Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 176



"Aku bersama Kak Tio saja yang nggak boleh masuk ke sana," jawab Andara.


"Ya bukannya kamu nggak boleh masuk ke sana. Mama tahu sifat kamu itu orangnya panikan seperti itu. Jadi jika ada apa-apa kamu udah heboh sendiri dan nggak bisa membantu mereka. Beda dengan Adinda. Adinda selalu setia menolong orang terlebih dahulu," ucap Kamila yang paham dengan putrinya itu.


"Aku harap Papa tidak boleh marah sama aku," pinta Andara.


"Papa nggak marah kok sama kamu. Papa tahu sifat kamu bagaimana. Jadi kalau ada apa-apa. Kamu selalu panik terlebih dahulu. Ya sudah kalau semuanya sudah selamat seperti itu. Papa juga nggak habis pikir kenapa ini bisa terjadi? Hanya karena Adinda memenangkan tender besar itu. Jadinya Netty ingin membunuh Adinda. Padahal dia itu memiliki sifat pribadi yang sangat baik ketika bermain di rumah," ucap Kartolo.


"Mama juga merasakan hal yang sama. Mama sangka kalau Netty dan keluarganya sudah tidak ingin mengganggu Adinda. Nyatanya sampai sekarang masih mengganggunya. Jika dia terus saja mengganggu. Mama juga akan turun tangan membantu Adinda," ujar Kamila.


"Yang nggak aku habis pikir itu hanya satu. Kenapa dulu dia bisa menjadikan ayah dan membohongi Kak Budiman? Sampai-sampai Kak Budiman sekarang nggak mau kenal lagi sama dia dan juga Kanaya," sahut Andara.


"Ya sudah enggak usah dipikirkan. Yang berlalu biarlah berlalu. Itu hanyalah masa lalu kakakmu. Untung saja Adinda mau menerima kakakmu apa adanya. Adinda juga berbesar hati memaafkan kakakmu itu. Tutup saja itu memori yang tidak enak. Teh juga kamu petik pelajarannya dari peristiwa yang dialami oleh kakakmu itu," ungkap Kamila.


"Ke mana mereka semuanya?" tanya Kartolo yang tidak melihat Adinda dan Budiman ke sini.


"Seperti biasanya ma. Mereka sedang memadu kasih untuk membuat adik bayi yang sangat lucu sekali," jawab Andara.


"Jika Adinda hamil duluan berarti mereka batal untuk kuliah di London. Bakalan ditunda lagi hingga anaknya besar," celetuk Kartolo yang tersenyum manis.


"Ya nggak apa-apa toh pa. Nggak usah ditunda-tunda lagi memiliki momongan. Mama sih sebenarnya sudah siap menggendong cucu. Mama ingin sekali membicarakan hal ini dengan Ibu Tia. Mama berharap mereka bisa merencanakan kehamilan Adinda dengan cepat," kata Kamila.


"Sepertinya aku juga tidak sabar memiliki keponakan yang sangat lucu. Kapan ya mereka memiliki anak dengan cepat?" tanya Andara.


"Kapan kamu akan menikah Nda? Abang sudah menikah tuh tinggal kamu saja yang belum," tanya Kartolo balik.


"Apakah papa mau menerima Kak Tio untuk menjadi menantu?" tanya Andara dengan serius.


"Kalau kamu suka Kenapa nggak? Papa dan mama tidak pernah melihat status sosialnya. Kalau kamu mau tantang saja Tio untuk menjadikan kamu sebagai istrinya," tanya Kartolo.


"Masalahnya gini pa. Aku sama Kak Tio pernah membicarakan hal ini sebelum Kak Budiman menikah. Jujur Kak Tio sangat keberatan sekali jika aku menjadi istrinya. Ditambah lagi aku lahir dari kalangan orang-orang yang sangat berkelas. Sedangkan Kak Tio sendiri lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Kita tahu keluarganya bagaimana?" jawab Andara yang sudah mengetahui keluarga Tio sebenarnya.


