Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 168



"Ya aku Netty," jawab Netty wanita itu.


"Kenapa kamu melakukan itu kepadaku?" tanya Tia.


"Karena aku ingin memancing putri kesayangan kamu itu. Kamu tahu, gara-gara putri kamu itu, keluarga aku menjadi sangat menderita," jawab Netty yang memegang dagu Tia tidak sopan dan mencengkeramnya dengan begitu kuat.


"Kamu itu bagaimana? Kamu itu harusnya mikir. Yang mendapatkan tender itu adalah Adinda. Dia bekerja dari pagi hingga malam. Kadang pagi lagi," ucap Tia. "terus kamu mau menyalahkan Adinda?"


"Ya memang salah. Seharusnya dia memberikan tender ke aku secara cuma-cuma. Jika dia memberikan tender itu secara cuma-cuma, maka keluargaku tidak akan menderita seperti ini," jawab Netty dengan penuh emosi.


"Sekarang aku ya? Kamu memang menjadi teman Adinda hanya demi menghancurkan impiannya? Kamu iri sekali dengan pencapaian Adinda yang selama ini didapatkan dengan kerja kerasnya. Ternyata kamu adalah perempuan bermuka dua. Dan satu lagi, kamu itu adalah kaki tangan Gilang. Yang dimana Gilang itu adalah musuh bebuyutannya. Pintar sekali anda," jelas Tia.


"Ya... aku memang sengaja mendekati Adinda. Itu hanya dmi mendapatkan aset perusahaan SM Company. Supaya aku bisa mengambilnya demi membayar hutang kepada Gilang. Keluargaku memiliki utang kepada dia," sambung Netty.


"Kamu gila. Kamu benar-benar gila. Aku tidak habis pikir sama kamu. Kamu mengambil aset orang lain demi membayar hutang? Untung saja Tuhan telah memperlihatkan kamu. Kalau mau bayar hutang usaha sendiri. Jangan pernah mengganggu orang lain. Bukankah kamu memiliki otak yang diberikan akal sehat?" tanya Tia.


Netty semakin marah kepada Tia. Ia segera bangun dan melayangkan kakinya tersebut. Ketika sedang berayun, ponsel Netty berdering cukup keras. Dengan terpaksa Netty mengangkat ponselnya itu dan menjauhi Tia.


Sementara Adinda sudah berhenti di pintu tol masuk ke arah bandara. Adinda bersama lainnya langsung turun sembari menunggu Malik.


Tak selang berapa lama, mobil yang ditumpangi Malik sudah tiba. Untung saja waktunya hanya beberapa menit saat Adinda telah berlalu.


"Apakah kamu tahu keberadaan ibu?" tanya Faris yang mendekati Adinda.


"Untung saja ibu memakai anting. Ibu berada di perumahan mau ke arah Tol menuju ke Jawa Tengah," jawab Adinda.


"Perumahan?" pekik Malik.


"Ya... aku memang mendapatkan informasi itu dari gps yang sengaja terpasang di anting ibu," jawab Adinda.


"Ayolah kita berangkat," seru Budiman yang tidak ingin berlama-lama.


Sebelum berangkat, Budiman mengambil alih kemudi. Budiman menyuruh Adinda untuk duduk di sampingnya. Sedangkan Tio, Tio duduk bersama Andara. Budiman menyuruh Tio untuk menenangkan Andara.


Di dalam perjalanan menuju ke lokasi, Budiman menancapkan gasnya. Budiman sudah sangat alih untuk membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi dirinya pintar sekali menyalip. Walau bagi orang lain hal itu sangat mustahil.


Adinda bersama Andara langsung mengucap istighfar berkali-kali. Karena mereka berdua sedang di uji adrenalinnya.


Bagaimana dengan Tio? tio sudah biasa. Jika Budiman yang sudah mengambil kendali kemudi. Ia hanya duduk tenang dan santai tanpa berkomentar apapun.


"Hentikan mobilnya! Kalau kamu tidak bisa menghentikan mobil ini. Kamu tidak akan mendapatkan jatah selama seminggu. Aku menghukum kamu tidur di luar bersama nyamuk!' perintah Adinda.


"Aku enggak penting soal itu. Yang aku pentingkan adalah nyawa mertuaku. Aku ingin menyelamatkannya," ucap Budiman. "Sekarang nyawa ibu dalam bahaya."


"Hmmmp... kamu belum tahu siapa Ibu Tia," ejek Adinda.


"Situasi apa?" tanya Budiman yang masih fokus dengan mobilnya.


