Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 12



"Menurutmu Kanaya itu adalah wanita yang baik. Tapi itu tidak. Aku sudah memiliki kartu as-nya. Dia adalah seorang penipu yang ulung. Dia bekerja sama dengan Gilang. Yang di mana bilang itu adalah musuh bebuyutan kak Faris. Jika kamu teringat pada kasus Faris masuk penjara. Penyebabnya adalah Gilang. Untung saja dalam hitungan hari aku sama papa menjebloskan Gilang ke dalam penjara. Barang bukti yang asli aku serahkan kepada pihak kepolisian. Sedangkan kak Faris masuk penjara karena barang bukti palsu. Jadi intinya mereka bekerja sama dengan cara yang sangat licik sekali. Jika kamu tidak percaya tanyakan saja pada kedua orang tuamu itu. Mereka tidak ingin kamu jatuh ke dalam pelukan Kanaya lebih dalam lagi. Cepat atau lambat mereka akan menjadikanmu sebagai boneka. Apalagi kamu sangat tulus mencintai Kanaya. Karena ketulusanmu dia akan bermain cantik untuk mengelabui kamu. Sekarang terserah apa mau kamu. Mau percaya terserah mau nggak percaya ya udah. Aku orangnya tidak terlalu memikirkan soal itu.y


Yang penting masa depanku aman di dalam genggamanku sendiri," jelas Dinda yang membuat Budi berpikir keras.


"Seandainya jika aku tidak menceraikanmu. Apa yang harus kamu lakukan?" tanya Budi.


"Pernikahan itu sakral. Tidak boleh dibuat main-main. Jika orang sudah terikat dalam pernikahan. Mau tidak mau kita wajib menjalankannya. Dan aku sekarang terjebak dalam ikatan itu. Soal pernikahan ini aku serahkan kepada kamu. Terserah kamu mau menceraikan aku atau tidak. Aku akan menerima hasil keputusanmu itu," tegas Dinda.


Dalam hati Budi merasakan euforia dengan bangga. Jujur Budi mendapatkan seorang istri yang memiliki kecerdasan.


"Kalau aku berkomitmen sama kamu bagaimana?" tanya Budi.


"Itu terserah kamu. Semua keputusan tentang pernikahan ini sudah aku serahkan di dalam tanganmu. Kamu membuat aku cerai sekarang juga nggak papa. Soalnya aku sendiri tidak akan rugi sama sekali. Planning ke depanku masih banyak sekali. Cepat atau lambat aku akan pergi ke Oxford untuk melanjutkan pendidikanku," jawab Dinda.


"Sepertinya kamu nggak usah pergi ke sana. Aku menahanmu dan membiarkan hidupmu berada di tanganku," ucap Budi yang membuat Dinda mengedikkan bahunya.


"Baiklah. Kalau begitu kita akan menjalani hidup rumah tangga ini dengan normal. Setelah kembali dari sini kamu harus mengawasi pakaianmu. Aku sudah membeli rumah di kawasan area kantorku. Kita akan tinggal di sana hingga akhir hayatku," tambah Budi.


"Tergantung. Mau hidup lama maupun tidak. Aku tidak memiliki masalah apapun. Penyebabnya adalah aku tidak terlalu percaya dengan omongan pria. Aku sering mendengarkan omongan pria itu hanya bualan belaka. Yang di mana pria selalu saja membuat masalah terhadap perempuan," jelas Dinda.


"Kamu berhak melarangku untuk bertemu dengan Kanaya. Kamu berhak melarangku untuk ke mana saja yang tidak ada juntrungannya. Karena kamu adalah istri sahku. Meskipun kita tidak saling mencintai. Kita bisa menjalankan hidup ini bersama-sama," sahut Budi.


"Hidup kamu sangat ribet sekali. Aku masih belum mempercayai kamu. Cepat atau lambat Kanaya akan kembali ke dalam pelukanmu. Namun kamu nggak menyadari soal itu. Dia akan bermain cantik sambil melemparkan kesalahannya ke orang lain. Banyak lho orang-orang yang tertipu karena Kanaya. Kalau kamu tidak percaya nanti malam dia akan mencari mangsa baru. Kalau kamu mau ikut menyelidikinya akan aku beritahu. Jika tidak aku akan memilih untuk tidur. Maaf hidupku tidak untuk menjelekkan seseorang. Tapi kenyataannya sudah berada di tanganku," jelas Dinda yang sangat berani membuka kartunya Kanaya.


