Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 33



"Pasti tahulah. Soalnya Herman sendiri itu adalah wakil CEO dari perusahaan kita. Setiap ada masalah apapun, Herman pasti mengetahuinya. Dia bahkan tidak tuli sama sekali," jawab Malik yang membuat sang istri lega.


"Jadi kita harus ngapain sekarang?" tanya Tia yang sulit memprediksi keadaan selanjutnya.


"Kita lihat saja nanti. Jika Budiman selalu membuat masalah dengan Adinda. Kemungkinan besar Budiman yang akan susah sendiri. Ditambah lagi dengan Budiman Masih berhubungan dengan Kanaya," jawab Malik yang mengetahui masa depan Adinda sebenarnya.


"Apakah kita harus meminta Adinda bercerai?" tanya Tia lagi yang tidak mau anaknya menderita karena Budiman.


"Adinda harus pergi dan New York city. Dia harus mengambil kuliah jurusan S3. Soal pernikahan ini biarkan saja Budiman yang menentukan. Meskipun Putri kita bercerai, masih banyak pria yang masih mengejarnya. Apalagi jika Dinda sudah keluar dari Indonesia. Pesona Dinda tidak akan mampu menandingi wanita lainnya. Banyak para CEO di dunia ini mengejar-ngejarnya untuk dijadikan istrinya," jawab Malik yang sebenarnya teman-temannya ingin menjodohkan putra mereka dengan Dinda.


"Apakah itu tidak jadi masalah buat mereka? Kalau Putri kita menyandang status janda," tanya Tia yang sangat keberatan sekali Jika putrinya menyandang status janda.


"Semuanya nggak jadi masalah Bu. Mereka tidak memikirkan status Adinda yang bagaimana? Yang jelas Adinda sendiri memiliki kelebihan yang sempurna," jelas Adinda.


 


Tia menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Memang bagi Tia, Adinda adalah berlian yang tidak dapat disia-siakan. Jika saja Adinda harus bercerai dari Budiman, Malik sang ayah tidak memperdulikannya. Karena pernikahan ini menurutnya salah besar. 


Sementara Budiman semakin geram dengan kelakuan Adinda. Ia tidak pernah menyerah sedikitpun. Agar Adinda melepaskan tender itu. Baginya ia sengaja membiarkan Adinda menderita sepenuh hatinya. Ia tidak memperdulikan lagi nasib datang istri di waktu selanjutnya. 


Brakkk!


Budiman melemparkan asbaknya dengan kuat. Hingga membuat Tio yang masuk menjadi kaget. Ia tidak menyangka kalau Budiman semakin lama semakin kasar. 


Ceklek. 


Pintu terbuka. 


Tio segera mendekati Budiman sambil membawa satu dokumen dari divisi keuangan. Ia menatap wajah sahabatnya yang sulit diartikan. Ia tidak mengerti apa yang telah terjadi saat ini. Ia juga tidak menanyakan ada masalah apa sebenarnya. Bukankah sang bos bersama asisten selalu terbuka? Jika ada pekerjaan maupun proyek? namun ini tidak bagi Tio. Tio sendiri menjadi orang asing di mata Budiman. 


"Aku meminta tanda tanganmu," ucap Tio sambil menyodorkan map itu ke arah Budiman. "Sebentar lagi pada karyawan akan menerima upah." 


Budiman semakin marah dan mendekati Tio. Ia segera menarik baju Tio dan memberikan sebuah hotel mentah. Ia mendorong Tio hingga tubuh si pria berkacamata itu hampir ambruk. 


"Gue nggak peduli apa permintaan lu!" bentaknya sambil meraih map itu dan melemparkannya ke arah Tio. "Sekarang lu pergi dari sini!"


Betapa kejamnya Budiman terhadap Tio. Namun Tio paham saat ini apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu. Tio segera mendekati Budiman sambil berkata, "Lama-lama kamu gila ya? Seenaknya kamu  memperlakukanku secara kasar seperti ini. Untung saja kamu adalah temanku. Jika saja kamu bukan temanku, pasti aku akan menghajarmu!"


"JAGA UCAPANMU!" bentak Budiman dengan suara meninggi. 


"Aku tidak pernah menyangka kalau kamu sekejam itu terhadap pegawaimu sendiri! Hanya karena Kanaya kamu mengorbankan mereka. Suatu hari nanti kamu pasti akan menyesal. Kamu itu sudah berjodoh dengan Adinda. Tapi kenapa kamu malah membuangnya. Hanya batu kerikil yang kamu pungut di jalanan," jelas Tio yang membuat Budiman yang semakin geram. 


