Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 193



"Ya itu benar. Kemungkinan benar berita itu akan membuat semua gempar," celetuk Adinda.


"Sudah ya? Kalau seperti ini, kapan kita bisa bertemu dengan Alejandro?" tanya Andara. "Jujur aku sangat merindukannya."


"Kalau begitu ayolah. Lagian juga Yuki baru menyelesaikan pekerjaannya," jawab Adinda yang baru saja membaca sebuah pesan dari Yuki.


"Apakah kita mengajak Papa dan Mama?" tanya Andara.


"Mereka sudah membeli baju sewaktu berada di Indonesia," jawab Budiman segera berdiri dan mendekati Adinda dan merangkulnya dengan mesra.


"Kenapa kalian enggak dari dulu menikah?" tanya Tio.


"Inilah rahasia Tuhan. Sebenarnya jodoh kita terlalu dekat. Berhubung kita diberikan cobaan dan dia membuat otakku menjadi bener lagi. Kita harus memiliki banyak proses. Proses yang dimana kita bisa menghargai pasangan dan juga menebarkan virus cinta terhadap kita," jelas Budiman.


"Cih, gue baru sadar. Kalau Budiman pandai merangkai kata-kata cinta," ejek Tio.


"Jadi berangkat kalian ini? Sedari tadi kalian selalu meledekku?" kesal Budiman yang menarik Adinda masuk ke dalam pelukannya.


Budiman sengaja menarik Adinda pergi meninggalkan kamar hotelnya itu. Lalu Andara dan Tio segera mengekori dan menutup kamar hotel itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar hotel itu.


Siang ini mereka sedang menuju ke pusat perbelanjaan. Seharusnya mereka ke butik Alejandro. Berhubung Alejandro berada di pusat perbelanjaan yang terkenal di di pusat kota Singapura, mau tidak mau mereka menemuinya disana.


''Aku mendapatkan info dari Rizal. Keluarga Gilang akan diberangkatkan siang ini juga. Rizal dan Yuki membatalkan rencanannya untuk hadir dalam pernikahan Albert. Karena masalah ini sangat mendesak sekali," jelas Tio.


"Apakah mereka mengerjakan misi berat?" tanya Adinda.


"Ya.. mereka sengaja ditugaskan dalam misi berat. Penangkapan orang-orang yang memiliki kejahatan tingkat tinggi seperti Gilang bersama Kanaya. Memang sungguh berat jika menjadi mereka," jawab Budiman.


"Kapan-kapan kita akan membuat reuni. Irwan dan Roni sekarang sangat sibuk sekali. Pekerjaan di lapangan memang membuat kita terpisah," keluh Tio.


"Atur saja. Jangan sampai kita melupakan meeting dengan banyak klien sebelum aku bersama Adinda pergi ke London!" perintah Budiman.


Mereka akhirnya bahagia ketika mobil melaju dengan sangat pelan. Mereka menikmati keindahan Kota Singapura di siang hari.


Sedangkan Kamila dan Kartolo sedang saling pandang. Mereka layaknya seperti sepasang kekasih dimabuk cinta.


"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Kamila.


"Aku lega. Aku tidak membayangkan semua masalah ini cepat selesai. Dan aku baru tahu kalau Rizal adalah seorang kepolisian Amerika. Jujur aku terkejut mempunyai keponakan yang sangat lihai menangkap orang tanpa perlu kekerasan," jawab Kartolo.


"Di grup chattingan keluarga besar, banyak yang mengucapkan rasa syukur. Mereka sangat tertekan apa yang telah terjadi selama ini. Yang tertekan itu keluarga sering menindas kita. Mereka mengakui disuruh Gilang dan keluarganya untuk menekan kita dan melemahkan mental untuk membuat Budiman gila. Lalu mereka sengaja menindas kita habis-habisan. Nah ketika terkena penindasan seperti itu. Keluarga Gilang membayarnya," jelas Kamila.


"Kamu tahu darimana kabar itu?" tanya Kartolo.