Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 178



"Ya aku serius. Aku ingin mengabdikan diriku untuk menjadi istri yang baik buat kamu," jawab Yuki.


Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu yang sangat kencang. Kemudian Yuki melepaskan pria tersebut dan membuka pintu. Ia melihat ada seorang pria yang sedang memakai baju serba hitam. Yuki menyuruhnya untuk masuk ke dalam.


"Masuklah ke dalam," suruh Yuki.


Pria itu masuk ke dalam dan menatap suami Yuki. Sebelum berbicara pria itu membubuhkan badannya lalu menyapanya, "Selamat malam Tuan Rizal."


"Ya ada apa?" tanya Rizal nama pria itu. "Ada berita apa?"


"Saya telah menemukan Gilang dan keluarganya. Mereka menginap di hotel ini. Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarga Tuan Budiman," jawab pria itu.


"Amar, ceritakan padaku Ada apa sebenarnya?" tanya Yuki.


"Besok malam pesta pernikahan kakak angkat anda akan dilaksanakan di ballroom hotel ini. Lalu keluarganya Gilang sudah mencari sekutu untuk menghancurkan keluarga Tuan Budiman. Jadi, ajang pernikahan ini akan menjadi penghancuran ketiga keluarga yang sudah ditentukan oleh Gilang," jawab Amar nama pria itu.


"Oh bukannya semakin menarik saja ya. Kalau begitu siapkan pasukan khusus untuk menangkap mereka semuanya!" perintah Rizal.


"Kapan kamu akan menangkapnya?" tanya Yuki sambil menatap Rizal.


"Pokoknya siapkan saja. Nanti akan aku beritahu Kapan waktu yang tepat untuk menangkap mereka," jawab Rizal.


"Siap Tuan!" sahut Amar yang membungkukkan badannya setelah mendapatkan perintah.


"Sebelum kamu pergi. Cari yang namanya wanita yang bernama Adinda dan juga pria yang bernama Budiman. Aku ingin kamu membawanya ke sini dengan cara yang baik. Mau kamu melukainya sedikitpun!" titah Rizal.


"Siap Tuan," balas Amar. "Kalau begitu saya undur diri dulu melaksanakan perintah dari tuan."


"Pergilah. Waktu kamu hanya satu jam mulai dari sekarang," perintah Yuki yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Adinda.


Amar pun segera pergi meninggalkan kamar hotel itu. Mereka yang melihat Amar pergi hanya bisa tersenyum bahagia. Yuki segera mendekati Rizal lalu bertanya, "Apakah kamu melibatkan mereka untuk penangkapan Gilang dan keluarganya?"


"Ya aku sengaja melibatkan mereka. Kamu tahu kalau Budiman itu adalah korban Dari Gilang dan juga Kanaya. Aku juga harus menemui Adinda untuk meminta maaf atas kejadian pada Masa lalu itu," jawab Rizal yang menatap mata Yuki. "Aku harap kamu nggak cemburu sama Adinda nanti."


Sementara itu Adinda dan Budiman sedang menikmati makanan ringan. Mereka sengaja tidak mengisi perutnya dengan makanan yang berat. Mereka sedang menikmati indahnya kota Singapura.


"Kamu pernah ke sini?" tanya Budiman.


"Kapan ya terakhir ke sini? Kalau nggak salah sih lima tahun yang lalu. Itu juga bersama Andara," jawab Adinda sambil memakan kuenya itu.


"Berapa hari kamu ke sini?" tanya Budiman lagi.


"Kurang lebih sepuluh hari kayaknya. Soalnya aku sendiri lupa," jawab Adinda.


"Bagaimana kalau kita berbulan madu ke sini?"


"Ngapain ke sini?"


"Bulan madu itu kalau buat aku hanya pindah ranjang saja."


"Maksud kamu?"


"Karena kalau waktunya bulan madu para pria sering menahan istrinya untuk tidak keluar dari hotel. Mereka disuruh melayaninya hingga para pria sangat bahagia sekali."


"Tau aja sih kamu itu. Kamu belajar dari mana?" tanya Budiman sambil menahan tawanya.


"Ya tahulah. Memangnya aku nggak memiliki banyak teman apa? Kadang-kadang aku sharing sama ibu dan ayah. Kadang hal sekecil apapun yang menurut masyarakat tabu. Aku tanyakan saja kepada mereka. Agar aku mendapatkan pencerahan," jawab Adinda.


