Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 26



“Kamu minta apa?" tanya Budiman yang mengerutkan keningnya sambil melihat Kanaya. 


“Sebentar... apakah kamu mau bantu?” tanya Kanaya sambil tersenyum manis. 


“Gimana aku bisa membantu kamu? Jika kamu tidak mengatakan apa-apa,” jawab Budiman yang mengembalikan pertanyaan dari Kanaya. 


“Begini... aku memiliki teman baik. Dia bernama Gilang. Baru kemarin dia pulang dari luar negeri. Dia sekarang menduduki jabatan CEO,” jawab Kanaya yang bingung ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. 


Melihat Kanaya bingung, Budiman langsung menatap wajah Kanaya sambil bertanya, “Sepertinya kamu bingung. Ada apa sebenarnya?” 


“Begini, kamu sudah mendengarkan apa yang telah terjadi beberapa belakangan ini kan? Ada proyek besar untuk membuat makanan padat buat prajurit,” jelas Kanaya yang membuat Budiman yang menganggukan kepalanya. 


“Iya aku tahu itu. Yang aku dengar adalah memenangkan tender tersebut adalah SM Company International,” jelas Budiman. “Terus kamu mau apa?” 


“Ya... enggak apa-apa. Tapi sebenarnya SM Company International itu curang dech. Mereka melakukan manipulasi data-data gizi yang diberikan ke pihak panitia,” jelas Kanaya.


Saat mendengar penjelasan dari Kanaya, Budiman terkejut dan bingung. Apa iya perusahaan sekaliber SM Company telah melakukan kecurangan yang fatal? Rasanya itu tidak mungkin. Setahu Budiman perusahaan itu memang mengedepankan gizi yang baik untuk dikonsumsi. 


“Apa iya?” tanya Budiman yang bingung. 


“Itu benar. Data-data yang diberikan semuanya palsu. Mereka sudah berani memanipulasi keadaan. Agar pihak panitia merasa kasihan Sean meloloskan untuk menjadi pemegang tender terbaik,” tambah Kanaya yang mulai memprovokasi keadaan. “Bukannya SM Company itu milik Adinda?” 


Teringat nama Adinda, Budiman merasa menjadi geram. Ia tidak menyangka kalau Adinda melakukan kecurangan. Ia menatap Kanaya lagi sambil bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?” 


“Tenang. Nanti aku akan memberikan data-data yang sudah ditulis oleh Adinda. Dia memang licik dan menjerat kamu dengan mulut manisnya itu,” jawab Kanaya yang membakar api kebencian terhadap Budiman. 


“Rasanya aku ingin pergi ke pengadilan dan menceraikan Adinda,” ucap Budiman yang menuju ke tempat duduknya sambil menghempaskan bokongnya di kursi. 


“Tenang saja... aku akan membantu kamu untuk masalah perceraian tersebut,” ujar Kanaya yang diam-diam mulai bersorak kegirangan. 


“Hmmpp... tapi kamu harus berjanji sama aku. Kamu tidak akan pergi meninggalkan aku setelah ini,” sahut Budiman yang tidak ingin Kanaya pergi dari kehidupannya. 


“Tergantung,. Jika kamu mau memberikan aku nafkah sebesar satu milyar tapi bukannya. Kamu tahukan wanita itu butuh uang banyak. Wanita itu butuh perawatan biar cantik,” jelas Kanaya secara buka-bukaan. 


“Untuk kamu apa yang tidak sih? Jangankan satu milyar... lima puluh milyar pun aku berikan ke kamu tiap bulannya,” sahut Budiman yang menyetujui permintaan Kanaya. 


“Ah... kalau kamu tidak keberatan... okelah,” sahut Kanaya. 


Kanaya akhirnya tersenyum manis mendengar apa yang dikatakan oleh Budiman. Ia tidak menyangka kalau permintaannya itu dikabulkan oleh Budiman. Namun di dalam hatinya ia malah mengejek kalau Budiman adalah pria bodoh. 


Kantor SM Company. 


Tak biasanya Andara ikut dengannya ke kantor. Di depan lobby Andara memejamkan matanya sambil merasakan jantungnya berdetak kencang. Di dalam hatinya ia berkata, “Semoga saja aku mendapatkan pekerjaan di sini.” 


Adinda dan Netty mendekatinya. Adinda langsung menepuk bahunya sambil tersenyum manis. Lalu Adinda mengajak Andara masuk ke dalam. 


“Masuk yuk,” ajak Budiman. 


Andara akhirnya masuk ke dalam dan melihat suasana kantor yang masih ramai. Andara bingung sama Adinda. Kenapa dirinya masuk terlalu pagi. 


