengan baik," pinta Faris yang membereskan seluruh kertas-kertas tersebut.
"Bukankah itu putranya Pak Haryanto? Dan dia juga kerabat jauh dari keluarga kita kan?" tanya Adinda.
"Kamu benar. Keluarganya sedang tidak baik. Aku nggak tahu gimana ceritanya babe Haryanto bisa menjadi utang besar kepada Gilang. Padahal beliau sendiri tidak pernah berhutang kepada Gilang. Inilah yang membuat aku bertanya-tanya hingga saat ini," jawab Faris yang menatap wajah Adinda.
"Apakah Ayah tahu masalah ini?" tanya Adinda yang sangat penasaran sekali dengan kisahnya Daniel.
"Ini sudah ancaman pembunuhan Kak. Kita nggak bisa tinggal diam saja kalau kayak gini. Gilang sudah keterlaluan sekali. Cepat atau lambat Gilang harus merasakannya. Mau tidak mau aku akan stay di sini sampai masalah ini selesai. Kemungkinan besar tahun depan akan berangkat ke London," ucap Adinda yang pikirannya menjadi runyam.
"Semuanya terserah kamu. Sebenarnya ayah sendiri tidak mempermasalahkan tentang kuliah. Lagian juga S2 mu itu sudah menjadi patokan dalam memimpin perusahaan. Ya sudah kalau begitu. Kemungkinan malam minggu kita akan membicarakan masalah ini dengan terbuka. Bagaimana menurutmu kalau aku mengangkat Daniel menjadi asisten?" tanya Faris yang sedang memegang pulpennya itu.
"Semuanya nggak jadi masalah. Kalau mengadakan pertemuan ajak babe sama nyak. Mereka juga harus mendapatkan perlindungan dari kita. Kalau masalah ini diteruskan maka nyawa mereka melayang dengan konyol," jawab Adinda yang menyuruh Faris untuk menghubungi mereka.
"Thanks ya Din. Aku sangka kamu marah dengan Daniel," ujar Faris.
"Aku nggak marah dengan siapapun itu. Aku malah santai untuk menjadi orang dan tidak ingin memiliki banyak musuh di mana-mana. Kalau sudah terjadi begini ya sudah. Aku akan mengibarkan bendera perang setelah ini. Cepat atau lambat aku akan menjadi bayangan yang ditakuti oleh Gilang. Sekarang menjadi masalah apakah Budiman mau mendukungku dari belakang? Kalau nggak mau otomatis perusahaannya akan aku tahan terlebih dahulu hingga dia mau," tambah Adinda yang membuat Faris bergidik ngeri.
"Terserah kamu deh. Aku nggak mau ikut-ikutan soal. Jangan pernah menyeretku dalam urusan rumah tanggamu yang agak aneh tersebut," ujar Faris sambil mengusap wajahnya berkali-kali karena kengerian sang adik.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Keadilan harus ditegakkan dengan baik. Ternyata selama ini Gilang lah yang sudah membuat huru-hara di keluarganya itu. Mau tidak mau Adinda harus membereskannya dan menghancurkan Gilang begitu saja.
Satu setengah jam kemudian Adinda berpamitan untuk menuju ke perusahaan Budiman. Sebelum itu Adinda tidak sengaja mengecek siapa saja yang akan ikut dalam rapat pemegang saham. Jujur ia sangat terkejut sekali karena para pemegang saham tersebut ada kedua orang tuanya Gilang. Untung saja Adinda sendiri adalah pemegang saham terbesar di perusahaan Budiman. Dengan kata lain suara Adinda akan menentukan semuanya. Itulah Adinda si wanita tangguh yang tidak bisa diinjak oleh siapapun.
Setelah sampai di perusahaan, Adinda bergegas bertemu dengan resepsionisnya. Di sana Adinda memberitahukan ingin bertemu dengan Budiman. Setelah itu Adinda diajak masuk sama security untuk menuju ke atas. Untung saja sang resepsionisnya sudah diberikan pesan oleh Tio. Oleh karena itu Adinda sendiri bisa masuk ke dalam.
Tiba-tiba saja Adinda tidak sengaja melihat kedua orang tua Gilang. Adinda hanya bisa menghalangi nafasnya sambil menahan kesabaran. Ia bisa memprediksi kalau kedua orang itu akan membuat kerusuhan di persidangan itu.
"Awas aja nanti. Kalau membuat kekacauan di dalam ruang meeting. Akulah orang yang pertama bisa mengusir mereka dari perusahaan ini. Aku nggak sudi memiliki partner yang keras kepala dan jahat seperti mereka," kesal Adinda di dalam hatinya.
Duakkkkkkkkk.