
Semua orang tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Adinda. Mereka juga sadar aksi oleh wanita paruh baya itu. Sedari tadi wanita itu hanya bermain game online dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan para peserta rapat.
Mereka pun akhirnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Adinda.Mereka juga balik menyerang wanita tersebut.
Sebelum terjadi penyerangan, Adinda maju ke depan. Ia menjelaskan kinerja tentang Budiman yang selama ini sudah dipantau. Mulai dari sekecil yang Budiman kerjakan, Adinda tahu semuanya.
Namun wanita itu tidak terima apa yang didengarkan oleh Adinda. Ia tetap bersikukuh dan akan melengserkan Budiman dari jabatannya.
Tekanan demi tekanan wanita itu menyerang Budiman. Ia malah ngegas dan akan memenjarakan Adinda jika tetap saja membela Budiman. Ia tidak akan membiarkan Adinda berkata berbicara dengan sesuai fakta. Namun ia tidak menyadari kalau di dalam ruangan itu ada Herman. Seorang pengacara memilih diam dan melihat kondisi rapat seperti anak sekolah. Ia sudah menyuruh mata-matanya untuk mencari informasi tentang wanita itu.
Tepat jam dua belas moderator menghentikan rapat itu hingga esok hari. Karena kali ini rapat tidak bisa membuahkan hasil apapun. Adinda juga sangat menyetujui apa kata moderator.
Seluruh orang yaang berada di sana memutuskan untuk pergi. Mereka juga muak dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu katakan. Mereka akan menganalisis pekerjaan Budiman dan memutuskan apa yang telah terjadi saat ini.
"Din," panggil Budiman.
"Ada apa kak?" tanya Adinda yang kusut.
"Kenapa kamu kusut seperti itu?" tanya Budiman balik yang mengulurkan tangannya.
"Kakak mau aku makan sekarang juga?" tanya Adinda dengan kesal.
"Janganlah seperti itu. Kalau kamu mau makan aku, bagaimana aku mau membuat bayi yang sangat lucu dengan kamu?" tanya Budiman yang membuat Adinda tersenyum manis.
"Ealah... kalian sudah cocok jadi mak sama bapak. Kalau kalian memiliki seorang anak, berarti aku menjadi kakek yang sangat kece sekali kan," kesal Herman yang melihat Adinda lalu berdiri.
"Oh... ya... kok aku baru saja ingat tentang apa yang telah paman kami bicarakan. Ya jelaslah... paman akan menjadi kakek," jelas Adinda.
"Din," panggil Herman yang membereskan pekerjaannya.
"Ada apa paman?" tanya Adinda sambil menoleh ke arah Herman.
"Kamu harus berhati-hati. Kamu tahu siapa dia?' tanya Herman.
"Dia adalah ibunya Gilang. Namanya Gina. Dia sangat berambisi sekali ingin melengserkan Kak Budiman dari kursi jabatannya. Aku tidak tahu pasti kenapa orang seperti itu ngotot sekali membuat Kak Budiman lengser," jawab Adinda yang sudah tahu lebih dulu.
"Baguslah kamu tahu siapa dia sebenarnya," jelas Herman.
"Aku sebenarnya enggak jadi masalah kalau lengser. Tapi aku tidak akan membuat orang-orang yang telah menghancurkan hidupku bahagia. Aku sudah mengincar mereka untuk membuatnya menderita. Terutama kepada kedua orang tuaku sebenarnya," jelas Budiman yang memiliki dendam kepada mereka.
"Sepertinya aku akan mengajari kamu membalas dendam secara elegan?" celetuk Adinda.
"Setuju aku. tanpa ada kekerasan sedikitpun. Kalian bisa menjadi seorang kejam dalam kepemimpinan. Serang mereka dari belakang. Aku akan meminta Faris untuk berdiri di belakangmu," jelas Herman yang mendukung keputusan Adinda.
"Tapi enggak sekarang. Aku sudah lapar. Ayo keluar dari sini. Suasana rapat tidak menyenangkan sama sekali," ajak Budiman.
"Sepertinya kalian butuh healing?' tanya Herman.
Adinda membawa semua perlengkapannya lalu menarik tangan Budiman. Ia sengaja menculik Budiman untuk menemaninya ke pantai.
