Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 72



"Kenapa juga aku harus membanding-bandingkan kamu dengan Mas Tio? Semua orang pasti memiliki sisi spesial. Jika Aku menilai kamu, Kamu adalah pria yang cukup baik untukku," jelas Adinda yang tidak ingin membanding-bandingkan orang lain dengan Budiman.


Budiman mengulas senyumnya sambil menatap langit-langit di rumah sakit. Dalam hatinya, Budiman berdoa agar momen-momen seperti ini tidak akan cepat berakhir. Budiman ingin seperti ini untuk selamanya.


Beberapa saat kemudian, datang Andara dan juga Tio. Mereka langsung masuk ke kamar Adinda bersama Budiman. Mereka berdua saling berdiam diri dan tidak banyak bicara.


"Apakah kalian sedang berantem lagi?" tanya Andara yang mendekati Adinda.


"Kami tidak sedang berantem. Kami hanya diam dan tidak saling berbicara sedikitpun," jawab Adinda yang mengangkat wajahnya lalu melihat Andara.


"Kenapa coba kamu menganggap Kami sedang berantem Nda?" tanya Budiman.


"Aku sangka Kakak sedang berantem lagi sama Adinda," jawab Andara.


"Ya nggaklah. Nanti kalau berantem terus-terusan, Kakak iparmu itu akan pergi meninggalkan Kakak selamanya," ucap Budiman dengan jujur.


"Ngapain juga pergi? Dikasih ultimatum saja selama sebulan nggak dapat jatah. Langsung deh diam dan nggak berani ngomel-ngomel lagi," ledek Adinda sambil berdiri dan mendekati Andara.


"Sepertinya itu ide yang sangat bagus sekali. Ah, cepat atau lambat akan aku praktekkan kepada suamiku nanti," ujar Andara yang membuat Tio bergidik ngeri.


Budiman dan Adinda langsung tertawa sambil menatap Tio. Kata-kata Andara adalah sindiran halus buat Tio. Otomatis Tio sangat ketakutan sekali untuk saat ini. Jadi bisa dibayangkan, kalau Tio diam-diam merasakan jantungnya berdenyut hebat.


"Sepertinya kakakmu itu sangat mengerikan sekali," ucap Budiman dengan pasrah.


Adinda menahan tawanya sambil meraih ponselnya. Memang sangat aneh apa yang dikatakan oleh Budiman. Dalam filosofinya Adinda, Budiman tidak boleh marah-marah terus. Jika marah-marah terus, bisa berakibat fatal dalam hidupnya.


"Sepertinya, Kakak nggak boleh marah-marah terus-terusan. Nanti kalau kakak marah-marah terus-terusan seperti itu. Kakak nggak dapat jatah sedikitpun. Yah bisa dikatakan itu ultimatum yang sangat manjur sekali buat kakak," sahut Andara.


"Dari tadi, Kak Tio nggak bicara sama sekali?" Tanya Adinda sambil menatap wajah Tio.


Biasa, jika ada Andara, Tio lebih baik menyimpan tenaganya untuk berbicara. Ia lebih memilih diam ketimbang berinteraksi dengan orang banyak. Orang-orang di kantor sering mengatakan kalau pria itu adalah asisten balok es. Tio akhirnya menelan salivanya dengan susah payah.


Lalu bagaimana dengan Budiman? Sebenarnya Budiman Adalah bos yang mengasyikkan. Meskipun sebutannya seorang bos yang arogan, namun dirinya sering memberikan kejutan buat para karyawannya. Sekarang karyawan terbaiknya sudah pergi ke perusahaan Adinda.


Budiman membiarkan saja kalau mereka pergi. Ia mengaku kalau dirinya salah. Tidak seharusnya ia marah-marah yang tidak jelas seperti itu. Ditambah lagi Budiman telah menyakiti hati karyawannya.


"Kamu jangan begitu Budiman! Mentang-mentang kamu dapat Adinda adiknya Faris, kamu malah menindasku seperti ini," kesal Tio.


"Lagian juga kamu jadi orang kayak es batu. Wanita di depanmu saja enggak mengerti. Kenapa kamu menyuruhku untuk diam? Apa yang kukatakan Itu adalah sebuah fakta. Yang di mana fakta itu akan berkembang dengan sendirinya. Sampai sekarang para karyawan menyebutmu sebagai asisten balok es. Terus Apakah kamu akan mengelak dengan sebutan itu?" Tanya Budiman.


"Ya nggak sih. Kan sudah aku bilang, aku memang seperti ini," jawab Tio.


"Terus aku bagaimana? Menyukai orang seperti Kak Tio? Mana lagi orangnya dingin kayak es batu. Pengennya sih Kak Tio sebaiknya dilemparkan ke negara Finlandia saja. Biar Kak Tio di sana membeku sekaligus," kesel Andara yang mencurahkan isi hatinya.


"Bagus Nda. Lemparkan saja itu Tio ke kutub utara. Biar dia membeku seperti salju abadi," ledek Budiman.


"Rasanya aku sudah terjepit untuk kali ini. Bisa-bisanya Tio mengatakan kalau ingin meminta pembelaan," ucap Adinda secara gamblang.


