
"Memangnya perlu ya?" tanya Adinda.
"Ya... itu perlu. Aku ingin mereka tahu. Kalau kamu adalah milikku selamanya," jawab Budiman.
Ketika senja telah datang, Adinda mengajak Budiman pergi meninggalkan rooftop. Mereka mulai berjalan ke bawah dan melihat suasana semakin ramai. Biasanya Adinda turut membantu jika sedang ramai begini. Bahkan Adinda tidak segan-segan menjadikan dirinya menjadi waiters dadakan.
"Suasana kalau sore begini sangat ramai sekali," ucap Budiman.
"Jamnya pulang kantor. Mereka biasanya nongkrong terlebih dahulu. Terkadang mereka sampai malam untuk. membicarakan pekerjaan," ujar Adinda yang mengajaknya ke sebuah lorong.
"Kita mau kemana?" tanya Budiman.
"Kita sedang menuju ke ruangan VVIP. Yang dimana Paman Herman sudah menyewanya," jawab Adinda.
"Kenapa enggak di rumah saja sih?" tanya Budiman.
"Namanya gawat darurat. Yang dimana gawat darurat mengadakan pertemuan keluarga di luar rumah," jawab Adinda yang membuka pintu lalu masuk ke dalam dengan diikuti oleh Budiman.
"Sudah datang?" tanya Adinda yang sembari menatap Herman.
"Sudah dari tadi," jawab Herman yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Apa yang kamu katakan itu benar. Mila adalah seorang pelayan tidak baik."
"Apa yang akan Paman lakukan?" tanya Adinda.
"Kita akan membicarakan semuanya ini ke Kak Malik dan Kak Tia. Berhubung yang memiliki kendali adalah mereka. Aku angkat tangan dan membiarkan mengambil keputusan. Aku yakin mereka akan geram melihat kelakuan Mila untuk saat ini," jawab Herman.
"Aku yakin setelah pulang ini akan ada gosip tentang Kak Budiman," celetuk Adinda yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Memangnya apa yang Mila omongin?" tanya Budiman yang duduk di samping Adinda.
"Palingan kamu jalan sama si Kanaya," jawab Adinda.
"Segitunya jawabab kamu," ucap Budiman yang tiba-tiba saja cemberut.
"Ya enggaklah. Pasti kamu diomongin yang enggak-enggak. Mulai dari keburukanmu dan apapun itu. Bahkan aku tadi pagi ditegur sama ibu. Kalau kamu melakukan tindakan kekerasan kepadaku pas malam pertama," ujar Adinda yang disambut gelak tawa dari Herman.
Herman tertawa terpingkal-pingkal. Ia tidak menyangka kalau Adinda mengatakan seperti itu. Ia tahu bagaimana sifat dan ke bar-barannya Adinda. Bahkan preman kampung yang berada di rumah saja ketar-ketir ketika melihat Adinda.
"Kamu kok malah tertawa seperti itu?" tanya Herman yang tidak mau dituduh sebagai pelaku kekerasan dalam rumah tangga.
Herman malah menghentikan tawanya sambil melihat Budiman. Ia tidak menuduh dirinya tentang masalah itu. Lalu Herman berkata, "Aku tidak menuduh kamu sebagai pelaku KDRT."
"Tapi kenapa kamu malah tertawa?" tanya Budiman yang memutar bola matanya dengan malas.
"Aku tertawa itu karena Adinda. Bukannya kamu yang menjadi pelaku KDRT. Malahan Adinda yang akan menjadi pelaku utamanya," jelas Herman.
"Kenapa jadi aku sih?" tanya Adinda yang tidak terima dengan jawaban dari Herman.
"Iyalah. Secara dari dulu kakakmu tidak menyukai pria yang memiliki temperamen tinggi. Main pukul dan menganiaya. Eh... malahan kamu yang akan menghajarnya habis-habisan," jawab Herman.
"Iya juga sih. Memang sedari dulu aku tidak ingin memiliki seorang suami suka memukul. Aku tidak mau itu. Lebih baik hidup sendiri tanpa harus terkena siksaan psikis dan batin. Lama-lama aku menderita batin," ucap Adinda dengan jujur.
Budiman paham apa yang dikatakan oleh Adinda. Ia sebenarnya tidak ingin menjadi pria kasar terhadap istrinya. Ia akan mengontrol emosinya untuk saat ini.
