
"Sebelum aku menghabisinya! Bahwa dia pergi dari sini!"
Perintah Budiman dengan dingin.
Tio mendekati Budiman lalu memegang tubuh sang Suster itu. Ia lalu membawanya pergi ke kantor polisi. Sementara itu Budiman melihat darah bercucuran di lantai. Darah itu berasal dari tangan Adinda. Budiman segera merangkul Adinda dan mengajaknya duduk di kursi.
Budiman berusaha untuk tidak panik. Budiman segera mencari tombol di samping ranjang lalu menekannya. Ia segera memegang tangan Adinda sambil bertanya, "Ada apa dengan kamu?"
"Suster itu ingin membunuhku."
Jawab Adinda yang membiarkan darah mengalir.
Selang beberapa menit kemudian, Kevin bersama dua suster segera melihat Adinda. Kevin mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa?"
"Kamu malah bertanya ada Apa dengan istriku! Tangan istriku sudah mengeluarkan darah!"
Bentak Budiman yang sedikit emosi.
Salah satu Suster itu memegang tangan Adinda. Suster lainnya mengambil perlengkapan dan peralatan medis sebentar. Sementara itu Adinda menunjuk ke arah cairan infus itu di atas. Ia tidak mau memakai cairan infus itu dan memintanya ganti yang baru.
"Aku nggak mau memakai itu. Aku ingin meminta yang baru. Karena cairan infus itu sudah terkena racun sianida."
Kevin dan Budiman sangat terkejut sekali. Pria yang memiliki umur sama langsung menatap wajah Adinda. Mereka menggelengkan kepalanya sambil menggeram bersama.
"Apakah kamu serius?"
Tanya Kevin yang bingung dengan pernyataan Adinda.
"Tadi ada seorang suster yang memberikan cairan ke dalam cairan infusku. Lalu Suster itu berkata, sebentar lagi aku akan mati. Aku yakin jam-jam segini, suster tidak akan mengunjungiku."
Jawab Adinda yang membuat para suster itu terkejut
"Apakah itu benar?"
Tanya Kevin yang kebingungan.
"Ya itu benar."
Jawab Adinda yang tidak ingin menyalahkan para suster itu di depannya.
Tapi bukan mereka. Aku sudah mengenal mereka. Bahkan aku sendiri sudah mengenal mereka dan juga mengenal namanya."
Selesai mengobati Adinda, para suster itu menunduk ketakutan. Mereka tidak mau dituduh sebagai pembunuh. Salah satu dari mereka akhirnya membuka suaranya.
"Maaf... Dok... kami para suster jam empat sore sudah kesini untuk membersihkan tubuh Nona Adinda sekaligus mengobati lukanya. Lalu kami juga telah mengganti cairan infusnya. Setelah itu kami pergi dan menyuruh Nona Adinda beristirahat. Karena kami tahu kalau Tuan Budiman akan Atang kesini tepat pukul setengah enam."
Jelas suster itu menjelaskan tentang kegiatan di sore hari.
"Aku tahu itu. Aku tidak menuduh kalian. Karena aku sendiri yang memilih kalian untuk merawat Adinda disini. Jika ada penyusup masuk kesini sepertinya tidak mungkin dech. Soalnya... lantai ini adalah lantai yang sengaja aku kosongkan untuk keluarga besar Santoso."
Jelas Kevin yang membeberkan sebuah fakta.
"Jadi siapa dia?"
Tanya Adinda.
"Kita tunggu Tio datang. Kita tidak bisa memprediksinya. Siapa yang menyuruhnya? Untuk para suster aku tidak menuduh kalian. Selama aku tidak ada di sini. Aku percaya pada kalian untuk menjaga istriku."
Jawab Budiman yang mendapat anggukan dari Adinda.
"Kalau begitu ambilkan cairan infus yang baru. Ganti semuanya. Aku tidak mau Adinda atau para pasien memakai cairan infus itu!"
Perintah Kevin yang memberikan kode agar mereka keluar terlebih dahulu.
Kevin yang melihat Budiman hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Baru kali ini ia mendapati penyusup naik ke atas dan masuk ke dalam kamar Adinda.
"Bagaimana Din?"
Tanya Kevin.