"Masalah status sosial itu memang susah. Jujur saja sampai sekarang Papa juga nggak tahu kenapa masalah itu menjadi besar. Coba kamu ingat deh, dulu Adinda pernah membuat eksperimen menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Masuk ke dalam perusahaannya dengan menyamar menjadi gadis biasa. Lalu apa yang didapatkannya? Adinda malah diusir dari perusahaannya sendiri. Kalau kamu menikahi Tio nggak jadi masalah. Soalnya Tio adalah seorang pria yang bertanggung jawab atas kehidupan seseorang. Lalu bagaimana dengan tanggapan masyarakat? Mereka hanya bisa mencibirmu habis-habisan. Mereka bisa berspekulasi dengan mengatakan sesuatu. Kamu itu cocoknya menikah dengan seorang pengusaha kaya. Jika tidak Kamu cocoknya menikah dengan si a, b dan si c. Pasti deh jika orang-orang berkata seperti itu. Aku tahu kamu tidak akan betah mendengarnya," jelas Kartolo.


"Jadi menurut papa aku tidak akan bisa menikah dengan Kak Tio?" tanya Andara.


"Omongan mereka mah sudah kebal buat aku. Sekarang aku malas untuk mendengarkannya apapun. Lagian yang punya hidup adalah aku bukan mereka. Kak Tio dan keluarganya juga sangat baik ketika aku dan Adinda bermain ke sana. Aku malah lebih suka perjuangan dari mamanya Kak Tio. Setelah ditinggalkan oleh ayahnya. Mamanya berusaha untuk menghidupi Kak Tio dan kak Fahmi. Mereka sekarang menjadi orang sukses ber kat kerjasama yang erat sesama keluarga," ucap Andara.


"Kita keluar yuk. Mama sudah bosan di sini. Mama ingin mencari kuliner yang berada di jalanan Singapura. Mudah-mudahan ada makanan yang enak dan cocok di lidah mama," ajak Kamila.


"Apakah aku harus mengajak keadilan untuk berjalan bersama-sama?" Tanya Andara.


"Kamu itu malah meledek kakakmu. Biarkanlah saja mereka berdua menikmati malam ini," jawab Kartolo dengan nada kesalnya itu.


Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sementara Adinda malah tidak bisa bergerak sama sekali di dalam toilet. Budiman memang sengaja melakukannya agar Adinda tidak jadi keluar dari kamar ini. Sungguh luar biasa, Budiman memiliki otak yang sangat licik sekali. Bahkan sangking liciknya, Adinda bertekuk lutut di hadapannya.


Adinda lelah dan menatap tajam ke arah Budiman. Adinda segera membilas tubuhnya dan meninggalkan Budiman di dalam toilet sendirian. Sementara Budiman menahan tawanya dan berteriak kegirangan. Jujur, Budiman berhasil membuat Adinda menuju ke puncak kebahagiaan yang tiada tara.


"Ternyata enak juga ya memiliki Seorang istri yang sangat polos sekali," udah Budiman dalam hati sambil membilas tubuhnya.


Beberapa menit kemudian Budiman keluar. Ia melihat Adinda yang sudah berbaring di atas ranjang. Ia mendekatinya dan menatap ke arah wajah Adinda.


"Kamu jadi berjalan-jalan untuk menyusuri makanan demi makanan di sana?" tanya Budiman yang sengaja menahan tawanya.


"Terima kasih. Sudah nggak minat lagi untuk mencoba makanan sebanyak itu," kesal Adinda yang membalikkan tubuhnya lalu memilih untuk tidur.


"Lah malah tidur ini bocah. Lagian aku ajak kamu malah mendes*ah keenakan. Jadinya aku teruskan saja sampai Kamu benar-benar menyerah," ucap Budiman sembari memakai bajunya yang sudah disiapkan oleh Adinda.


"Iya ya. Kenapa juga aku mendes*h enakan seperti itu? Jadinya aku nggak bisa lagi ke mana-mana. Jujur punggungku remuk sekali seperti ini," keluh Adinda.


"Jadi bagaimana? Apakah kamu masih ingin berjalan berkeliling untuk mencari makanan yang enak?" tanya Budiman.


"Sebentar napa. Aku masih mengumpulkan tenagaku untuk pergi ke sana. Kamu jadi orang jangan tega gitu ya sama istrimu ini," ketus Adinda.


"Iya bukannya begitu Yang. Cuma nanya saja. Kalau kamu nggak jadi nanti aku pesankan makanan buat kamu," kata Budiman yang mulai ketakutan.


"Lalu kamu nggak makan gitu?" tanya Adinda yang masih perhatian Kepada Budiman.