
Aku memang salah telah meremehkan Adinda begitu saja. Aku memang pria bodoh, yang di mana aku dibutakan oleh cinta palsu. Aku memang bukan pria yang sempurna. Jujur aku sendiri sangat tampan sekali. Semua orang menyebutku kalau aku memiliki wajah Eropa. Tapi aku sadar, wajah tampanku ini hanya bisa membuat semua orang kesal terhadapku.
Ketika dihantam badai begitu besarnya, jujur hidupku tidak berarti lagi. Untung saja malam itu aku sendiri pulang ke rumah dan melabrak Adinda. Karena Adinda telah membuat kesalahan buat Kanaya. Adinda sengaja membuat Kanaya ketakutan dengan isi kardus. Namun nyatanya Kanaya sendiri telah playing victim. Kanaya bilang Kalau Adinda sendiri telah menerornya. Aku memang percaya dengan omongannya itu. Akan tetapi malam itu Adinda memberitahukan siapa Kanaya sebenarnya. Dia sengaja memberikan aku map yang berisikan bukti-bukti tentang Kanaya. Aku membacanya dengan teliti dan masih tidak percaya. Akhirnya Adinda sendiri mengajakku untuk menemui Kanaya.
Kami sengaja pergi ke apartemen milikku. Di dalam perjalanan kami tidak berbicara sama sekali. Aku menyetir dan tidak berbicara apapun kepada Adinda. Tak selang berapa lama kami sampai dan langsung turun ke lobi. Ketika sudah sampai ke lobi, aku tidak sengaja melihat Kanaya bersama Gilang. Mereka berpelukan layaknya suami istri. Betapa hancurnya hatiku saat itu. Malam itu juga aku memutuskan untuk menculik Adinda. Aku ingin menyakitinya sebagai pelampiasan amarahku. Tapi memoriku berputar di masa lalu. Aku melihat Adinda yang masih polos dan teringat akan janjiku itu. Janji di mana Adinda akan aku jadikan sebagai istri masa depanku. Lalu aku memilih untuk tidak menyakitinya dan membiarkan saja. Di sana Adinda tidak berontak ataupun pergi dariku. Malahan Adinda mendampingiku hingga menyembuhkan luka hati yang telah tertusuk oleh pisau Kanaya. Kejadian itulah yang membuat aku mau menerima Adinda dengan tulus.
Setelah kejadian itu, Kanaya berani menampakkan dirinya di hadapanku. Aku sudah muak melihat Kanaya dan ingin melemparkannya dari jendela. Tapi aku memiliki kesabaran yang masih bisa dihitung oleh jari. Aku biarkan saja Adinda dan Kanaya bersilat lidah. Di situlah semuanya terbongkar satu persatu. Aku baru menyadari kalau diriku telah kehilangan teman baik. Dia adalah Rizal. Rizal adalah seorang pria yang cukup baik dan mengingatkanku pada Kanaya. Dia selalu memberikan peringatan agar tidak terlalu lekat oleh Kanaya. Memang sakit hati ini ketika telah kehilangan sosok Rizal. Entah bagaimana aku tidak tahu dan tidak terpikirkan oleh apapun itu. Ketika semuanya terbongkar, Kanaya mengakui hubungannya dengan Gilang. Namun dirinya juga menginginkanku sebagai kekasih hatinya. Langsung saja yang namanya Adinda membongkar kembali siapa dirinya sebenarnya di hadapanku. Ternyata selama ini mereka berdua telah bersekongkol untuk membuatku hancur. Kanaya berada di perintah Gilang. Jujur aku tidak terkejut lagi soal itu. Aku memang sudah merekam isi map yang diberikan oleh Adinda. Cara kerjanya hampir sama dengan wanita malam yang merayu pria hidung belang agar memberikan uangnya demi membayarnya dengan mahal. Betapa bodohnya diriku ini. Kenapa juga aku tertipu olehnya.
Selesai kejadian itu, aku masih membiarkan Adinda tinggal di apartemen mewahku. Aku sengaja mengambil mahkotanya tanpa paksaan apapun. Adinda telah memberikannya dengan sukarela. Adinda juga tidak berontak dan tidak marah sama sekali. Seharusnya Adinda marah kepadaku. Namun nyatanya Adinda malah bahagia. Pertama kali yang aku rasakan Adinda masihlah gadis yang sangat suci sekali. Aku sangat malu sekali mendapatkannya. Karena aku sendiri bukanlah pria perjaka. Aku pernah sering melakukannya dengan Kanaya. Setelah melakukan hubungan itu, rasanya aku ingin menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Akan tetapi Adinda memberikan kode agar aku tidak menyesalinya.