"Biasanya pria yang menculik perempuannya untuk mengadakan healing ke pantai. Sekarang aku yang akan menculik kamu pergi ke pantai,' ucap Adinda.
"Sepertinya itu sangat mengasyikkan sekali," celetuk Budiman yang tersenyum.
Budiman malah menjadi penunjuk jalan menuju ke basemant. Ia tidak marah sama sekali pada Adinda. Ia hanya tertawa sepanjang perjalanan. Hingga para karyawan dan karyawatinya merasakan kalau bosnya sedang bahagia.
Kartolo yang baru saja sampai di rumah mendengar berita tentang perusahaannya. Ia sangat geram sekali kepada Gina. Wanita itu yang telah menghancurkan putranya hingga berantakan hadir dalam meeting itu.
"Kenapa kamu datang-datang cemberut begitu?" tanya Kamila yang menyambut kedatangan Kartolo.
"Kamu tahu rapat kali ini Adinda datang ke perusahaan. Karena yang kita tahu Adinda pemegang saham terbesar di perusahaan kita sebesar tiga puluh persen," jawab kartolo yang melepaskan jasnya dan memberikannya ke Kamila.
"Bagus itu. Kita bangga memiliki menantu yang sangat cerdas sekali seperti Adinda. Lalu apa salahnya?" tanya Kamila yang menerima jas itu dan meraih dasinya Kartolo.
"Masalahnya bukan itu," jawab Kartolo yang menghempaskan bokongnya di sofa empuknya.
Kamila menaruh jas beserta dasinya ke sofa singel. Ia segera berlari ke dapur untuk mengambilkan air segelas buat Kartolo. Ia lalu kembali dan menyodorkan gelas itu ke arah Kartolo, "Lalu apa masalahnya?"
"Masalahnya adalah Gina bersama Gandi datang dalam rapat itu. Mereka tidak memperhatikan rapat itu. Tapi mereka menyerang Budiman secara bertubi-tubi. Lalu Adinda juga memberitahukan hasil kinerja milik Budiman dari kecil hingga besar," jelas Kartolo yang mengambil gelas itu dari tangan Kamila. "Sementara itu pekerjaan milik Budiman sangat baik sekali. Ini analisis dari Adinda.meskipun dia sibuk. Dia selalu memperhatikan pekerjaan Budiman."
"Sepertinya itu tidak beres sama sekali," celetuk Kamila.
"Memang benar. Ada yang tidak beres sama sekali selama rapat terjadi," ucap Kartolo yang membetulkan ucapan Kamila lalu menegak air itu hingga tandas.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Kamila yang menatap Kartolo.
"Semua keputusannya berada di tangan Adinda dan Herman. Karena kedua orang itu adalah pemilik saham terbesar di perusahaan Njawe Groups," jelas Kartolo yang menaruh gelas itu di atas meja.
"Apakah mereka bisa melengserkan Budiman dari kursi CEO?" tanya Kamila yang sengaja duduk di samping Budiman.
"Hmmmp..... tergantung pada mereka. Aku hanya menyetujui tentang keputusan mereka," jelas Kartolo.
"Mereka enggak sekejam itu. Kalau mereka kejam sudah sedari dulu Budiman dari kursi CEO. Lagian Adinda gak pernah tahu apa yang telah dilakukan oleh Budiman selama di kantor," ujar Kamila.
"Adinda enggak sebodoh itu. Adinda sendiri adalah orang yang sangat cerdas. Dia memang sudah mengetahui pekerjaan Budiman sebelum menikah.Jadi Adinda sendiri sudah melihat dengan kepala matanya sendiri,' jelas Kartolo yang membela Adinda.
"Semua hasil pekerjaan sudah sangat transparan. hanya para pemegang saham bisa mengakses pekerjaan Budiman secara gamblang. Dia tahu titik kelemahannya Budiman," tambah Kartolo.
"Jadi Adinda?" tanya Kamila.
"Menantu kita bukan menantu sembarangan. Dia sudah memiliki banyak keahlian.Yang dimana keahlian itu bisa membuat orang-orang tidak bisa berbicara sama sekali di hadapannya," jelas Kartolo. "Jadi masalah ini harus diselidiki sampai tuntas. Aku yakin ada campur tangan antara Gilang saat rapat berlangsung."
"Akankah ada perang Gilang bersama Adinda?" tanya Kamila.