"Situasi yang dimana aku masih belum menikah," kesal Andara.


"Sepertinya kamu harus menikah?" ledek Budiman.


Bukannya tegang, mereka malah bercanda. Mereka tidak merasa tegang dan membiarkan masalah ini berjalan seperti air mengalir.


Namun di dalam hati mereka sangat gelisah. Mereka berempat berdoa agar sang penjahat tidak menyakiti Tia.


Hampir satu setengah jam mereka keluar dari tol. Lalu mereka menuju ke tempat yang dimana Tia di sekap. Hingga akhirnya Adinda menemukan sebuah bangunan tua. Yang dimana bangunan tua itu berdiri di area pemukiman warga.


"Bukannya ini adalah pemukiman padat penduduk?" tanya Adinda.


"Sepertinya sih iya. Kok aku merasa curiga ya?" tanya Andara balik.


"Kamu curiga kenapa?" tanya Budiman yang sedang mengamati bangunan tua itu.


"Kamu masih ingat nggak Din? Dulu kita pernah ke sini bertepatan dengan lomba lari se provinsi. Terus tempat ini sengaja dijadikan titik berkumpulnya anak-anak yang mengikuti lomba. Dan tempat ini juga sering digunakan untuk konser-konser badan amal oleh perusahaan-perusahaan besar. Hampir tiga tahun, tempat ini sudah tidak pernah dipakai lagi. Istilahnya tempat ini sudah terbengkalai," jelas Andara yang membuat mereka terkejut.


"Sepertinya aku pernah ke sini. Dulu tempat ini juga sering dibuat festival-festival band. Khususnya band yang sedang happening banget pada zamannya dulu. Yang jadi pertanyaannya, Kenapa tempat ini dijadikan untuk menyekap ibu?" Tanya Tio.


"Inilah yang menjadi pertanyaan kita. Aku menemukan banyak pria yang memakai baju serba hitam. Sepertinya mereka itu dibayar untuk menjaga tempat ini. Lalu di belakangnya itu siapa ya kira-kira? Yang aku tahu, Gilang sudah berangkat ke Singapura tadi pagi. Kalau ada acara keluarga besar, Gilang tidak akan melakukannya," jawab Budiman. "Hubungi ayah. Agar bersiap-siap untuk menyergap tempat ini."


Adinda pun meraih ponselnya lalu menghubungi Malik. Namun untuk saat ini Malik berada di dalam perjalanan menuju ke sini. Ketika Adinda menghubunginya, yang mengangkat ponselnya itu adalah orang lain. Dirinya tahu kalau orang itu adalah asisten pribadinya sang ayah ketika mengajar sebagai dosen.


"Nggak bisa dihubungi sama sekali. Aku mau keluar saja dari sini," ucap Adinda. "Apakah kamu memiliki airsoft gun?"


"Buka saja dashboardnya. Aku selalu menyimpan pistol itu sebanyak tiga. Kamu bisa memakainya untuk menghabisi mereka," jawab Tio.


Adinda segera mengambil airsoft gun itu dan menyimpannya di belakang jaketnya. Adinda sudah terlatih untuk memegang senjata. Sedari remaja, Adinda sendiri sudah masuk ke dalam club menembak. Jadi jangan salah jika Adinda bisa mempergunakan pistol tersebut.


Begitu juga dengan Budiman. Budiman menyuruh Tio untuk tetap di sini. Budiman segera keluar dan menghampiri Adinda. Mereka dengan kompak masuk ke dalam area tersebut.


Saat masuk ke dalam area tersebut, banyak sekali para preman yang menghadangnya satu persatu. Adinda dan Budiman hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jujur untuk saat ini Adinda tidak ingin sekali bertarung. Tapi mau bagaimana lagi? Preman Itu sudah menantangnya dengan mata menyalang.


"Ketemu lagi deh sama orang-orang begini. Jujur aku bosan banget bertarung seperti ini. Rasanya aku ingin menghabisinya satu persatu," kesel Adinda di dalam hatinya.


Mau tidak mau Adinda menantang mereka satu persatu. Meskipun tubuhnya sangat mungil, Adinda memiliki gerak cepat. Saat para preman menghajarnya bersamaan, Adinda malah mengejeknya. Karena mereka tidak punya harga diri melawan perempuan secara bersamaan.


"Hai kau? Kau kau ini... Ternyata pecundang sejati. Mana ada orang bertubuh kekar sebanyak tujuh melawan perempuan yang memiliki tubuh mungil seperti ini? Kalian memang tidak ada gunanya sama sekali," tanya Adinda sambil mengejek mereka.