
“Semuanya sudah sirna. Sebelum terjadi pernikahan aku sudah diberitahukan siapa dia sebenarnya. Untung saja Tuhan telah membuka kedok dia. Ternyata selama ini dia bermain di belakangku. Diam-diam dia juga bermain bersama Budiman. Namun dia memiliki otak yang sangat licik. Yang di mana otak liciknya itu bisa membuat Budiman tidak mengetahui siapa Kanaya dan juga dia. Semuanya berada di tangan Gilang. Untuk saat ini ataupun selanjutnya aku tidak akan pernah menemui kedua orang tuanya. Biarkan saja mereka berteriak-teriak meminta bantuanku. Tapi hatiku sudah terlanjur sakit. Aku merasa dibohongi dan dikhianati begitu saja. Untung saja Adinda tidak marah soal itu. Kalaupun marah Budiman tidak bersalah sama sekali. Karena otaknya sudah dicuci oleh mereka berdua,” jelas Herman yang mengingat rasa sakit di dalam hatinya itu.
‘Ya sudah kamu nggak boleh menyesal seperti itu. Masih banyak perempuan di luar sana yang baik dan memiliki sifat santun. Kamu bisa memilih wanita barbar ataupun lembut. Semuanya Itu terserah kamu. Kakak hanya memberikan saran saja. Agar kamu bisa memiliki hidup yang teratur. Ditambah lagi kamu ada yang merawatnya,” jelas Malik.
“Aku Terima kasih banyak atas hal ini. Meskipun Kakak memiliki sifat cuek tidak ketulungan sama sekali. Tapi aku bangga. Kakak sudah memperhatikanku secara diam-diam. Kalau begitu aku pamit tidur. Besok pagi mata-mataku akan memberitahukan semuanya,” pamit Herman yang berdiri lalu meninggalkan Malik.
“Pergilah tidur. Jangan main ponsel terus-terusan. Waktu tidur jangan dibuat bekerja. Sayangilah kesehatanmu,” pesan Malik yang sayang terhadap Herman.
Herman melambaikan tangannya sebagai tanda ucapan terima kasih. Herman sangat bersyukur sekali mendapatkan keluarga yang sering memperhatikannya. Meskipun Herman memiliki keponakan usianya hampir sama, mereka juga sering memperingatkannya. Apalagi Adinda cerewet sekali tentang kehidupannya itu. Namun Herman tidak marah sama sekali. Justru Herman sangat berterima kasih sekali kepada Adinda.
Kedua Kakak adik itu sangat kompak sekali. Memang Malik sangat cuek sekali tentang kehidupan adiknya itu. Akan tetapi Malik sangat menyayangi Herman. Begitu juga dengan sebaliknya. Herman juga sering memperhatikan kesehatan Malik. Bahkan Herman sudah sedia dokter pribadi ketika Malik sedang sakit. Jangankan Malik yang mendapatkan perlakuan istimewa dari Herman. Tia, Adinda dan juga Faris merasakan hal yang sama. Oleh karena itu mereka sengaja menggenggam dan bergandengan tangan untuk menjalani hari bersama. Inilah yang disebut keluarga yang harmonis sekali. Banyak sekali orang-orang iri terhadap keluarga Malik. Mereka selalu mencari cara agar mendapatkan Bagaimana caranya bisa hidup harmonis seperti itu?
Mereka tidak mengatakannya. Malik hanya berkata kalau semua orang itu harus berjabat tangan dan bergandengan bersama menyambut hari esok Dengan Indah. Malik juga mengatakan harus sering-sering ada waktu bersama ketika berkumpul dengan keluarga. Inilah yang menjadi acuan bagi setiap orang ketika membangun keluarga besar.
Pagi yang cerah di Pantai Anyer. Adinda dan Budiman sudah bersiap-siap memakai baju formalnya. Ketika Budiman sedang memakai baju, wajah Adinda tiba-tiba saja memerah. Adinda membuang wajahnya agar tidak memandang tubuh indah Budiman. Dengan cepat Budiman mendekatinya dan memegang wajah Adinda sambil tersenyum.
“Kalau kamu mau lihat lihat saja. Kenapa harus malu melihat tubuh indahku ini? Bukankah kita sudah menikah dan tidur bersama?” tanya Budiman.
“Memangnya aku gardu listrik ya? Yang bisa menyimpan aliran listrik sangat besar sekali?” tanya Budiman.
Adinda tidak menjawabnya namun hanya menganggukkan tanda iya. Jujur tubuh Budiman memiliki otot yang sangat kekar sekali. Bahkan kulitnya pun seperti orang Eropa yang agak kemerah-merahan. Jika saja Budiman memakai baju yang ketat. Bisa jadi setiap wanita melihatnya akan meleleh dan berteriak. Mereka juga rela melemparkan tubuhnya di atas ranjang Budiman. Namun Budiman sendiri tidak akan mau mencicipi mereka. Namun Budiman sendiri tidak akan pernah mengizinkan mereka tidur di atas ranjangnya. Karena Budiman sudah mengikat Adinda menjadi ratu di dalam hatinya.
“Tapi kamu nggak kesetrum gitu loh. Kalau kamu kesetrum sudah dari dulu pas kita berpegangan tangan,” celetuk Budiman yang membuat Adinda semakin malu.
“Kakak ini ada-ada saja. Kalau kesetrum rambutku sudah berdiri dari dulu. Aku tidak perlu ke salon lagi untuk menatanya. Karena aku akan membuat icon rambutku ini akan terkenal di dunia,” ujar Adinda.
Akhirnya Budiman meledakkan tawanya. Jujur ini sangat lucu sekali. Karena Adinda sendiri pandai melawak ketika dirinya sedang ada masalah besar.
“Ayo kita makan!” ajak Adinda.