
Tepat jam 20.00 Tio bersama pihak kepolisian mendatangi Adinda. Sebelum masuk ke dalam, Tio lebih dulu masuk ke dalam. Lalu Tio melihat Budiman yang selesai makan. Ia mendekati Budiman dan memberitahukan ada pihak aparat di depan. Sontak saja Budiman terkejut. Budiman segera mendekati Adinda lalu berkata, "Di depan ada pihak kepolisian. Mereka ingin meminta keterangan atas ditemukan seorang penyusup."
"Enggak apa-apa. Lebih baik disuruh masuk saja."
Ucap Adinda yang menatap Tio.
"Kamu enggak apa-apa?"
Tanya Budiman yang mendekati Adinda.
"Enggak apa-apa kali. Lagian aku adalah saksi kunci dari pembunuhan ini."
Jelas Adinda yang mentaati hukum.
"Suruh mereka masuk ke dalam!"
Perintah Budiman.
Tio menganggukan kepalanya lalu keluar dari kamar Adinda. Ia menyuruh pihak kepolisian masuk untuk bertemu dengan Adinda. Ia membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk terlebih dahulu.
Tak lama Kevin datang dari arah belakang. Ia menepuk bahu Tio sambil berkata, "Ada polisi."
"Mereka ingin meminta penjelasan tentang kasus suster gadungan tersebut."
Jawab Tio.
"Untung saja barang buktinya belum aku buang."
Celetuk Kevin.
"Syukurlah."
Ucap Tio sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Mereka akhirnya masuk ke dalam. Mereka meminta Adinda menceritakan kronologi kasus itu. Adinda dengan lancar menceritakan semua kronologi berita tersebut. Pihak kepolisian tersebut merekam semuanya. Hingga pihak kepolisian mengantongi barang bukti tersebut
Hampir satu jam pemeriksaan selesai. Adinda sangat lega dan pihak aparat langsung mengambil barang bukti tersebut. Setelah itu pihak kepolisian memutuskan untuk pergi.
Melihat kepergian pihak aparat, Budiman mengaku lega. Ia sangat bersyukur sekali kasus ini ditangani dengan baik. Ia tidak pernah menyangka, kalau Adinda sekarang hidupnya dalam bahaya. Ia juga menyesal pulang terlambat. Jika saja ia pulang terlebih dahulu, kemungkinan perempuan itu tidak akan masuk ke dalam.
"Masalah ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian. kamu tenang saja. Minta sama Herman untuk menangani kasus ini."
Pinta Kevin yang memberikan saran kepada Budiman.
"Aku juga begitu. Nanti kalau dalam tahap serius aku akan memintanya."
Sahut Budiman.
"Apa kamu yakin? Siapa tahu dia masih ada komplotannya Kanaya."
Tambah Kevin yang memiliki firasat tentang kasus ini.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Beberapa saat kemudian, datang Faris bersama Herman. Kedua pria itu masuk ke dalam sambil mendekati Adinda. Lalu Herman mengerutkan keningnya dan mendekati Kevin. Ia merasakan ada yang tidak beres di rumah sakit ini.
"Ada apa?"
Tanya Herman yang menepuk Kevin.
"Soalnya aku tadi berpapasan dengan Roni di depan."
"Siapa itu Roni?"
Tanya Kevin yang memadai bingung.
"Lu enggak tahu siapa dia?"
Tanya Herman sambil memandang wajah Tio, Budiman dan Kevin.
"Gue enggak tahu."
Jawab Kevin yang menggelengkan kepalanya.
"Dia teman kita saat SMA. Dia sekarang menjadi polisi. Yang tadi itu Roni."
Ucap Herman yang merasa aneh kepada Kevin.
Tanya Kevin yang membuat Budiman terkejut.
"Iya dia teman kita."
Jawab Herman yang memberikan senyuman lucu.
"Budiman! Kamu enggak mengenalnya!"
Tanya Herman.
"Beneran gue enggak ingat."
Jawab Budiman yang benar-benar tidak ingat sama sekali.
"Kalau begitu sayang banget. Ya sudah dech.. kapan-kapan gue akan membuat reuni sekolah."
Jelas Herman yang menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Oh, aku jadi ingat dia. Bukankah Kak Roni sering banget nginep di rumah kita?"
Tanya Adinda yang menatap wajah Herman lalu mendapatkan anggukkan.