"Bener juga apa katamu. Lebih baik kita sharing kepada orang tua. Karena kalau bersama mereka tidak ada beban yang mengganjal dalam hati. Aku rasa kamu sangat akrab sekali kepada mereka," puji Budiman.


"Memang aku sangat akrab dengan mereka. Aku memang sengaja untuk mempererat tali itu dengan sangat kuat. Karena mereka merawatku dari kecil hingga sekarang ini," ucap Adinda yang berhenti sambil melihat Andara dan juga Tio.


"Lihatlah mereka," suruh Budiman.


"Mereka sangat akrab sekali. Apakah kamu merestui mereka?" tanya Adinda yang serius dengan hubungan Tio dan juga Andara.


"Kalau Tio mencintai Andara Kenapa tidak. Sejak SMA aku sudah mengetahui kalau Andara menyukai Tio. Begitu juga dengan Tio. Dia juga mencintai Andara. Aku sering memergokinya jalan bersama," jawab Budiman.


"Bagaimana kalau kita memberikan tiket untuk mereka menikah?" tanya Adinda.


"Sekarang masalah terbesarnya adalah di keluarga Tio. Sedari dulu keluarga Tio sudah mengenal keluargaku sendiri. Bapaknya Tio bekasnya tukang kebun keluargaku sendiri. Ibunya adalah kepala pelayan keluargaku. Mereka sudah keluar ketika Tio bekerja di perusahaanku. Saat kami berbicara dengan serius tentang hubungan percintaannya. Kedua orang tuanya melarang untuk menikahi Andara. Semuanya ini karena status sosial. Takutnya nanti keluarganya Tio menjadi bahan gunjingan. Itulah sebabnya Tio sendiri masih ragu untuk melangkah lebih jauh lagi," jelas Budiman yang mencurahkan isi hatinya itu.


"Hanya masalah status sosial. Bener sih apa yang dikatakan oleh ayah. Sebenarnya nggak ada masalah kalau si kaya menikahi si miskin. Yang penting adalah cinta dan kebersamaan. Meskipun miskin orang itu pasti memiliki tekad yang kuat untuk membahagiakan anak istrinya kelak," ucap Adinda.


"Kalau aku jadi orang miskin kamu bagaimana?" tanya Budiman yang sengaja mengetes Adinda. "Apakah kamu akan meninggalkanku?"


"Kalau kamu mau berusaha dan membahagiakanku. Lalu kamu memiliki tekad yang kuat dan membangun rumah tangga ini dengan baik. Kenapa tidak? Lagian cinta itu tidak memandang status sosial. Banyak teman-temanku seperti itu. Mereka tidak memiliki beban di dalam hatinya masing-masing. Mereka tetap enjoy untuk menggenggam pasangannya dan mengatakan kepada dunia. Kalau status sosial itu tidak penting. Kalau kamu menikah, Apakah kamu akan membawa aset keluargamu itu? Tentu tidak. Kita nggak bawa apa-apa lalu belajar mandiri dari nol. Di situlah kita membangun hidup rumah tangga yang sangat indah. Meskipun ada batu kerikil atau bongkahan batu besar. Kita harus melewatinya satu persatu," jelas Adinda yang dirinya tidak ingin memandang status sosial orang lain.


"Memang kamu juara banget ya. Aku baru sadar kalau kamu adalah wanita yang sangat hebat sekali. Saking hebatnya kamu nggak pernah mengeluh tentang status sosial. Yang di mana status sosial sekarang sedang dibicarakan oleh banyak orang," ucap Budiman.


"Kamu memuji atau ada hal lain?" tanya Adinda.


"Bisakah nanti malam kita memproduksi seorang anak perempuan atau laki-laki?" tanya Budiman yang sengaja menawarkan diri.


Sebelum menjawab, Adinda berhenti dan melihat ada seorang pria berdiri di hadapannya. Ia mengerutkan keningnya dan menatap wajah Budiman.


''Kamu ke sini bawa siapa?" tanya Adinda.


"Nggak bawa siapa-siapa. Aku ke sini hanya mengajakmu," jawab Budiman dengan jujur.


"Lalu dia siapa?" tanya Adinda sambil nunjuk pria itu.