"Kalau kamu sekali lagi mengatakan Kanaya adalah batu kerikil! Aku tidak segan-segan melaporkan masalah ini ke pengadilan!" bentak Budiman. 


"Aku tidak peduli itu. lakukanlah. Aku akan meminta Herman untuk menjadi pengacaraku," ujar Tio yang tidak main-main sembari membereskan beberapa berkas-berkas itu yang berceceran di lantai. 


"Apakah aku harus melaporkan kejadian ini pada Pak Kartolo ya?" tanya Tio dalam hati sambil memikirkan cara lainnya. 


Tio segera menuju ke ruangannya dan membereskan mejanya. Ia segera pulang ke rumah utama. Ia harus melaporkan kejadian ini ke Kartolo. 


Adinda yang masih berkutat di depan PC akhirnya bursa tersenyum manis. Ia baru saja menemukan beberapa informasi sang pengirim pesan tersebut. Ia langsung melambaikan tangannya ke Herman sambil berkata, "Kamu tahu siapa yang melakukannya?" 


"Siapa dia?" tanya Herman yang masih penasaran dengan sang pengirim pesan itu. 


"Dia adalah musuh bebuyutan Paman," jawab Adinda yang tiba-tiba saja bersuara lembut. 


"Apa!" pekik Herman yang melihat identitas seseorang yang mengirimkan pesan teror itu. "Maksudnya Gilang?" 


"Ya… Gilang," jawab Adinda yang membuat Herman yang tidak habis pikir dengan Gilang. "Apa yang Paman lakukan?"


"Kalau kamu?" tanya Herman. 


"Datang ke kantornya. Aku akan mengajaknya bertarung. Dia belum tahu siapa saya," kesal Adinda. 


"Kamu itu Din," ucap Herman yang tidak menyetujui aksi Adinda. 


"Kenapa Paman? Jika waktunya perang, pasti aku akan melakukannya. Ini demi para karyawanku yang mencari sesuap nasi demi kepentingan keluarganya. Jika aku membiarkannya, dia akan menerorku dan meneror semua divisi agar melepaskan tender itu," ungkap Adinda yang membeberkan semuanya. "Itu tidak akan bisa. Aku bekerja sepenuh hati dan mempersiapkan tender ini dengan penuh kehati-hatian. Setelah mendapatkannya, aku melepaskannya begitu saja. Ya enggak lah."


"Semakin lama kamu semakin berani menghadapi musuh-musuhmu! Kalau begitu aku suruh Netty mempersilakan berkas-berkas ini ke pihak aparat. Akun juga tidak akan tinggal diam melakukannya," pinta Herman yang tidak main-main dengan ucapannya. 


Oke," sahut Adinda yang menghubungi Netty agar segera kesini. 


Tio yang sudah sampai ke rumah utama langsung bertemu dengan Kartolo di ruangan kerjanya. Ia segera menceritakan kejadian-kejadian demi yang dialaminya. Kartolo bingung sekarang apa yang harus dilakukannya. Ia akhirnya minta Tio untuk bersabar menghadapi Budiman.


"Ini tidak bisa dibiarkan Tio. Kalau ini dibiarkan terus. Perusahaan akan gulung tikar dengan cepat," jelas Kartolo.


"Apakah bapak sudah mengambil keputusan yang tepat?" tanya Tio. "Persoalannya semakin rumit saja Pak.jujur semakin lama aku tidak kuat untuk menghadapi Budiman seperti itu."


"Apakah Budiman sering bertemu Kanaya untuk sekarang ini?" Tanya Kartolo sambil memandang wajah Tio.


"Hampir setiap hari," jawab Tio dengan jujur.


"Baguslah," ucap Kartolo sambil tersenyum yang tidak dapat dibaca oleh Tio.


"Maksud bapak apa sebenarnya?" tanya Tio yang ingin tahu arti senyuman itu.


"Mulai besok Njawe Group akan bergabung dengan SM Company. Yang di mana Budiman akan lengser dari kursinya. Sedangkan kursi CEO akan dipegang oleh Adinda. Ini demi kebaikan perusahaan kita. Kalau diteruskan begini jadinya perusahaan kita akan bangkrut seketika. Dan kamu jangan pernah pergi dari perusahaan ini. Kamu bersama Andara membantu pekerjaan Adinda," jawab Kartolo yang membuat Tio bingung.


"Jadi maksud bapak adalah?" tanya Tio.