
"Janganlah terlalu kurus seperti itu. Nanti aku dimarahi oleh abangmu dan juga pamanmu. Kamu menikah denganku bukan untuk menderita. Kamu harus bahagia bersamaku," jawab Budiman yang ingin bertanggung jawab atas hidupnya Adinda.
"Terima kasih," ucap Adinda.
Tak lama datanglah Faris bersama Herman duduk di hadapan Budiman. Adinda menatap wajah Faris dan Herman sambil bertanya, "Kalian dari mana?"
"Baru saja bertemu klien. Tapi pertemuan sore ini sangat rewel. Mau tidak mau aku harus turun menanganinya," jawab Herman.
"Nggak semuanya klien itu rewel. Ada juga klien yang sangat baik dan menurut kepada kita," sahut Kamila sambil menatap wajah mereka.
"Eh Mama apa kabar?" tanya Faris.
"Mama sehat selalu," jawab Kamila penuh dengan senyuman hangat. "Bagaimana kabar kalian?"
"Dari dulu begini ma. Tidak ada perubahan sama sekali. Masih jomblo dari lahir," jawab Faris.
"Ya nggak gitu kali Kak. Yang namanya jodoh pasti datang kok. Nggak semuanya orang bisa mendapatkan jodoh dengan cepat. Pokoknya Kakak nggak boleh terburu-buru untuk mencari jodoh seumur hidup," ucap Adinda.
"Adikmu benar. Santai saja jadi orang. Apa yang kamu bisa kerjakan maka kerjakanlah semuanya. Bekerja keraslah sebelum bertemu dengan jodohmu. Suatu hari nanti kalian bisa mendapatkan jodoh yang baik," sahut Kamila sambil mendoakan mereka.
"Amin," jawab mereka serentak.
"Kalian di sini nggak makan dulu?" tanya Budiman.
"Sudah makan tadi bersama klien. Selesai bertemu klien pengennya pulang. Berhubung melihat kalian ya sudah mampir ke sini dulu," jawab Faris.
"Rencana kamu apa Bud?" tanya Herman sambil menaruh panjangnya di atas meja.
"Menempuh hidup baru bersama Adinda. Menimba ilmu di London untuk beberapa tahun kemudian. Merencanakan memiliki tiga anak untuk masa depan perusahaan," jawab Budiman dengan mantap.
"Kamu serius ingin memiliki anak?" tanya Herman yang tidak percaya dengan jawaban Budiman.
"Aku serius. Kamu tahukan kalau kita sudah berusia hampir kepala tiga. Aku tidak ingin memiliki anak melebihi kepala tiga. Nanti kalau dewasa aku tidak bisa menganggapnya seorang adik," jawab Budiman.
Mereka menganggukkan kepalanya karena paham dengan jawaban Budiman. Seharusnya mereka juga sudah menikah lalu berencana memiliki anak. Namun jodoh tidak bisa ditebak. Bisa datang sekarang atau juga nanti. Mereka tetap bersabar dan menyibukkan dirinya bekerja lebih giat. Hingga suatu hari nanti mereka bisa mandiri.
"Kamu benar. Seharusnya aku menikah dengan seorang gadis. Tapi nggak di situ sudah menikah dengan orang lain. Hatiku patah dan remuk menjadi satu. Sampai sekarang aku belum dapatkan jodoh," ucap Faris yang membenarkan kata Budiman.
"Nggak gitu kali kak. Tetaplah sabar dan tenang dan janganlah kamu menjadi sad boy. Percayalah pada sang pencipta. Kalau jodoh itu benar-benar datang di hadapanmu. Akulah orang pertama yang akan mendukungmu untuk mengejarnya. Untuk saat ini Kakak belum menemukan jodoh sama sekali. Tetap menyerah dan jangan semangat ya," jelas Adinda.
"Bagaimana bisa kamu ngomong seperti itu? Tetap menyerah dan jangan semangat. Berarti kamu nganggap Kakak adalah seorang pemalas," ujar Faris yang mendapatkan cekikikan dari Harman.
"Memang benar yang dikatakan oleh Adinda. Ketika banyak cewek yang mendekat kamu malah jual mahal. Bayangin saja mereka rela untuk dijadikan simpanan. Tapi kamunya nggak mau. Memang parah kamu itu Ris... Faris," ejek Budiman.
"Apakah itu benar Budiman?" tanya Kamila.
"Itu benar ma. Dari dulu memang begitu Faris. Herman saja yang sekarang sudah memiliki tunangan. Tinggal tunggu hari h-nya untuk menikah," jawab Budiman.
"Ternyata aku baru tahu fakta sesungguhnya dari Kak Faris. Diam-diam Kak Faris suka jual mahal kepada perempuan," ucap Adinda sambil memijit keningnya.
"Sekarang kamu nggak boleh jual mahal seperti itu. Cobalah untuk mencari seseorang dijadikan sebagai kekasih," pesan Kamila.
"Baik ma. Janganlah patah semangat seperti itu. Nikmatilah apa yang ada. Kalau aku sih, gara-gara dipaksa menikah sama mama. Jadinya ya aku terima Adinda apa adanya," ucap Budiman sambil menyunggingkan senyumnya.
"Iya sih. Coba kalau ada aku. Aku pasti menahanmu terlebih dahulu," kesal Faris.
"Mau bagaimana lagi. Yang namanya takdir harus aku jalankan. Awalnya aku memang tidak menyukai adikmu. Tapi sekarang atau besok lusa, Aku sangat mencintainya," ucap Budiman dengan jujur.
