
"Aku mendapatkan firasat kalau ibu Tia akan diculik," jawa Tio yang merasa geram.
"Kenapa ini terjadi?" tanya Adinda.
"Aku enggak tahu kenapa?Makanya aku kok enggak enak ketika meninggalkan rumah," jawab Budiman.
"Jalan lagi kak. Kita akan bertemu di pintu masuk tol bandara," pinta Adinda.
Tio langsung menuruti keinginan Adinda. Ia segera menancapkan gasnya dan meninggalkan tempat itu. Di dalam perjalanan Adinda langsung memberitahukan dirinya akan berhenti di pintu masuk tol menuju ke bandara ke Faris.
Sementara itu Faris yang sedang panik langsung mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan ruangannya. Ketika menuju ke ruangannya Herman, Faris menabrak Malik dan Andra. Untung saja mereka tidak saling tabrakan.
Bugh.
"Kamu itu jalan pelan-pelan apa," ucap Malik yang memperingatkan Faris.
"Aku sedang panik. Ibu diculik sama seseorang yang menginginkan tender," ujar Faris yang menunduk sedih.
"Dimana Herman?" tanya Malik.
"Aku berada disini," seru Herman yang memakai jaketnya.
"Syukurlah," ucap Malik.
"Apakah Adinda sudah terbang?" tanya Herman.
"Belum sama sekali. Dia masih di jalan," jawab Faris. "Kita ditunggu di pintu masuk tol yang menuju bandara."
"Ayo kita kesana," ajak Herman.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan SM Company. Di dalam perjalanan menuju ke tol yang dimaksud oleh Adinda.
"Apakah kamu sudah memanggil Irwan atau Roni?' tanya Malik.
"Aku berani melakukannya. Karena mereka mengancam jika memanggil polisi, ibu akan dibunuh," jelas Faris.
Jujur saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terdiam dan memilih untuk berkumpul bersama Adinda.
"Ini sangat gila sekali. Hanya karena tender sebanyak tujuh triliun, kenapa Kak Tia bisa diculik!" geram Herman.
"Semuanya ini karena memiliki hati iri dengki. Disaat Adinda meraih kesuksesan, Gilang langsung menjegal langkah Adinda. Sementara perusahaan Gilang sendiri perusahaannya bukan berada di bidang makanan. Ini sangat aneh sekali," jelas Malik yang juga merasa geram.
"Apakah ayah akan menyalahkan Adinda?" tanya Faris.
"Sebenarnya masalah ini adalah masalah yang cukup rumit. Jujur kita tidak boleh menyalahkan Adinda. Karena Adinda sendiri sudah menorehkan sejumlah prestasi ke perusahaan yang cukup besar dan mendunia," jelas Andra.
"Kamu benar. Kita tidak bisa menyalahkan Adinda. Disini Adinda sering mengambil peran penting buat perusahaan. Aku sendiri merasa bangga memiliki seorang putri yang cerdik," ungkap Malik yang tersenyum manis sambil mengingat momen yang indah ketika menggendong Adinda masih kecil.
"Apakah kamu sudah menyiapkan beberapa orang yang akan membantu penyergapan anak buah Gilang?" tanya Herman.
"Tenang saja. Kali ini aku akan menghajarnya memakai tangan kosong," ucap Andra yang masih fokus membawa mobilnya.
Sementara itu Tia membuka matanya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing sekali. Lalu ia mencoba menggerakkan kedua tangannya. Namun tangan kakinya terikat oleh tali.
"Aku dimana?" tanya Tia yang berbaring di lantai.
Tia mengingat sesuatu setelah berangkat bekerja. saat itu dirinya berada di dalam mobil menuju ke kamp tukang masaknya. Ketika Pak Gono berjalan lurus, ada mobil yang menghadang mereka. Dengan terpaksa mereka berhenti dan membiarkan mobil itu juga berhenti.
Tidak lama ada beberapa orang yang keluar dari mobil itu. Ia meminta Pak Gono pergi meninggalkan mereka. Tia pikir orang-orang itu adalah orang biasa. Namun nyatanya tidak, mereka memakai baju serba hitam dan memakai topeng.
Seketika orang-orang itu menghancurkan mobil itu dan berteriak keluar! Tidak hanya sekali, mereka berkali-kali berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Mau tidak mau Tia dan Pak Gono keluar. Lalu ada seorang pria bertubuh kekar sebanyak dua orang. Mereka membawa sapu tangan yang sudah diberikan obat bius. Mereka serempak membekap Tia dan Pak Gono.
Mereka akhirnya membawa ke suatu tempat. Yang dimana Tia dan Pak Gono tidak tahu tempat apa itu.
"Kenapa menculik aku? Bisa-bisanya yang menculik adalah orang kurang kerjaan," kesal Tia menggerutu. "Mumpung perutku kenyang banget. Aku bisa menghajar kalian."
Itulah Tia sang ibunda Adinda. Mereka tidak tahu kalau yang diculiknya memiliki ilmu bela diri mumpuni. Bahkan Tia sendiri pernah meraih sabuk hitam untuk karate.
"Dimana putriku? Aku sudah lama tidak koloborasi bertarung bersamanya," tanya Tia yang mencari keberadaan Adinda.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Ada seorang wanita muda berjalan dengan angkuhnya. Wanita itu mendekati Tia dengan wajah yang diangkat.
"Halo Tia Fitriani," sapa wanita muda itu yang sengaja jongkok di hadapannya.
Tidak sengaja Tia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia lantas bertanya sambil mengingat nama wanita itu. Namun wajahnya tidak menunjukkan ketakutan apapun.
"Apakah kamu Netty?" tanya Tia yang mengerutkan keningnya.