"Tolong jangan pecat mereka. orang itu yang masuk ke dalam sini bukan bagian dari mereka. Aku yakin kalau orang itu adalah suruhan dari Kanaya."
Pinta Adinda.
"Aku tidak akan memecat mereka. Aku akan melakukan penyelidikan di dalam rumah sakit ini. Aku tidak ingin kejadian ini akan terulang lagi untuk kedepannya. Karena rumah sakit ini sudah memiliki fasilitas pengamanan yang ketat untuk para pasien."
Jelas Kevin yang membuat Budiman setuju.
"Okelah Din... Aku pergi dulu. Aku nggak mau Budiman menghajarku sekarang."
Pamit Kevin yang mengerti sifat asli Budiman.
"Sepertinya kalian sudah mengenal ya?"
Adinda yang merasa curiga dengan kedua orang itu.
"Kamu tahu... Dia adalah rivalku dari segala mata pelajaran yang berada di sekolah. Dan aku sangat membencinya. Karena dia selalu juara satu terus. Aku sendiri tidak pernah juara kelas."
Ungkap Kevin yang membuat Budiman terkekeh.
"Ini sangat aneh sekali Din. Bayangkan saja nggak pernah juara. Nilai pelajarannya jelek. Tiba-tiba saja dia sekarang sudah menjadi dokter. Bahkan dia sendiri adalah dokter kepala bedah se-jakarta. Sampai saat ini aku bingung. Dari mana dia mendapatkan ilmu seperti itu? Padahal nilai biologinya di bawah lima."
Kesal Budiman terhadap temannya itu.
Ternyata Adinda baru mengetahui satu fakta pada sore ini. Budiman dan Kevin adalah teman satu kelasnya bersama Herman, Irwan, Faris begitu juga dengan Tio. Memang mereka adalah satu geng. Namun Budiman dengan Kevin tidak pernah akur sama sekali. Hampir setiap hari mereka selalu bertengkar.
"Aku tidak bisa membayangkan kalian berdua. Bahwa kalian adalah orang-orang hebat di mataku. Kevin adalah seorang dokter bedah yang sangat terkenal. Ditambah lagi dengan ketampanannya yang bisa membius para wanita di luar sana. Kak Budiman adalah seorang penganalisis ekonomi yang hebat. Ketika dia menganalisis keadaan, Kak Budiman selalu benar. Aku merasa paling kecil di sini."
Ungkap Adinda sambil tersenyum.
"Jangan merendah seperti itu. Kamu juga seorang CEO muda paling berbakat di dunia ini. Ya sudah aku ingin balik lagi ke kantor. Karena aku ingin menghindari suamimu itu agar tidak terjadi pertengkaran hebat."
Adject Kevin terhadap Budiman lalu meninggalkan mereka.
Budiman menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuan Kevin. Memang, Kevin dan Budiman selesai sekolah tidak berhubungan lagi. Menurut informasi yang didengarnya saat itu, Kevin sedang menimba ilmu di Harvard. Meskipun begitu Budiman sendiri sudah tidak pernah mendengar kabarnya lagi.
"Bener-bener deh tuh orang. Biologinya nilainya jelek. Tapi kenapa bisa menjadi dokter bedah!"
Tanya Budiman kepada Adinda.
"Aku tidak tahu pasti. Nyatanya yang aku rasakan ketika Kevin menanganiku. Aku tidak apa-apa. Aku sekarang sudah merasa baikan. Dia yang menanganiku ketika waktunya check up. Dan benar saja lukaku sekarang sudah mulai baikan."
Jawab Adinda yang sudah merasa baikan sekarang.
"Apakah dia mengenal Kanaya?"
"Aku pernah menanyakannya dan dia bilang jawabannya Kanaya adalah musuh utamaku.Aku nggak tahu kenapa Kevin mendapatkan Kanaya sebagai musuh utamanya. Kemungkinan besar Kevin pernah bermasalah dengan dia. Tapi aku tidak tahu pasti. Aku tidak terlalu memikirkannya."
Jelas Adinda yang hanya bisa mengedikkan bahunya.
"Memang parah itu orang. Tapi jujur Aku mengakuinya. Selama tidak pernah bertemu dengannya. Kevin menemuiku dengan sejumlah prestasi yang banyak."
Ucap Budiman yang bangga terhadap temannya itu.