Hari-hari setelah itu, aku merasa sangat spesial di mata Adinda. Aku sudah tidak memperdulikan lagi tentang Kanaya. Diam-diam aku juga menyelidiki Gilang bersama Kanaya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Ternyata mereka sudah menikah secara sah di mata hukum maupun agama. Tapi kenapa Gilang membiarkan istrinya bersamaku? Inilah yang masih menjadi pertanyaan di dalam hatiku. Untung saja di London sana Aku memiliki kenalan seorang mata-mata yang bekerja untuk negara. Aku memintanya untuk menyelidikinya lebih dalam lagi. Dan hasilnya sungguh sangat mencengangkan. Jangankan aku, masih banyak lagi Gilang ataupun Kanaya yang ingin menghancurkan hidup orang lain tanpa dosa. Syukurlah, perusahaanku sekarang aman berada di tangan Adinda.
Aku tidak percaya kalau Adinda memiliki saham sebesar 30%. Lalu aku sengaja mencari sumber dari mana istriku mendapatkannya? Selama ini uang yang didapatkan istriku dari zaman sekolah sengaja untuk membeli saham di mana-mana. Istriku sangat pandai berinvestasi dalam bentuk saham di berbagai perusahaan. Kalau diuangkan bisa-bisa aku kalah telak. Sepertinya aku akan belajar bisnis dari istriku sendiri. Bagaimana bisa dirinya mengumpulkan saham sebanyak itu? Tapi aku bangga sekali kepada istriku. Aku malah menaruh hormat atas kegigihannya dalam dunia bisnis. Memang tidak bisa diremehkan sama sekali oleh siapapun. Memang sedari dulu Adinda mulai belajar berbisnis dari sejak kecil. Itulah yang membuat aku menaruh hormat kepada Adinda. Aku sendiri tidak minder dalam masalah keuangan. Aku sebagai pria harus bisa mencari uang membiayai istriku dan juga anak-anakku. Itulah harapanku sekarang ini.
“Sudah malam,” ucap Adinda.
“Boleh nggak aku bertanya sesuatu kepadamu?” tanya Budiman.
“Ngapain sih kalau mau nanya mesti minta izin dulu?” tanya Adinda balik.
“Memangnya ada apa dengan masalah itu? Aku tidak marah sama kamu. Seharusnya aku mendampingimu sampai masalahmu selesai. Aku tidak memperdulikan Jika kamu marah dan memakiku saat itu juga,” ucap Adinda yang sengaja memberitahukan Kenapa dirinya membantu menyembuhkan rasa sakit hati Budiman.
“Masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah ketika aku mengambil sesuatu yang penting dari dalam tubuhmu. Kamu tidak marah sama aku?” tanya Budiman yang masih tidak enak hati mengingat kejadian Masa lalu itu.
“Kamu ini ada-ada saja. Bener juga ya. Seharusnya aku melapor kepada polisi. Agar kamu ditangkap dengan kasus pelecehan,” ujar Adinda yang membuat Budiman tepuk jidat.
“Itu bukan pelecehan sayangku. Itu adalah kasus pemerkos*an. Ya seharusnya kamu lapor jika semuanya telah hilang dari dalam tubuhmu,” jelas Budiman.
“Memangnya harus ya lapor kepada pihak kepolisian? Ujung-ujungnya kamu malah ditangkap dengan laporan konyol itu. Nanti kalau kamu viral bagaimana? Seorang pengusaha besar telah memperk*sa seorang gadis yang tidak berdosa sama sekali. Lalu bagaimana pendapat tentang kepolisian akan hal itu?” tanya Adinda sambil menatap wajah Budiman.
“Bener juga ya? Seharusnya aku tidak menanyakan akan hal itu. Kalau itu terjadi maka reputasiku buruk seketika,” jawab Budiman.
“Apalagi diriku adalah seorang content creator dalam dunia bisnis. Nanti kamu malah dihujat oleh pengikutku,” ucap Adinda yang terkekeh melihat Budiman.
“Lalu aku harus ngapain?” tanya Budiman.