"Mending kamu nggak usah belain dia. Dia harus menjadi manusia normal. Jangan sampai nanti adikku menderita karenanya setelah menikah. Karena adikku sendiri adalah orang yang suka ceplas-ceplos dalam berbicara," pinta Budiman ke Adinda.


"Nasib nasib, bisa-bisanya aku terkena mental di sini. Mentang-mentang udah damai sama Adinda. Langsung deh membullyku habis-habisan. Andai saja sama setan kuntilanak itu. Jangankan berbicara blak-blakan seperti ini. Tersenyum pun agak susah," jelas Tio yang disambut gelak tawa dari Andara.


"Kamu masih betah di sini Din?'' tanya Tio.


"Enggak, aku sudah tidak betah di sini lagi. Sudah beberapa hari aku tergeletak di rumah sakit? Lebih baik aku pulang dan tidur," jawab Adinda sambil melihat isi pesan dari Netty.


"Aku sangka kamu masih betah di sini. Ya sudah kalau begitu. Kita pulang saja," ajak Budiman yang memegang tubuh mungil Adinda dan menggendongnya.


"Kakak serius menggendongku?" Tanya Adinda.


"Iya. Katanya jalanmu sangat lambat sekali kayak siput. Maka aku harus menggendongmu sampai ke dalam kamarmu," jawab Budiman sambil tersenyum dan memandang wajah Adinda.


"Dasar bucin," seru Tio.


"Terserah apa katamu. Yang penting aku menggendong istriku bukan istri orang. Kalau aku menggendong istri orang, aku sendiri yang akan susah," ucap Budiman dengan bangga lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Adinda dan menuju ke lobi.


Tio dan Andara hanya tersenyum melihat pemandangan mereka. Andara tidak menyangka, kalau sang kakak benar-benar sudah berubah. Memang, perubahan Budiman sangatlah singkat. hal ini membuat Andara dan kedua orang tuanya bahagia. Jika malam itu Budiman tidak menemui Adinda. Apa jadinya hidup Budiman sekarang ini? Apakah Budiman tetap menjadi orang arogan? Apakah Budiman sendiri akan menghapus seluruh kebijakan yang sudah dibuatnya untuk keuntungan karyawan maupun perusahaan?


Inilah yang membuat Pak Kartolo menjadi gelisah. Dengan adanya pernikahan paksa, Pak Kartolo mendapatkan menantu yang sangat baik sekali.


Sepanjang perjalanan menuju ke lobby, banyak sekali pasien-pasien dan para pengunjung melihat Budiman. Mereka merekamnya dan mengupload di internet. Tio dan Budiman membiarkan saja. Mereka juga tidak melarang bagi para pengunjung untuk mengambil gambarnya.


Setelah mengambil foto tersebut, para pengunjung mengatakan kalau Budiman adalah pria yang sangat romantis sekali. mereka tahu yang digendongnya itu adalah istrinya. Apakah para pengunjung itu tahu siapa yang digendongnya Budiman itu? Yang jelas tidak ada yang tahu. Adinda sengaja menyembunyikan kepalanya di dada Budiman. Agar Adinda menjadi aman untuk menjalani hidup. Ditambah lagi ia tidak ingin diusik oleh siapapun.


Sesampainya di lobby, Tio mengambil mobilnya dan membiarkan Budiman menunggu. Sedangkan Andara disuruh Budiman untuk lapor kepada administrasi. Seharusnya tidak lapor juga tidak apa-apa. Karena Kevin sudah mengetahuinya dan membiarkan Adinda pulang.


Mobil Brio akhirnya terpajang di hadapan Budiman. Tio segera membuka pintunya dan menyuruh Budiman masuk. Setelah itu Budiman menaruh tubuh mungil Adinda di kursi pengemudi belakang. Kemudian Andara masuk ke dalam kursi pengemudi di belakang. Sementara Budiman sengaja duduk di depan bersama Tio. Selesai dirasa aman, Tio langsung menancapkan gasnya menuju ke rumah Adinda.


Di dalam perjalanan mereka hanya diam saja. Adinda merasakan perutnya masih sangat perih. Meskipun lukanya sudah mengering, ketika tertawa lukanya seperti terbuka. Maka dari itu, ia memilih untuk diam dan tanpa banyak bicara.


Sementara di rumah para pelayan sudah mempersiapkan kamar Adinda. Mereka sempat sedih ketika Adinda terkena musibah. Seorang Nona muda yang memiliki hati baik, telah menorehkan banyak kenangan. Yang dimana kenangan itu membuat para pelayan tidak tertekan pada waktu bekerja di rumahnya.


"Jadi rindu sama Nona Adinda," ucap Nila yang sangat merindukan Adinda.


"Tenanglah, Adinda akan pulang pada malam ini. Pagi hari kalian belanja untuk membuat sup ayam. Buatlah makanan itu menjadi sedap," pinta Tia


"Oke bu, Kami akan pergi berbelanja ke pasar pada pagi hari. Oh iya Bu, Bagaimana kabar Nona Adinda untuk saat ini?" tanya Mila lagi.