Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 165



"Terus aku harus bagaimana? Apakah aku harus menangis?" tanya Budiman sambil mencium pipi Adinda.


"Jangan menangis seperti itu. Sayangnya aku nggak punya permen sama sekali. kalau aku punya permen pasti buat kamu semuanya," jawab Adinda.


"Kata mama, aku tidak boleh memakan permen. Karena gigiku nanti sakit semua. Apakah kamu mau bertanggung jawab atas gigiku nanti yang sakit itu?" tanya Budiman yang sengaja menggelitik pinggang Adinda.


Adinda malah tertawa karena kegelian. lalu Adinda menatap wajah Budiman sambil memegang tangannya itu.


"Kakak ini ada-ada saja. lagian juga, katanya Paman Herman dan Kak Faris Kakak itu nggak cocok sekali membaca puisi maupun menyanyi. karena suara kakak itu memiliki suara bariton yang sangat menakutkan." ledek Adinda.


"Lalu aku harus ngapain?" tanya Budiman.


"Lebih baik kamu diam saja dan duduk disini," jawab Adinda yang memapah Budiman agar duduk di tepi ranjang.


"Terus?" tanya Budiman.


"Ya... kamu diam saja. Aku akan mempersiapkan baju untuk kamu," jawab Adinda yang yang menjauhi Budiman.


Budiman tersenyum melihat kelakuan Adinda. Namun dirinya bahagia mendapatkan perhatian lebih Adinda.baru kali ini ia mendapatkan kasih sayang dari seorang perempuan yang dulunya menjadi musuh.


Musuh menjadi menikah, inilah ungkapan yang tepat buat mereka. Memang benar seiring berjalannya waktu, mereka tidak sadar untuk saling mengenal satu sama lain. Bahkan Adinda sendiri sudah melihat kejelekan Budiman. Begitu juga sebaliknya. Meskipun pernikahan ini pernikahan paksa, campur tangan Tuhan selalu mengikutinya.


"Kamu pakai ini saja ya?" tanya Adinda.


"Aku pakai baju manapun oke.. oke.. saja. Asalkan kamu memang memilihkan aku memakai baju,' jawab Budiman.


Sementara itu Tia yang akan berangkat ke pusat perbelanjaan kedatangan Tio dan Andara. Tia pun langsung menyambut kedatangan mereka.


"Bu," sapa Andara.


"Hey... anak gadis," sapa Tia balik.


"Ibu," panggil Andara. "Apakah ibu berjualan hari ini?"


"Pastinya. Ibu mau berangkat ke basecamp anak-anak terlebih dahulu. Oh ya... kapan-kapan kamu berkunjung ke restoran ibu. Ibu memiliki menu baru," jawab Tia yang sedang menunggu Pak Gono sang sopir pribadi Tia.


"Hmmmp... Boleh. Minggu depan kami mau mengadakan meeting bersama demi proyek besar," jelas Tio.


"Booking saja tempatnya terlebih dahulu. Nanti kalau sudah booking ibu akan mempersiapkan tempatnya. Mau yang lebar atau yang luas juga ada," sambung Tia.


"Dimana Kak Budiman?" tanya Andara.


"Biasa... mereka sekarang sudah mesra. Coba dulu mereka. Kalau bertemu pasti berantem habis-habisan. Mereka saling ejek mengejek di akun sosial medianya satu persatu," jawab Tia.


Seketika mereka tertawa tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Tia. Setiap membuka pesan pastinya selalu melihat kata sindir-menyindir. Yang lebih parannya lagi Adinda memang sengaja menyerang Budiman secara langsung. Bagi yang mengerti dan membacanya pasti tertawa terbahak-bahak. Bagi yang tidak mengerti, jangan harap, mereka tidak akan pernah mau membacanya.


Gara-gara ini, Adinda dan Budiman pernah digiring ke kantor polisi. Roni sebagai kawan baik hanya bisa tertawa dan menghukumnya dengan cara lari berkeliling kantor sebanyak sepuluh kali.


"Bu," panggil Pak Gono.


"Iya, ada apa?" tanya Tia yang melihat Pak Gono.


"Mobilnya sudah siap," jawab Pak Gono.


"Terima kasih," ucap Tia. "Tunggu sebentar."


"Baik bu," balas Pak Gono dan meninggalkan Tia sendiri.


Melihat kepergian Pak Gono, Tia berpamitan kepada mereka. Setelah itu Tia meninggalkan mereka.


"Untung saja jadwal penerbangan bisa di undur hingga siang," ucap Andara yang bersyukur sambil meraih toples yang berisikan makanan ringan.


"Kakakmu itu sangat membenci penerbangan pagi. Kalaupun ada pasti molor terlebih dahulu. Bangun-bangun matahari sudah tinggi. Karena banyaknya pekerjaan yang harus ditangani terlebih dahulu," jelas Tio yang mengetahui sifat Budiman tidak terlalu terburu-buru.


"Tapi kakak enggak pusing memanage waktu milik kakak?" tanya Andara yang tiba-tiba saja penasaran sekali.


"Harus pandai-pandai mengatur waktu. Kalau ada jadwal perjalanan ke luar negeri pasti aku tanyakan terlebih dahulu," jawab Tio.


"Kalau aku bagaimana?" tanya Andara.


"Kalau kamu memang ingin memiliki asisten. Kamu harus memberikan persyaratan. Jangan asal saja kamu menerimanya. Kamu beritahu apa saja yaang menjadi kepentingan dalam dirimu. Kelak suatu hari nanti, kalau sudah cocok bakalan kamu akan terus bersama," jelas Tio.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mencari asisten yang baik sama seperti kaya Mas Tio," celetuk Andara sambil tersenyum manis.


"Sesempurnanya Tio, pasti akan ada kekurangan. Nah kekurangannya itu jangan jadikan kebencian kamu terhadapnya. Kamu harus bisa membimbingnya dan juga menyayanginya. Begitu juga sebaliknya, dia juga harus memahami kamu dan juga membimbing kamu," sahut Budiman yang turun dari tangga sambil membawa koper.


"Kalau enggak ada semuanya?" tanya Andara.