 Saat masuk ke dalam dan menuju ke lift, Kartolo dan Malik sudah datang terlebih dahulu. Mereka sengaja mengobrol di ruangan Adinda. Ketiga gadis itu tidak mengetahui pertemuan antara Kartolo dan juga Malik. 


Ting. 


“Aku ingin menghubungi Papa untuk mengurusi kepindahanku ke perusahaan ini,” celetuk Andara.


“Apakah kamu yakin ingin pindah kesini?” tanya Netty yang bingung. 


Jujur saat ini Netty masih bingung apa yang terjadi pada sahabatnya. Jangankan Netty, Adinda sendiri juga bingung. Padahal Andara di perusahaan keluarganya memiliki fasilitas yang wah. 


Beda lagi dengan dirinya, ketika masuk ke sini sebelum menjadi CEO, Adinda tidak diberikan fasilitas apapun sama keluarganya. Ia disuruh mandiri oleh keluarga besarnya. Itulah kenapa Adinda disebut sebagai wanita mandiri.


Sesampainya di lantai atas, Adinda mengajak Andara pergi ke kantornya. Lalu Netty masih saja mengikutinya dari belakang. Namun Adinda memilih berhenti karena ada suara percakapan dua pria dewasa.


“Sebentar,” ucap Adinda yang membuat kakinya untuk berhenti melangkah.


“Ada apa memangnya?” tanya Netty.


“Apakah kamu tidak mendengar ada suara yang berasal dari dalam?” tanya Adinda balik.


“Iya aku dengar. Sepertinya mereka adalah manusia normal,” jawab Netty yang membuat Andara menggelengkan kepalanya.


“kamu itu ada-ada saja Net. Memangnya ada setan di sini?” tanya Andara.


“Dia yang sering ketemu setan. Dia juga malah kabur jika ada setan di sekitarnya,” jawab Adinda.


“Aku nggak takut setan. Tapi yang aku takutkan adalah jika ada orang masuk ke dalam kantormu dan mengambil berkas-berkas penting,” ucap Netty dengan jujur .


“Kamu benar. Tapi siapa orang yang berada di dalam ruangan kerjaku?” tanya Adinda yang tiba-tiba saja mendengarkan suara kedua pria itu dengan jelas. 


“Sepertinya suara papa di dalam sana?” tanya Andara yang mengetahui suara tersebut.


“Kamu benar. Ah sudahlah... Lebih baik kita masuk saja terlebih dahulu,” adat Adinda yang membuka pintu dan melihat kedua pria paruh baya sedang mengobrol dengan santai.


“Papa?” pekik Adinda dan Andara secara bersamaan.


“Kemarilah!” panggil Kartolo.


Mereka akhirnya menuju ke sofa. Kemudian Andara dan Adinda menghempaskan bokongnya. Sementara Netty memilih undur diri terlebih dahulu. Netty tidak ingin mendengar percakapan mereka. Adinda pun menyetujuinya dan mempersilakan Netty pergi.


“Kenapa papa berada di sini?” tanya Andara yang bingung dengan kehadiran Kartolo di tempat ini.


“Tadi, papa memang berniat ingin main ke rumah Adinda. Terus Pak Malik berkata kalau dirinya sudah menuju ke kantor. Berhubung pagi ini Papa tidak memiliki kegiatan apapun di kantor, Papa langsung ke sini terlebih dahulu,” jelas Kartolo. “Berhubung kalian ada di sini. Ada yang ingin Papa bicarakan terlebih dahulu.” 


Kedua gadis itu akhirnya duduk di hadapan mereka. Sebelum mengatakan sesuatu Kartolo memandang wajah Andara dan Adinda. Begitu juga dengan Malik, Malik menghela nafasnya sambil bertanya, “Bagaimana kedua perusahaan ini digabungkan menjadi satu?”


“Kenapa papa menggabungkan perusahaan ini menjadi satu?” tanya Adinda.


“Budiman sekarang semakin parah. Di dalam kantor Budiman selalu marah-marah yang nggak jelas. Banyak sekali karyawanku pindah ke sini. Tapi Budiman membiarkannya saja,” jawab Kartolo dengan jelas.


“Itu benar pa. Banyak sekali yang curhat sama aku, kalau abang suka marah-marah nggak jelas. Aku mencoba menanyakan kepada Mas Tio. Masalahnya hanya sepele yaitu tidak bertemu dengan Kanaya,” tambah Andara yang membuat Kartolo terkejut.


“Maksudnya bagaimana?” tanya Malik yang membenarkan posisi duduknya.