"Kamu beruntung sekali. mendapatkan reward cuma-cuma. Pasti saat itu Adinda tidur di sofa?" tanya Herman.
"Iya... aku memang tidur di sofa," jawab Adinda.
"Sabar banget kamu menjadi istrinya di kepala batu ini," ledek Herman ke Budiman.
"Seharusnya bagaimana?'' tanya Adinda.
"Seharusnya kamu menjadi seseorang psikopat. Kamu kan sudah tahu sifatnya bagaimana sedari dulu. bahkan nyesek banget jadi orang," jawab Herman yang membaca artikel tentang musik metal.
"Hmmp... benar juga ya... Kenapa aku tidak melakukannya?" tanya Adinda yang sedikit menatap sang suami.
''Pasrah dech lu jadi orang Bud," jelas Herman yang mendukung Adinda.
"Ini sangat menyeramkan sekali," ujar Budiman yang memelas.
"Tenang saja. Adinda enggak sekejam itu. Kamu belum tahu saja aslinya bagaimana? Beda dengan Kanaya. Itu cewek memakai topeng demi menutupi kebusukannya. Malahan dia sering banget melakukan kejahatan. Tapi tidak di negara ini. Rata-rata dia sering banget melakukan kejahatan di negara Eropa. Yang lebih parahnya lagi, Kanaya memang pandai menyimpan kejahatannya dari siapapun. Ditambah lagi Kanaya itu sering sekali memakai identitas palsu. Jadi enggak bisa dilacak dengan orang biasa," jelas Herman.
"Jadi kamu sudah mengetahuinya semua?" tanya Budiman.
"Semenjak Adinda pulang ke rumah. Adinda membawa banyak barang bukti. Dia memandapatkan bukti itu dari temannya sendiri yang kuliah di Amerika," jelas Herman.
"Yang dikatakan Paman itu benar kak. Aku sendiri sudah mengetahui jauh-jauh hari. Mama papa juga sudah mengetahuinya. Bahkan Nda. Aku mau ngasih tahu kamu. Kamunya masih aktif cinta sama Kanaya," sambung Adinda.
''Kalau begitu berikan padaku. Aku ingin membacanya," pinta Budiman.
"Hmmp... baiklah. Kalau sudah di rumah aku akan memberitahukannya," ujar Adinda.
"Baiklah kalau begitu," sahut Budiman yang sangat penasaran dengan Kanaya.
Sementara di luar, Tia sudah meminta sang chef memasak makanan untuk keluarganya. Ia saat ini sedang menunggu kedatangan Faris dan Malik.
Tak lama mereka amsuk ke dalam kafe. Mereka disambut dengan hangat. Lalu para penjaga di toko itu langsung mengarahkan mereka ke arah Tia.
Memang kafe yang dimiliki oleh Tia memberikan kenyamanan kepada setiap pengunjungnya. Mereka sangat ramah sekali terhadap para pengunjungnya. Meskipun masih ada satu keluarga maupun kerabatnya, Tia memang menyuruhnya untuk menyambutnya. Oleh karena itu kafe Tia memiliki predikat sebagai kafe dengan pelayanan terbaik.
"Dimana Adinda bersama Herman?" tanya Malik.
"Mereka sudah berada di ruangan VVIP. Mereka sedang menunggu kita," jawab Tia.
"Apakah ibu sibuk?" tanya Faris.
"Untuk saat ini sih iya. Kalau ada masalah penting di rumah. Ibu akan melepaskan pekerjaan ini terlebih dahulu," jawab Tia yang sedang melepaskan Saprin lalu melipatnya. "Lebih baik kamu duluan. Ibu akan segera menyusul kalian."
Mereka menganggukan kepalanya dengan serempak. mereka akhirnya pergi meninggalkan Tia yang sedang beres-beres.
"Kalau bisa kirim saja langsung ke ruangan VVIP. Buka saja karena mereka sedang membutuhkan malam," pinta Tia yang membuat chef beserta asistennya paham.
Tia segera pergi meninggalkan dapur. Ia langsung bergabung dengan Adinda dan lainnya. Adinda menyuruh sang ibu duduk terlebih dahulu sebelum bercerita.
"Ada apa ya? Kalian berkumpul disini?" tanya Tia kepada lainnya.