Begitu bahagianya hati Faris mendengarnya. Bahkan Faris sendiri menatap mata Budiman. Ia sengaja mencari kebohongan di mata Budiman. Namun nyatanya kejujuranlah yang membuat Budiman mendapatkan restu dari mereka.
"Jaga adikku. Jangan kamu sia-siakan adikku ini. Jangan sampai dia mengamuk. Kalau mengamuk aku tidak bisa bertanggung jawab atas hidupmu itu. Buatlah prinsip hidup agar kamu tidak melihat banyak wanita di luar sana. Jadikanlah adikku sebagai bidadari surgamu. Aku dan Herman sudah merestui kamu," ucap Faris dengan penuh senyuman.
"Baiklah. Dulu Aku adalah seorang teman yang brengsek buat kalian. Sekarang Aku akan berusaha menjadi adik ipar yang baik dan juga suami buat Adinda. Thanks telah melepaskan adikmu buat aku," sahut Budiman.
"Kalau begitu kami berpamitan terlebih dahulu," ujar Herman.
"Aku tidak bisa pulang ke rumah. Aku akan menginap di rumah mama," pamit Adinda sambil meminta izin kepada mereka.
"Tidak apa-apa. Lagian rumahnya Budiman adalah rumahmu juga. Sering-seringlah kamu ke rumah Budiman. Agar kamu bisa akrab dengan kedua mertuamu itu," balas Faris sambil tersenyum bahagia.
Mereka beranjak berdiri lalu meninggalkan Budiman bersama lainnya. Herman memeluk Faris sambil berbisik, "Janganlah bersedih seperti itu. Apa yang dikatakan oleh mereka nanti akan menjadi kenyataan. Sekarang bekerjalah dengan giat untuk meraih masa depanmu. Pelan-pelan kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi ketimbang Dina."
Jujur Faris tidak merasa sakit hati. Yang Lalu biarlah berlalu. Kita sebagai manusia harus mawas diri menyambut hari esok. Kita juga harus banyak-banyak berdoa agar semuanya tercapai.
"Aku nggak bersedih soal itu. Aku tahu mereka sedang menghiburku. Apa yang dikatakan oleh mereka itu memang benar. Nggak semuanya orang mendapatkan jodoh dengan cepat," jelas Faris yang tersenyum bahagia.
"Ya kamu benar. Contohnya sekarang sudah ketahuan. Aku dulu menebak kalau Budiman akan lama menikah. Sekarang Budiman telah menikah. Kita sebagai teman harusnya bangga. Apalagi sekarang Budiman sudah sembuh dari penyakitnya itu. Dia akan menjadikan Adinda sebagai bidadarinya," sahut Herman.
"Kapan kamu menikah paman?" Tanya Faris.
"Menikah itu nggak semudah dibayangkan. Memang aku sudah melamar Netty. Tapi untuk saat ini aku masih meminta waktu menjelajahinya. Tapi kenapa kok hatiku kurang sreg sama Netty. Jujur aku tidak mencintainya. Inilah yang terberat buat hidupku. Aku ingin memutuskan pertentangan ini. Tapi kedua orang tuanya akan kecewa," jawab Herman.
Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil. Faris yang menjadi sopirnya memutuskan untuk mendengarkan curhatan Herman sang paman. Dari awal Herman memang tidak menyukai Netty. Herman memilih untuk diam. bahkan hidupnya sekarang terombang-ambing seperti kapal di laut. Ia harus memilih untuk melanjutkan atau berpisah.
"Sedari dulu aku sudah memperingatkanmu. Sekarang kamu terjebak dalam lingkaran keluarga Netty. Aku nggak tahu kenapa nggak suka Netty saja. Sepertinya dia memakai topeng dan bersembunyi di belakangnya. Untuk sekarang ini kita nggak bisa ngelakuin apa-apa. Kita memilih untuk diam," jelas Faris.
"Apakah aku harus bercerita dengan Adinda?" tanya Herman.
"Sepertinya kamu harus menceritakan semuanya. Apa yang tidak Kamu suka keluarkan saja. Nanti Adinda akan paham dengan Netty. Kita nggak seharusnya menjadi provokator. Seenggaknya Adinda mengetahui bagaimana sifat asli Netty. Aku nggak mau di kemudian hari hubungan Adinda dan Netty rusak tanpa satu alasan. Aku yakin Adinda tidak akan menyerang orang begitu saja tanpa ada kenyataan. Jika Adinda harus menyerang, Adinda harus memiliki banyak bukti. Beda dengan Netty. Gadis itu sangat bar-bar namun tidak terarah. Dia bisa saja menyerang Adinda. Itulah yang aku takutkan sampai saat ini," sambung Faris.
"Nah itu dia. Aku juga nggak bisa tinggal diam. Sepertinya ada rahasia yang disembunyikan oleh keluarga Netty. Tapi aku nggak tahu apa?" tanya Herman yang memiliki firasat tidak enak terhadap Netty.
"Apakah kita harus menyelidikinya?" tanya Faris.
"Ya... Nanti aku akan meminta temanku untuk menyelidikinya. Aku nggak meminta kepada Irwan atau Roni. Dia adalah teman kuliahku di Harvard university. Dia membangun agensi mata-mata swasta. Jika kamu setuju, aku akan menghubunginya dan kita bicara apa yang selama ini ada di dalam hati," jawab Herman.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku setuju dengan pendapatmu. Ketimbang di sini Ayo kita pulang. Biarkanlah Adinda menginap di rumah Budiman agar bisa menyambung silaturahmi antar dua keluarga," ucap Faris sambil menyalakan mobil.