"Ya kamu benar. Roni memang sengaja menginap di rumah kita demi memburu jam sekolah. Julukan dia sering banget telat. Terus gue bilang, Kenapa nggak tinggal di sini aja?"
Jelas Herman yang kenal betul sama Roni.
"Jangankan Kak Roni. Tuh Kakak paling ngeselin banget."
Tunjuk Adinda ke arah Budiman.
"Dia juga sering nginep kok di rumah. Tapi kalau bertemu sering banget membuat kerusuhan antara aku dan dia."
"Apa Lo ingat tentang masa lalu ketika berada di rumah gue?"
Tanya Faris yang membuat Budiman terkejut.
"Ingatlah. Kenapa gue nggak ingat? Lagian juga gue selalu membuat ulah sama Adinda. Eh.. sekarang dia jadi bini gue."
Plakkkkkk.
'Ya iyalah karena lu terpaksa. Coba lu nggak terpaksa. Lu nggak bakalan hidup sama adik gue!"
Kesal Faris kepada Budiman yang diiringi galatawa seluruh ruangan tersebut kecuali Adinda tidak berani tertawa kencang-kencang.
"Ya sudah deh. Lebih baik kita pulang. Jam sudah malam banget. Oh iya Din.. cepet sembuh ya.. perusahaan butuh loh."
Pamit Faris sambil memberikan pesan kepada Adinda.
"Insya Allah. Kirimin saja semua pekerjaan ke emailku. Nanti aku suruh kak Budiman membelikan ponsel baru."
Ucap Adinda yang meminta Budiman untuk memberikan ponsel baru.
"Kamu nggak perlu ponsel baru. Ponselmu masih ada di dalam mobilku. Nanti akan aku ambilkan."
Sahut Budiman yang sadar ponselnya Adinda berada di dalam mobilnya.
"Ya sudah deh Kak. Nggak apa-apa. Lagian juga ponsel itu masih bisa terpakai."
Ujar Adinda yang benar-benar sayang dengan ponselnya itu.
Setelah itu Herman bersama Faris dan juga Kevin pergi meninggalkan mereka. Ketika saudara itu tidak bisa lama-lama karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk. Faris dan Herman sengaja ke rumah sakit untuk menanyakan keadaan Adinda. Mereka sangat lega ketika Adinda baik-baik saja. Untung saja masalah Adinda tentang suster penyusup sudah selesai. Budiman memang melakukan tugasnya sebagai suami sangat cepat. Ia akan melindungi Adinda dengan sepenuh hati.
Melihat kepergian Adinda, Budiman menatap wajah Adinda. Ia sangat bersyukur karena luka Adinda baik-baik saja. Ia berharap agar Adinda cepat keluar dari rumah sakit.
di dalam pesawat, Kanaya mendapatkan sebuah info dari anak buahnya. Dia menceritakan kalau anak buahnya tertangkap oleh pihak kepolisian. Kanaya sangat kesal sekali dan mengepalkan kedua tangannya. Ternyata Adinda masih hidup sampai sekarang. Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk sementara waktu. Ia harus diam terlebih dahulu. Agar dirinya bisa merancang rencana untuk membunuh Adinda maupun Budiman.
Kenapa Budiman dibunuh? karena kalengnya sendiri sudah mendapatkan perintah dari Gilang. Bahwa Budiman harus cepat-cepat dibunuh. Gilang tidak mau kalau Budiman tetap hidup dan berkeliaran di muka bumi ini.
Akan tetapi, Gilang tidak tahu kalau Budiman sekarang dikelilingi oleh orang penting. Budiman sekarang bertemu dengan teman lamanya yaitu Roni. Yang di mana Roni sendiri adalah seorang polisi. Terus Budiman memiliki seorang pengacara. Dia bernama Herman. Ditambah lagi Irwan.
Irwan adalah anggota kepolisian juga. Tapi bedanya, Irwan adalah seorang perwira. Yang di mana Irwan sendiri sering sekali menyembunyikan identitasnya. Irwan adalah memiliki tugas yang berat di lapangan. Jika dia sedang tidak bertugas. Irwan memilih untuk menjadi ojek online. Namun dirinya juga tidak lepas dari jalanan. Meskipun begitu Irwan memiliki mata elang yang tajam.
"Kok Aku tadi nggak melihat Kak Irwan ya?"
Tanya Adinda yang tidak melihat Irwan sama sekali.