"I believe in you. Aku percaya sama kamu. Aku hanya ingin meminta bukti itu," kata Budi.


Tak lama beberapa pelayan datang menghampirinya. Mereka membawa pesanannya dan menatanya di meja. Lalu mereka pergi meninggalkan Dinda dan Budi.


"Bisakah tempat ini dibuat meeting?" tanya Dinda sambil melihat makanannya itu.


"Kalau kamu mau meeting hubungi saja aku. Aku akan mengatur tempatnya dan memberikan pelayanan terbaik," jawab Budi.


"Jadi tempat ini punya kamu atau teman kamu?" tanya Dinda.


"Nggak jadi masalah. Kalau milik kamu ngapain juga harus bohong. Apakah kamu malu memiliki rumah makan seperti ini?" tanya Dinda.


"Malu sih nggak. Masa iya ngajak istri datang ke tempat seperti ini? Harusnya mengajak seorang istri itu ke restoran mahal," jawab Budi.


"Tidak jadi masalah denganku. Kamu mau membawaku ke sini ayo saja. Lagian juga aku sering makan di jalan kaki lima. Ngapain harus malu. Kalau untuk segi restoran, aku pasti ada pertemuan antara klien dan keluarga. Jika tidak ada aku akan makan di sini. Atau mengajak asistenku pergi ke masakan Padang yang berada di ujung kantor. Atau juga di warteg. Sebenarnya saja yang penting enak dan kenyang. Lain kali kamu nggak perlu malu membawaku ke mana. Memang banyak orang menganggap aku adalah wanita berkelas. Tapi aku bukan wanita berkelas. Aku lebih memilih menjadi wanita biasa," imbuh Dinda.


Salut.


Kata-kata itu mendiami di hati Budi. Jujur selama ini dirinya baru menemukan wanita yang unik. Budi sudah mengetahui siapa Dinda sebenarnya? Namun ia lebih berhati-hati lagi mengajak makan seorang wanita seperti Dinda.


"Makanlah selagi masih hangat," suruh Budi.


Kantor Njawe Company.


Tio selesai mengerjakan tugasnya langsung mendapatkan pesan. Ia membaca pesan itu sambil tertawa. Jujur hari ini Tio melihat sebuah video yang dikirimkan oleh seseorang. Di video itu Budi berbicara luwes kepada Dinda. Ia pun tersenyum dan berhasil membuat dekat.


"Begini nih. Aku sangat menyukainya. Entah kenapa diriku bahagia melihat kedua insan itu berbicara. Aku harap mereka akan langgeng hingga akhir hayat," ucap Tio dalam hati.


Dalam hitungan detik ada suara sepatu high heels sedang beradu dengan marmer lantai. Hampir saja Ro terkejut dengan suara itu. Rio akhirnya mengenali suara sepatu itu.


Semakin lama suara sepatu itu semakin mendekat. Tak lama ada seorang perempuan cantik mendekatinya. Kemudian wanita itu mendekatinya sambil bertanya, "Di mana Budi berada?"


Tio langsung menatap wajah wanita itu. Ia tidak menyangka wanita itu berani masuk ke dalam kantor ini. Kemudian Tio menjawabnya dengan santai, "Budi sedang makan siang bersama istrinya."


Mendengar kata-kata istri, wanita itu terkejut dan melotot. Wanita itu wajahnya langsung memerah menahan amarah. Ia membentak Tio sambil bertanya sekali lagi, "Di mana Budi?"


"Budi sedang makan bersama istrinya. Apakah lu udah puas mendapatkan jawaban itu? Oh iya... Budi sudah memberikan perintah Kalau kamu tidak boleh masuk ke dalam perusahaan ini lagi. Jika tidak kamu yang akan mendapatkan akibatnya," ancam Tio kepada wanita itu.


"Memangnya siapa Lo? Bisa-bisanya lo ngancem-ngancem gue seperti ini," tanya wanita itu sambil mengejek Tio.